KABARBURSA.COM — Konflik Iran yang berlangsung hampir 50 hari mulai meninggalkan jejak besar di pasar energi global. Bukan hanya soal gangguan distribusi, tetapi juga hilangnya produksi minyak dalam jumlah masif yang nilainya mencapai puluhan miliar dolar.
Perhitungan analis dan Reuters menunjukkan dunia kehilangan lebih dari USD50 miliar (Rp845 triliun) dari minyak mentah yang tidak sempat diproduksi sejak konflik dimulai.
Gangguan ini bukan dalam skala kecil. Data Kpler mencatat lebih dari 500 juta barel minyak mentah dan kondensat keluar dari pasar global sejak akhir Februari. Angka ini disebut sebagai gangguan pasokan energi terbesar dalam sejarah modern.
Jika diterjemahkan ke dalam skala konsumsi, dampaknya setara dengan hilangnya seluruh pasokan minyak global selama lima hari, atau penghentian perjalanan kendaraan di seluruh dunia selama 11 hari.
Analis Wood Mackenzie, Iain Mowat, menggambarkan besarnya gangguan tersebut dalam konteks penggunaan energi global.
“500 juta barel minyak yang hilang dari pasar setara dengan penghentian perjalanan kendaraan global selama 11 hari atau tidak adanya pasokan minyak bagi ekonomi dunia selama lima hari,” kata Mowat, dikutip dari Reuters, Sabtu 18 April 2026.
Dalam ukuran lain, jumlah tersebut setara dengan hampir satu bulan kebutuhan minyak Amerika Serikat atau lebih dari satu bulan konsumsi minyak seluruh Eropa.
Gangguan ini juga berdampak langsung pada produksi negara-negara Teluk. Pada Maret, produksi minyak di kawasan tersebut turun sekitar 8 juta barel per hari, mendekati total produksi gabungan dua raksasa energi dunia.
Di sisi hilir, ekspor bahan bakar penerbangan juga anjlok tajam. Dari sekitar 19,6 juta barel pada Februari, ekspor turun menjadi hanya 4,1 juta barel untuk periode Maret hingga April.
Penurunan ini setara dengan hilangnya bahan bakar untuk sekitar 20.000 penerbangan pulang-pergi antara New York dan London.
Dengan harga minyak yang bertahan di kisaran USD100 per barel, kehilangan volume tersebut secara langsung menggerus pendapatan global dalam jumlah besar.
“Volume yang hilang itu setara dengan sekitar USD50 miliar, atau kira-kira 1 persen dari produk domestik bruto Jerman,” ujar analis Kpler, Johannes Rauball.
Meski terdapat sinyal deeskalasi, pemulihan pasokan diperkirakan tidak akan berlangsung cepat. Produksi minyak di beberapa wilayah, khususnya ladang berat di Kuwait dan Irak, diproyeksikan membutuhkan waktu hingga empat sampai lima bulan untuk kembali normal.
Selain itu, kerusakan pada infrastruktur energi, termasuk fasilitas pengolahan dan kompleks LNG di Qatar, berpotensi memperpanjang proses pemulihan hingga bertahun-tahun.
Artinya, meskipun konflik mereda, dampak ekonominya masih akan terasa dalam jangka panjang. Pasar energi global kini tidak hanya menghadapi gangguan pasokan, tetapi juga bayang-bayang pemulihan yang lambat.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.