Logo
>

IEA: Proyek Migas Baru Sudah Tak Relevan di Era Target Iklim 1,5 Derajat

Laporan terbaru IEA menilai investasi migas hanya dibutuhkan jika permintaan tak turun sejalan target iklim global

Ditulis oleh Moh. Alpin Pulungan
IEA: Proyek Migas Baru Sudah Tak Relevan di Era Target Iklim 1,5 Derajat
IEA menilai proyek migas baru tak lagi relevan jika dunia menekan permintaan energi fosil sesuai target iklim 1,5 derajat Celsius. Foto: Dok. IEA

Poin Penting :

    KABARBURSA.COM – Dunia sebenarnya tak perlu lagi berlomba membuka proyek minyak dan gas baru jika permintaan energi fosil benar-benar turun sejalan dengan target pembatasan pemanasan global di angka 1,5 derajat Celsius. Itulah pesan kunci yang kembali ditegaskan Badan Energi Internasional. Lembaga ini menilai, dalam skenario dunia yang patuh pada target iklim tersebut, kebutuhan investasi untuk proyek minyak dan gas baru sejatinya bisa dihindari.

    Pernyataan ini bukan tanpa risiko politik. Dalam beberapa tahun terakhir, lembaga tersebut kerap menjadi sasaran kritik, terutama dari pemerintahan Donald Trump di Amerika Serikat. Dilansir dari Carbon Brief, Jumat, 9 Januari 2026, Badan Energi Internasional berulang kali menyebut konsumsi bahan bakar fosil berpeluang mencapai puncaknya pada dekade ini, jika kebijakan saat ini dan komitmen politik yang sudah diumumkan benar-benar dijalankan.

    Meski mendapat tekanan, lembaga itu tak bergeser dari kesimpulan awalnya. Dalam laporan terbarunya, temuan tahun 2021 kembali ditegaskan. Tidak diperlukan investasi baru di sektor minyak dan gas dalam dunia yang konsisten dengan target 1,5 derajat Celsius, meski dengan sejumlah catatan dan batasan teknis.

    Di saat yang sama, laporan tersebut membuka gambaran lain yang tak kalah penting. Industri minyak dan gas global kini berada dalam situasi yang bisa dibilang berlari di tempat. Setiap tahun, sekitar USD500 miliar atau setara Rp8.350 triliun harus digelontorkan hanya untuk mempertahankan tingkat produksi agar tidak turun dari level saat ini. Bukan untuk menambah produksi, melainkan sekadar agar pasokan tidak anjlok.

    Kondisi itu terjadi karena produksi di ladang minyak dan gas dunia ternyata menurun lebih cepat dari perkiraan sebelumnya. Ketergantungan terhadap proyek-proyek nonkonvensional, terutama minyak dan gas serpih, semakin besar. Masalahnya, sumber daya jenis ini dikenal memiliki laju penurunan produksi yang sangat cepat. Hari ini tinggi, esok merosot tajam.

    Di tengah desakan agar izin eksplorasi baru terus dibuka, termasuk di kawasan seperti Laut Utara, laporan tersebut mengingatkan satu fakta penting yang kerap diabaikan. Rata-rata dibutuhkan hampir 20 tahun sejak izin eksplorasi minyak dan gas diterbitkan hingga produksi tambahan benar-benar mengalir ke pasar.

    Laporan ini sejak awal menggeser sudut pandang diskusi energi global. Selama ini, perdebatan masa depan minyak dan gas terlalu sering berkutat pada soal permintaan. Sementara sisi pasokan nyaris luput dari sorotan. Padahal, bagaimana pasokan berkembang ke depan sama krusialnya dengan pertanyaan seberapa besar dunia masih membutuhkan bahan bakar fosil.

    Itulah alasan mengapa laporan ini menaruh fokus pada tingkat penurunan produksi ladang minyak dan gas yang sudah ada. Selain itu, laporan ini juga menelusuri dari mana pasokan minyak dan gas dunia berasal saat ini dan bagaimana komposisinya berubah dalam beberapa dekade terakhir.

    Selama 25 tahun terakhir, pasokan minyak global meningkat sekitar sepertiga. Namun, sumber pertumbuhannya bergeser signifikan. Produksi semakin didominasi sumber daya nonkonvensional, seperti minyak serpih dari formasi shale dan minyak dari pasir minyak. Pergeseran ini mengubah wajah industri energi global.

    Gas serpih pun memainkan peran serupa. Dalam seperempat abad terakhir, sebagian besar pertumbuhan produksi gas dunia ditopang oleh ekspansi gas serpih. Tanpa sumber nonkonvensional ini, lonjakan pasokan gas global nyaris tak mungkin terjadi.

    Penurunan Tajam

    Namun, ketergantungan pada sumber-sumber nonkonvensional membawa konsekuensi serius. Produksi dari ladang-ladang yang ada akan turun semakin curam jika tidak terus disuntik investasi baru. Laporan tersebut menunjukkan bahwa tingkat penurunan produksi minyak dan gas global sudah semakin tajam dan tren ini diperkirakan akan terus berakselerasi.

    Dampaknya, industri minyak dan gas terjebak dalam situasi yang ironis. Mereka harus berlari kencang hanya untuk tetap berada di tempat yang sama. Hampir 90 persen investasi hulu tahunan sejak 2019 ternyata hanya digunakan untuk menutup penurunan produksi, bukan untuk memenuhi pertumbuhan permintaan baru.

    Industri ini, menurut laporan tersebut, membutuhkan investasi sekitar USD500 miliar per tahun hanya untuk menjaga output tetap stabil. Dengan investasi kurang lebih mencapai USD570 miliar pada 2025 atau sekitar Rp9.519 triliun, pasokan global mungkin masih bisa tumbuh tipis. Namun jaraknya sangat dekat dengan kondisi stagnan atau bahkan mulai menurun.

    Laporan ini juga kembali menggarisbawahi persoalan waktu. Dari diterbitkannya izin eksplorasi hingga minyak dan gas benar-benar diproduksi, jeda waktunya nyaris dua dekade. Rinciannya pun tak singkat. Rata-rata lima tahun dibutuhkan untuk menemukan ladang, delapan tahun untuk menilai dan menyetujui pengembangannya, lalu enam tahun lagi untuk membangun infrastruktur dan memulai produksi.

    Fakta ini menjadi pengingat keras bagi mereka yang menganggap penerbitan izin baru sebagai solusi cepat untuk persoalan pasokan energi. Dalam konteks transisi energi dan target iklim global, waktu justru menjadi komoditas paling mahal. Ketika minyak dan gas dari proyek baru akhirnya mengalir, dunia bisa jadi sudah bergerak ke arah yang sangat berbeda dari hari ini.

    Pertanyaan tentang perlu tidaknya investasi baru kembali menjadi benang merah dalam laporan terbaru Badan Energi Internasional. Lembaga ini menunjukkan bahwa tanpa investasi berkelanjutan untuk menjaga produksi, pasokan minyak dan gas global akan jatuh tajam. Ladang-ladang yang ada akan terus menurun produksinya, dan tanpa suntikan modal, penurunan itu bisa berlangsung jauh lebih cepat dari yang dibayangkan.

    Situasi ini digambarkan sebagai pertarungan mahal bagi industri minyak dan gas. Sebuah media bisnis internasional menyebut laporan tersebut memperlihatkan betapa beratnya ongkos yang harus ditanggung sektor ini jika ingin sekadar mempertahankan level produksi saat ini. Namun di sisi lain, temuan tersebut justru berpotensi disambut hangat oleh pelaku industri, yang sejak lama berargumen bahwa mereka memang perlu belanja besar hanya untuk menjaga pasokan tetap stabil.

    “Temuan Badan Energi Internasional kemungkinan besar akan disambut antusias oleh industri minyak, yang selama ini konsisten menyatakan bahwa mereka perlu mengeluarkan belanja besar untuk mempertahankan tingkat produksi saat ini,” tulis media tersebut.

    Masalahnya, laporan ini tidak berhenti pada persoalan pasokan. Di bagian lain, Badan Energi Internasional secara tegas memaparkan konsekuensi dari turunnya permintaan, jika dunia benar-benar membatasi pemanasan global di bawah 1,5 derajat Celsius dibanding era praindustri.

    Dalam skenario net zero yang sejalan dengan target tersebut, lembaga ini menyebut akan terjadi percepatan sangat besar dalam transisi energi dibandingkan tren saat ini. Dampaknya, permintaan minyak dan gas akan turun drastis.

    Jika penurunan permintaan itu benar-benar terjadi, kebutuhan investasi untuk proyek minyak dan gas baru pun menguap. Dalam laporan tersebut ditegaskan bahwa laju penurunan permintaan dalam skenario 1,5 derajat Celsius cukup cepat sehingga secara keseluruhan tidak diperlukan persetujuan proyek hulu konvensional baru yang berjangka panjang untuk dikembangkan.

    “Laju penurunan permintaan dalam skenario 1,5 derajat Celsius cukup cepat sehingga secara agregat tidak ada proyek hulu konvensional berjangka panjang yang perlu disetujui untuk dikembangkan,” tulis laporan tersebut.

    Meski begitu, lembaga ini tetap menekankan bahwa bahkan dalam skenario paling ambisius sekalipun, investasi masih dibutuhkan untuk proyek-proyek yang sudah ada dan telah disetujui sebelumnya. Tujuannya semata-mata untuk menyeimbangkan laju penurunan produksi alami di ladang-ladang yang beroperasi.

    Dengan demikian, laporan terbaru ini pada dasarnya mengulang kesimpulan lama bahwa dunia tidak membutuhkan investasi baru di sektor minyak dan gas jika benar-benar berada di jalur 1,5 derajat Celsius. Namun, penekanannya kini bergeser lebih kuat ke satu syarat utama, permintaan harus turun secara signifikan. Tanpa penurunan permintaan yang tajam, investasi baru tetap akan dibutuhkan untuk memenuhi konsumsi.

    Pendekatan ini berbeda dengan cara temuan serupa diberitakan sebelumnya. Pada 2021, misalnya, ada laporan media yang menyimpulkan bahwa pengembangan minyak dan gas harus dihentikan jika dunia ingin tetap berada dalam batas aman iklim. Laporan terbaru justru menegaskan bahwa investasi baru masih akan diperlukan untuk memenuhi permintaan, kecuali jika permintaan tersebut benar-benar ditekan sejalan dengan target 1,5 derajat Celsius.

    Selain itu, laporan ini juga mengungkap sisi lain yang jarang dibicarakan, risiko aset terbengkalai. Jika permintaan minyak dan gas turun sesuai skenario net zero, sejumlah proyek berbiaya tinggi di seluruh dunia harus ditutup lebih awal, sebelum mencapai usia teknisnya.

    “Untuk memastikan keseimbangan yang mulus antara pasokan dan permintaan, penurunan permintaan dalam skenario net zero akan mendorong penutupan lebih awal sejumlah proyek berbiaya tinggi sebelum mencapai akhir umur teknisnya. Pada 2050, misalnya, sekitar 8 juta barel per hari produksi minyak dan 250 miliar meter kubik produksi gas akan dipensiunkan lebih cepat dibandingkan yang tersirat dari laju penurunan produksi yang teramati,” tulis laporan tersebut.

    Pesannya menjadi jelas. Masa depan minyak dan gas bukan hanya soal seberapa banyak dunia masih membutuhkan energi fosil, tetapi juga seberapa cepat permintaan itu ditekan. Tanpa penurunan permintaan yang tegas, investasi baru akan terus dianggap perlu. Namun jika transisi energi benar-benar dipercepat, sebagian proyek mahal berisiko kehilangan alasan ekonominya bahkan sebelum sempat menikmati usia penuhnya.

    Disclaimer:
    Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

    Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

    Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

    Gabung Sekarang

    Jurnalis

    Moh. Alpin Pulungan

    Asisten Redaktur KabarBursa.com. Jurnalis yang telah berkecimpung di dunia media sejak 2020. Pengalamannya mencakup peliputan isu-isu politik di DPR RI, dinamika hukum dan kriminal di Polda Metro Jaya, hingga kebijakan ekonomi di berbagai instansi pemerintah. Pernah bekerja di sejumlah media nasional dan turut terlibat dalam liputan khusus Ada TNI di Program Makan Bergizi Gratis Prabowo Subianto di Desk Ekonomi Majalah Tempo.

    Lulusan Sarjana Hukum Universitas Pamulang. Memiliki minat mendalam pada isu Energi Baru Terbarukan dan aktif dalam diskusi komunitas saham Mikirduit. Selain itu, ia juga merupakan alumni Jurnalisme Sastrawi Yayasan Pantau (2022).