KABARBURSA.COM - Struktur kepemilikan saham PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) memperlihatkan komposisi yang terkonsentrasi dengan dominasi pemegang saham strategis dan institusi besar.
Data KSEI per 27 Februari 2026 mencatat PT Saratoga Investama Sedaya Tbk (SRTG) sebagai pemegang saham terbesar dengan porsi 19,37 persen atau 4,73 miliar saham. Posisi berikutnya diisi PT Mitra Daya Mustika sebesar 11,88 persen, Garibaldi Thohir 7,46 persen, serta PT Suwarna Arta Mandiri 5,46 persen.
Di luar kelompok pengendali, struktur kepemilikan juga diisi investor institusi dan entitas strategis lainnya. Hongkong Brunp & CATL Co., Limited menggenggam 4,93 persen, disusul Pemerintah Kabupaten Banyuwangi 3,98 persen, serta sejumlah institusi domestik seperti BPJS Ketenagakerjaan melalui program Jaminan Hari Tua sebesar 2,15 persen dan Jaminan Pensiun 1,41 persen.
Dalam komposisi ini, Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono tercatat memiliki 251,61 juta saham atau setara 1,03 persen, dan menempatkannya dalam kelompok pemegang saham di atas ambang 1 persen.
Struktur tersebut menunjukkan bahwa kepemilikan MDKA tersebar di antara pemegang saham strategis dengan porsi signifikan, serta institusi jangka panjang yang cenderung mempertahankan posisi.
Komposisi seperti ini membentuk karakter likuiditas yang relatif terjaga, namun tetap dipengaruhi oleh pergerakan dari pemegang saham besar.
Kinerja Operasional
Di sisi kinerja operasional, MDKA mencatat pendapatan tidak diaudit sebesar USD1,89 miliar atau sekitar Rp31,67 triliun pada 2025. Kontribusi utama berasal dari operasi emas di Tambang Tujuh Bukit yang memproduksi 103.156 ounces, dengan realisasi penjualan 104.168 ounces.
Harga jual rata-rata mencapai USD3.138 per ons, meningkat 32 persen secara tahunan, yang menjadi faktor utama dalam menopang kinerja.
Pada segmen tembaga, Tambang Wetar menghasilkan 10.454 ton sepanjang 2025, termasuk 2.990 ton pada kuartal IV. Selain itu, proyek Tembaga Tujuh Bukit menunjukkan perkembangan studi kelayakan yang mencakup perencanaan tambang, program metalurgi, serta optimalisasi proses pengolahan.
Proyek ini menjadi bagian dari pengembangan jangka panjang yang terintegrasi dalam portofolio MDKA.
Untuk 2026, target produksi emas berada pada kisaran 180.000 hingga 205.000 ounces, dengan kontribusi tambahan dari Tambang Emas Pani serta keberlanjutan produksi di Tujuh Bukit.
Target ini masih bergantung pada persetujuan RKAB, sehingga realisasinya akan mengikuti perkembangan izin operasional yang berjalan.
Strategi Buy on Weakness
Di sisi pasar, pergerakan harga saham MDKA berada di level Rp3.370 atau menguat 1,51 persen dengan dukungan volume pembelian. Dalam kerangka teknikal, posisi harga saat ini berada pada fase wave [c] dari wave 2 atau wave B, yang mencerminkan fase pemulihan dalam struktur koreksi.
Area buy on weakness berada pada kisaran 3.230–3.310, dengan target harga 3.470 hingga 3.590, serta batas risiko di bawah 3.100.
Kombinasi antara struktur kepemilikan yang kuat, kinerja operasional yang ditopang harga komoditas, serta pengembangan proyek jangka panjang membentuk dasar pergerakan saham MDKA saat ini.
Pada saat yang sama, posisi teknikal menunjukkan fase pengujian arah dengan dukungan volume beli, sehingga pergerakan dalam rentang harga yang telah ditetapkan menjadi acuan dalam melihat respons pasar dalam jangka pendek.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.