KABARBURSA.COM – PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) berencana menambah kegiatan usaha baru di sektor hidrogen. Langkah ini dilakukan melalui penyediaan jasa sewa generator berbasis hydrogen fuel cell.
Corporate Secretary Pertamina Geothermal Energy, Kitty Andhora, menyampaikan rencana tersebut telah disampaikan dalam keterbukaan informasi kepada publik. Informasi ini merupakan perubahan dan tambahan atas rencana penambahan kegiatan usaha Perseroan.
“Perseroan menyampaikan laporan informasi atau fakta material terkait perubahan dan/atau tambahan informasi atas rencana penambahan kegiatan usaha,” ujar Kitty dalam keterbukaan informasi dikutip, Rabu, 15 April 2026.
Rencana ini mencakup penambahan Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI) 77395. Kegiatan tersebut meliputi penyewaan dan sewa guna mesin serta peralatan pertambangan.
Dalam implementasinya, PGEO akan menjalankan bisnis jasa sewa generator hydrogen fuel cell. Layanan ini mencakup penyediaan unit, instalasi, hingga operasional dan pemeliharaan.
Studi kelayakan atas rencana tersebut dilakukan per 31 Desember 2025. Hasil kajian menyatakan rencana penambahan usaha dinilai layak dari sisi pasar, teknis, model bisnis, manajemen, dan keuangan.
Dari sisi keuangan, indikator kelayakan menunjukkan hasil positif. Nilai net present value tercatat sebesar Rp6,40 miliar dengan internal rate of return mencapai 110,83 persen.
Selain itu, periode pengembalian investasi diproyeksikan selama 1 tahun 11 bulan. Sementara itu, profitability index tercatat sebesar 6,93 kali.
Investasi awal untuk pengembangan bisnis ini diperkirakan sekitar Rp1,17 miliar. Skema bisnis yang digunakan mengacu pada model biaya bersih ditambah margin dengan asumsi sekitar 20 persen.
Target awal pengembangan diarahkan pada proyek internal Pertamina Group. Salah satunya adalah pemanfaatan pada fasilitas energi seperti terminal bahan bakar.
Dalam operasionalnya, PGEO akan memanfaatkan produksi hidrogen dari aset panas bumi. Kapasitas produksi hidrogen tercatat sekitar 80 hingga 100 kilogram per hari.
Generator hidrogen tersebut dirancang beroperasi selama 4 hingga 7 jam per hari. Beban listrik yang dihasilkan diperkirakan mencapai 70 kilowatt hour.
Secara struktur bisnis, Perseroan akan mengintegrasikan produksi, distribusi, hingga pemanfaatan energi hidrogen. Distribusi hidrogen akan melibatkan pihak ketiga dalam proses logistik.
Rencana penambahan kegiatan usaha ini termasuk dalam kategori perubahan kegiatan usaha material. Oleh karena itu, Perseroan akan meminta persetujuan pemegang saham dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan.
Langkah ini menjadi bagian dari diversifikasi usaha di luar panas bumi. Selain itu, pengembangan hidrogen juga sejalan dengan arah transisi energi berbasis rendah emisi.(*)