Logo
>

Tekanan Pangan dan Transportasi Dorong Inflasi Mei ke Level 0,28 Persen

Sejumlah komoditas strategis tercatat menjadi penggerak utama kenaikan harga. Cabai merah memberikan andil terbesar sebesar 0,08 persen terhadap inflasi.

Ditulis oleh Pramirvan Datu
Tekanan Pangan dan Transportasi Dorong Inflasi Mei ke Level 0,28 Persen
Tekanan Pangan dan Transportasi Dorong Inflasi Mei ke Level 0,28 Persen. Foto: Dok KabarBursa.com

KABARBURSA.COM - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi nasional pada Mei 2026 sebesar 0,28 persen secara bulanan (month-to-month/mtm). Secara tahunan, tingkat inflasi berada di level 3,08 persen, sementara inflasi tahun kalender tercatat 1,35 persen.

Data tersebut menunjukkan tekanan harga masih berlangsung, terutama dari sektor pangan dan transportasi yang menjadi kontributor utama terhadap pembentukan inflasi sepanjang periode pelaporan.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Pudji Ismartini, menjelaskan bahwa kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang terbesar inflasi bulanan. Kelompok ini mencatat inflasi sebesar 0,39 persen dengan kontribusi terhadap inflasi umum mencapai 0,12 persen.

Sejumlah komoditas strategis tercatat menjadi penggerak utama kenaikan harga. Cabai merah memberikan andil terbesar sebesar 0,08 persen terhadap inflasi. Kenaikan harga minyak goreng dan bawang merah masing-masing menyumbang 0,04 persen, diikuti tomat sebesar 0,03 persen dan beras sebesar 0,02 persen.

Selain sektor pangan, kelompok transportasi turut memberikan tekanan signifikan terhadap inflasi. Kelompok ini mengalami inflasi sebesar 0,61 persen dengan kontribusi sebesar 0,07 persen terhadap inflasi nasional. Sementara itu, kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan mencatat inflasi sebesar 0,45 persen dengan andil 0,03 persen.

Dari sisi komoditas, bahan bakar rumah tangga menjadi salah satu faktor yang mendorong kenaikan harga dengan kontribusi sebesar 0,03 persen. Adapun bensin dan tarif angkutan udara masing-masing memberikan andil inflasi sebesar 0,02 persen.

Pada komponen inti, inflasi tercatat sebesar 0,22 persen dengan kontribusi terbesar terhadap inflasi keseluruhan, yakni mencapai 0,14 persen. Komoditas yang mendominasi inflasi inti meliputi minyak goreng, telepon seluler, laptop, pelumas atau oli mesin, serta sejumlah barang dan jasa lainnya yang mencerminkan pergerakan permintaan domestik.

Sementara itu, komponen harga yang diatur pemerintah mengalami inflasi sebesar 0,52 persen dengan andil 0,10 persen. Di sisi lain, komponen harga bergejolak mencatat inflasi sebesar 0,22 persen dengan kontribusi 0,04 persen.

Secara regional, mayoritas provinsi masih mencatat kenaikan harga. Dari 38 provinsi, sebanyak 31 provinsi mengalami inflasi, sedangkan tujuh provinsi lainnya mencatat deflasi. Maluku menjadi provinsi dengan inflasi tertinggi sebesar 0,93 persen, mencerminkan tekanan harga yang relatif lebih kuat dibandingkan wilayah lain. Sebaliknya, Gorontalo mencatat deflasi terdalam sebesar 0,96 persen.

Perkembangan inflasi Mei 2026 menunjukkan bahwa volatilitas harga pangan masih menjadi faktor dominan dalam pembentukan inflasi nasional. Di saat yang sama, kenaikan biaya transportasi dan sejumlah komponen inti mengindikasikan masih adanya tekanan harga yang perlu dicermati oleh pelaku usaha, investor, maupun pembuat kebijakan dalam menjaga stabilitas ekonomi domestik.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Pramirvan Datu

Pram panggilan akrabnya, jurnalis sudah terverifikasi dewan pers. Mengawali karirnya sejak tahun 2012 silam. Berkecimpung pewarta keuangan, perbankan, ekonomi makro dan mikro serta pasar modal.