Logo
>

Kinerja Lingkungan Jababeka (KIJA) Memburuk, Energi dan Emisi Membengkak

Laporan keberlanjutan KIJA 2024 menunjukkan lonjakan konsumsi energi, air, dan emisi, sementara efisiensi lingkungan belum terlihat di tengah ekspansi kawasan.

Ditulis oleh Moh. Alpin Pulungan
Kinerja Lingkungan Jababeka (KIJA) Memburuk, Energi dan Emisi Membengkak
Kebakaran hebat melanda sebuah pabrik tekstil di Kawasan Industri Jababeka, Cikarang Utara, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Selasa, 25 November 2025. Foto: Dok. IG @indroneku.

KABARBURSA.COM – PT Kawasan Industri Jababeka Tbk (KIJA) mencatat peningkatan aktivitas operasional sepanjang 2024. Namun, di balik ekspansi tersebut, laporan keberlanjutan perseroan justru memperlihatkan tren yang berlawanan dengan prinsip efisiensi lingkungan.

Data dalam laporan Sustainability Report 2024 KIJA menunjukkan hampir seluruh indikator utama lingkungan mengalami kenaikan, mulai dari konsumsi energi hingga emisi gas rumah kaca.

Penggunaan listrik tercatat naik 10 persen menjadi 30.838.682 kWh, dari sebelumnya 28.133.926 kWh pada 2023. Kenaikan juga terlihat pada konsumsi bahan bakar minyak yang melonjak 17 persen menjadi 505.931 liter. Sementara itu, penggunaan bahan bakar gas memang turun 4 persen, tetapi tidak cukup mengimbangi lonjakan konsumsi energi secara keseluruhan.

Di sisi lain, tekanan terhadap sumber daya air juga meningkat. Produksi dan distribusi air bersih naik 18 persen menjadi 13.451.200 meter kubik, sementara penggunaan air meningkat 14 persen menjadi 911.435 meter kubik.

Kenaikan konsumsi energi dan air tersebut berbanding lurus dengan peningkatan emisi. Perkiraan emisi gas rumah kaca (GRK) KIJA tercatat naik 3 persen menjadi 81.011 ton CO2e, dari 78.665 ton CO2e pada tahun sebelumnya.

Kondisi ini menunjukkan bahwa pertumbuhan operasional kawasan industri belum diiringi dengan efisiensi lingkungan yang memadai. Alih-alih menekan intensitas emisi, peningkatan aktivitas justru memperbesar jejak karbon secara absolut.

Satu-satunya indikator yang mencatat penurunan adalah pengelolaan limbah dan efluen, yang turun 17 persen menjadi 2.809 ton dari sebelumnya 3.397 ton. Namun, penurunan ini tidak serta-merta mencerminkan perbaikan kinerja lingkungan secara utuh.

Dalam catatan laporan, perseroan menyebut data limbah dan efluen pada 2024 baru mencakup entitas anak tertentu dan belum sepenuhnya terintegrasi dengan seluruh unit usaha. Catatan tersebut membuka ruang pertanyaan mengenai konsistensi metodologi pelaporan, mengingat indikator lain seperti emisi sudah mencakup aktivitas sebagian besar entitas anak.

Selain itu, laporan juga mengungkap adanya penyesuaian data secara keseluruhan akibat perubahan asumsi, satuan, dan faktor konversi. Penyesuaian ini membuat perbandingan antar tahun menjadi tidak sepenuhnya setara secara metodologis.

Dalam konteks kawasan industri, tren ini menjadi krusial. Sebagai pengelola ekosistem industri, KIJA tidak hanya mencerminkan aktivitas internal perusahaan, tetapi juga intensitas kegiatan tenant di dalam kawasan. Kenaikan konsumsi energi, air, dan emisi dapat mengindikasikan meningkatnya aktivitas industri secara agregat, sekaligus memperbesar tekanan terhadap lingkungan di kawasan tersebut.

Tanpa adanya indikator intensitas—misalnya emisi atau energi per unit produksi atau per luas kawasan—sulit menilai apakah perusahaan benar-benar meningkatkan efisiensi atau sekadar mengalami pertumbuhan yang dibarengi peningkatan beban lingkungan.

Dengan tren saat ini, laporan keberlanjutan KIJA 2024 lebih mencerminkan fase ekspansi operasional dibandingkan transformasi menuju praktik industri yang lebih rendah karbon. 

Di tengah meningkatnya tuntutan terhadap standar ESG, konsistensi data dan upaya penurunan intensitas lingkungan akan menjadi faktor kunci dalam menilai kualitas keberlanjutan kawasan industri ke depan.(*)

Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Moh. Alpin Pulungan

Asisten Redaktur KabarBursa.com. Jurnalis yang telah berkecimpung di dunia media sejak 2020. Pengalamannya mencakup peliputan isu-isu politik di DPR RI, dinamika hukum dan kriminal di Polda Metro Jaya, hingga kebijakan ekonomi di berbagai instansi pemerintah. Pernah bekerja di sejumlah media nasional dan turut terlibat dalam liputan khusus Ada TNI di Program Makan Bergizi Gratis Prabowo Subianto di Desk Ekonomi Majalah Tempo.

Lulusan Sarjana Hukum Universitas Pamulang. Memiliki minat mendalam pada isu Energi Baru Terbarukan dan aktif dalam diskusi komunitas saham Mikirduit. Selain itu, ia juga merupakan alumni Jurnalisme Sastrawi Yayasan Pantau (2022).