Logo
>

Setengah Abad Menunggu, 2 Raksasa Energi Dunia Akhirnya Mulai Berpaling dari Batubara

Penurunan serentak pembangkit batubara di China dan India pada 2025 membuka peluang puncak emisi global, didorong lonjakan energi bersih.

Ditulis oleh Moh. Alpin Pulungan
Setengah Abad Menunggu, 2 Raksasa Energi Dunia Akhirnya Mulai Berpaling dari Batubara
China dan India kompak menurunkan pembangkit batubara pada 2025 setelah setengah abad. Lonjakan energi bersih membuka peluang puncak emisi global. Foto: Down to Earth

Poin Penting :

    KABARBURSA.COM — Batubara akhirnya batuk. Sialnya lagi, di dua raksasa energi dunia sekaligus. China dan India sama-sama mencatat penurunan pembangkit listrik berbasis batubara sepanjang 2025. Ini bukan kejadian biasa. Terakhir kali dua negara itu kompak mengurangi listrik dari batubara terjadi lebih dari setengah abad lalu, tepatnya pada 1973, ketika dunia diguncang krisis minyak.

    Analisis terbaru dari Carbon Brief menunjukkan, produksi listrik dari batubara di India turun 3,0 persen secara tahunan atau setara 57 terawatt hour. China juga ikut turun 1,6 persen atau sekitar 58 terawatt hour. Angkanya hampir seimbang, dan momentumnya serentak. Untuk pertama kalinya sejak era ketika dunia masih mengenal radio transistor sebagai barang mewah.

    Penurunan ini bukan karena ekonomi lesu atau lampu-lampu dimatikan lebih awal. Justru sebaliknya. Dua negara itu sedang kebanjiran energi bersih. Tambahan pembangkit surya, angin, dan nuklir yang masuk sepanjang 2024 dan 2025 cukup untuk menutup kenaikan konsumsi listrik yang terus tumbuh.

    Di China, permintaan listrik masih naik sekitar 5 persen dibanding tahun sebelumnya. Tapi pembangkit bersih tumbuh lebih kencang. Di India, kombinasi energi terbarukan yang melonjak, cuaca yang lebih bersahabat, serta perlambatan struktural konsumsi listrik membuat batubara terpaksa mundur selangkah.

    Kalau dilihat dari jarak jauh, ini bukan sekadar statistik energi. Ini sinyal awal bahwa dua mesin utama emisi karbon dunia mulai berubah arah. Dari 2015 hingga 2024, sektor kelistrikan China dan India menyumbang sekitar 93 persen kenaikan emisi karbon dioksida global. China sendiri menyumbang sekitar 78 persen, India 16 persen. Ketika dua keran terbesar ini mulai diputar pelan-pelan, dunia ikut menahan napas.

    Tahun 2025 bisa jadi penanda awal. Tapi apakah ini awal perubahan struktural atau cuma jeda sesaat, itu pertanyaan berikutnya.

    China memberi gambaran yang cukup jelas. Sepanjang 2025, negara itu diperkirakan menambah lebih dari 300 gigawatt pembangkit surya dan sekitar 100 gigawatt tenaga angin. Angka ini bukan cuma rekor nasional, tapi rekor global sepanjang sejarah. Tidak ada negara lain yang pernah menambah kapasitas energi bersih sebesar itu dalam satu tahun.

    Dalam 11 bulan pertama 2025 saja, listrik dari tenaga surya dan angin di China naik sekitar 450 terawatt hour. Ditambah listrik nuklir sekitar 35 terawatt hour. Total kenaikan listrik non fosil ini melampaui kenaikan konsumsi listrik nasional yang sekitar 460 terawatt hour. Artinya, tanpa perlu memaksa, batubara tersingkir dengan sendirinya.

    Sejak awal 2024, penggunaan batubara di sektor kelistrikan China mulai turun, begitu juga emisi karbonnya. Bahkan di luar sektor listrik, konsumsi batubara juga menyusut, terutama karena lesunya industri baja, semen, dan bahan bangunan lain yang selama ini rakus batubara.

    India punya cerita yang sedikit berbeda tapi arahnya sama. Sepanjang 11 bulan pertama 2025, India menambah sekitar 35 gigawatt tenaga surya, 6 gigawatt angin, dan 3,5 gigawatt tenaga air. Penambahan kapasitas energi terbarukan melonjak sekitar 44 persen dibanding tahun sebelumnya.

    Produksi listrik dari sumber non fosil di India naik sekitar 71 terawatt hour, dengan tenaga surya menyumbang sekitar 33 terawatt hour. Sementara total kenaikan produksi listrik nasional hanya sekitar 21 terawatt hour. Selisihnya langsung memotong ruang batubara dan gas.

    Menariknya, ini pertama kalinya pertumbuhan energi bersih benar-benar menjadi faktor utama yang menekan pembangkit batubara di India. Sekitar 44 persen penurunan batubara berasal dari lonjakan energi bersih, 36 persen dari cuaca yang lebih sejuk sehingga permintaan pendingin udara turun, dan 20 persen dari perlambatan konsumsi listrik jangka panjang.

    Namun ceritanya belum sepenuhnya manis. Pertumbuhan energi bersih India masih berada di bawah rata-rata kenaikan permintaan listrik pada periode 2019 hingga 2024 yang sekitar 85 terawatt hour per tahun. Artinya, jika ingin memastikan batubara benar-benar mencapai puncak struktural dan bukan sekadar turun sementara, laju energi bersih harus dipercepat lagi.

    Target pemerintah India yang dicanangkan Perdana Menteri Narendra Modi pada 2021 adalah mencapai 500 gigawatt kapasitas listrik non fosil pada 2030. Target ini hanya bisa tercapai jika akselerasi energi bersih terus dijaga, bahkan ditingkatkan.

    Tantangan Energi Bersih di 2 Negara

    Di balik kabar baik ini, tantangan besar masih mengintai. Jaringan listrik di China dan India masih dirancang untuk era batubara. Fleksibilitas sistem masih terbatas. Pasar listrik dibangun untuk pembangkit yang stabil dan bisa dikendalikan, bukan untuk surya dan angin yang fluktuatif. Reformasi struktur pasar listrik menjadi pekerjaan rumah besar.

    Ironisnya, kedua negara juga masih menambah kapasitas pembangkit batubara baru. Dalam jangka pendek, ini membuat tingkat utilisasi pembangkit batubara turun karena listriknya kalah bersaing dengan energi bersih. Dalam jangka panjang, jika proyek batubara yang sedang dibangun dan sudah mengantongi izin tetap diteruskan, kapasitas batubara China bisa melonjak 28 persen dan India 23 persen.

    Tanpa kenaikan produksi listrik batubara, kapasitas berlebih ini berpotensi memicu tekanan finansial bagi operator pembangkit dan biaya tambahan bagi konsumen listrik. Jalan keluarnya hanya satu, memperlambat pembangunan pembangkit batubara baru dan mempercepat pensiun dini pembangkit lama agar energi bersih punya ruang tumbuh.

    Meski tantangan itu nyata, momen ini tetap bersejarah. Penurunan serentak batubara di China dan India, diiringi rekor energi bersih, membuka peluang nyata bagi puncak emisi global. Jika dua negara ini konsisten, dunia punya kesempatan menahan laju krisis iklim, bukan lewat slogan, tapi lewat perubahan nyata di pembangkit listrik.

    Data yang digunakan dalam analisis ini berasal dari berbagai lembaga resmi. Untuk China, perhitungan pembangkit batubara hingga November 2025 diambil dari data kapasitas dan utilisasi China Electricity Council yang diakses melalui Wind Financial Terminal. Data Desember diperkirakan berdasarkan survei mingguan pembangkit batubara hingga 25 Desember yang historisnya sangat akurat.

    Untuk India, data produksi listrik harian dan kapasitas bulanan diambil dari Central Electricity Authority, diakses melalui dasbor think tank pemerintah Niti Aayog. Sementara perhitungan kontribusi emisi karbon global mengacu pada World Energy Balances milik International Energy Agency hingga 2023, dengan faktor emisi dari Intergovernmental Panel on Climate Change, serta data lanjutan dari Energy Institute Statistical Review of World Energy.

    Jika tren ini bertahan, sejarah 1973 tidak lagi sekadar catatan lama. Ia bisa menjadi titik pembanding bagi satu era baru, ketika dua negara paling rakus batubara mulai belajar melepaskannya.(*)

    Disclaimer:
    Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

    Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

    Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

    Gabung Sekarang

    Jurnalis

    Moh. Alpin Pulungan

    Asisten Redaktur KabarBursa.com. Jurnalis yang telah berkecimpung di dunia media sejak 2020. Pengalamannya mencakup peliputan isu-isu politik di DPR RI, dinamika hukum dan kriminal di Polda Metro Jaya, hingga kebijakan ekonomi di berbagai instansi pemerintah. Pernah bekerja di sejumlah media nasional dan turut terlibat dalam liputan khusus Ada TNI di Program Makan Bergizi Gratis Prabowo Subianto di Desk Ekonomi Majalah Tempo.

    Lulusan Sarjana Hukum Universitas Pamulang. Memiliki minat mendalam pada isu Energi Baru Terbarukan dan aktif dalam diskusi komunitas saham Mikirduit. Selain itu, ia juga merupakan alumni Jurnalisme Sastrawi Yayasan Pantau (2022).