KABARBURSA.COM – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral datang dengan kabar yang terdengar seperti napas lega bagi neraca energi nasional. Sepanjang 2025, pemerintah mencatat penurunan signifikan ketergantungan Indonesia terhadap impor solar, sebuah cerita yang pelan-pelan berubah arah sejak kebijakan mandatori biodiesel dipacu lebih agresif.
Ada upaya panjang yang dirangkai lewat program B40 atau nergi campuran bahan bakar nabati berbasis minyak sawit sebesar 40 persen dengan solar 60 persen. Program ini bukan sekadar eksperimen kebijakan, melainkan alat tekan untuk mengurangi aliran devisa yang selama bertahun-tahun bocor lewat impor BBM.
Dalam pemaparan capaian kinerja sektor energi 2025 di Jakarta, Kamis, 8 Januari 2026, Bahlil mengatakan tren impor solar mulai menurun tajam dibanding tahun sebelumnya. “Impor solar kita di tahun 2024 itu masih kurang lebih sekitar 8,3 juta ton. Kemudian impor kita di tahun 2025 turun menjadi kurang lebih 5 juta ton,” ujarnya, dikutip dari lama ESDM, Jumat, 9 Januari 2026.
Penurunan itu tidak berdiri sendiri. Data Kementerian ESDM menunjukkan pemanfaatan biodiesel domestik sepanjang Januari hingga Desember 2025 mencapai 14,2 juta kilo liter. Angka tersebut bahkan melampaui target Indikator Kinerja Utama sebesar 13,5 juta kilo liter atau setara 105,2 persen dari sasaran yang ditetapkan. Dengan konsumsi biodiesel yang lebih besar di dalam negeri, volume impor solar otomatis terpangkas drastis dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Arah konsumsi solar nasional pun mulai bergerak pelan ke titik jenuh. Business Monitor International atau BMI, Lembaga riset yang berada di bawah naungan Fitch Group, mencatat konsumsi solar di Indonesia turun sekitar 3,7 persen pada 2025.
Dalam laporannya, BMI mencatat bahwa selama hampir satu dekade terakhir, pasar solar Indonesia masih didominasi sektor transportasi. Permintaan dari sektor ini tumbuh rata-rata 5,3 persen per tahun sepanjang 2015 hingga 2023, seiring meningkatnya kepemilikan kendaraan dan ekspansi armada perusahaan transportasi. Kontribusi sektor transportasi terhadap total konsumsi solar pun melonjak, dari 74 persen pada 2015 menjadi 88 persen per akhir 2023.
Namun, laju tersebut mulai melambat. Pertumbuhan permintaan solar untuk transportasi jalan raya turun menjadi 4,5 persen pada 2023, jauh di bawah capaian 10,2 persen pada 2022 dan 10,4 persen pada 2021. Perlambatan ini menjadi sinyal awal bahwa pasar solar tidak lagi bergerak seagresif sebelumnya.
Bagi pemerintah, capaian ini bukan sekadar statistik tahunan. Ia diposisikan sebagai fondasi untuk target yang lebih berani. Indonesia, menurut Bahlil, sedang menyiapkan langkah menuju penghentian total impor solar pada 2026, sebuah lompatan besar yang selama ini terdengar seperti mimpi kebijakan.
Keyakinan itu ditopang oleh rencana uji coba biodiesel B50, campuran 50 persen bahan bakar nabati, yang dijadwalkan rampung pada semester pertama 2026. Jika hasil evaluasi teknis dan ekonominya dinilai memadai, implementasi penuh B50 akan dimulai pada paruh kedua tahun tersebut.
“Kalau B50 kita pakai dan RDMP kita di Kalimantan Timur diresmikan dalam waktu dekat, maka kita tidak akan melakukan impor solar lagi di tahun 2026,” kata Bahlil.
Selain memangkas impor, kebijakan biodiesel sepanjang 2025 juga meninggalkan jejak pada sisi lain. Pemerintah mencatat penghematan devisa mencapai Rp130,21 triliun. Dari sisi lingkungan, emisi berhasil ditekan hingga 38,88 juta ton CO2 ekuivalen. Sementara itu, nilai tambah minyak sawit mentah yang diolah menjadi biodiesel tercatat sebesar Rp20,43 triliun, menandakan rantai industri sawit mendapat dorongan signifikan.
Optimisme menuju bebas impor solar juga ditautkan dengan proyek Refinery Development Master Plan di Balikpapan, Kalimantan Timur. Kilang ini diharapkan mampu meningkatkan kapasitas produksi solar dalam negeri secara masif, sehingga kebutuhan domestik bisa dipenuhi tanpa harus bergantung pada pasokan luar negeri.
Namun, pemerintah masih menyisakan satu catatan kaki dalam ambisi besar tersebut. Untuk solar dengan spesifikasi CN51 yang dibutuhkan industri alat berat, opsi impor tetap dibuka secara terbatas. Produksi dalam negeri untuk jenis solar berkualitas tinggi ini masih dalam tahap pengembangan, sehingga pemerintah memilih bersikap realistis sambil menunggu kesiapan kapasitas nasional.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.