Logo
>

Aksi Iran di Teluk Sukses Ledakkan Harga Minyak ke USD107

Kondisi ini jelas memicu kekhawatiran gangguan pasokan global dan eskalasi konflik Timur Tengah.

Ditulis oleh Syahrianto
Aksi Iran di Teluk Sukses Ledakkan Harga Minyak ke USD107
Ilustrasi: Alat pengangkat minyak dari dalam tanah. (Foto: AI untuk KabarBursa)

KABARBURSA.COM – Harga minyak dunia ditutup menguat pada Rabu, 18 Maret 2026 dan kembali dalam tren kenaikan tertinggi dalam perdagangan lanjutan.

Hal ini terjadi setelah Iran menyerang sejumlah fasilitas energi di kawasan Timur Tengah menyusul serangan terhadap ladang gas South Pars miliknya, yang menandai eskalasi besar dalam perang dengan Amerika Serikat dan Israel.

Sebagaimana dikutip dari Reuters, kontrak berjangka Brent naik 5,6 persen dalam perdagangan setelah penutupan, melanjutkan kenaikan setelah sebelumnya ditutup naik 3,8 persen ke level USD107,38. Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS melanjutkan kenaikan hingga 4 persen setelah ditutup naik 11 sen atau 0,1 persen ke USD96,32.

Kontrak WTI ditutup pada diskon terlebar terhadap Brent dalam 11 tahun terakhir, karena patokan AS tersebut tertekan oleh peningkatan pasokan dari pelepasan cadangan minyak strategis serta kenaikan biaya pengiriman. Sementara itu, Brent terdorong oleh serangan terbaru terhadap fasilitas energi di Timur Tengah.

Perusahaan minyak dan gas milik negara Qatar menyatakan bahwa Ras Laffan Industrial City, pusat industri energi, mengalami “kerusakan besar” setelah terkena serangan rudal Iran. 

Arab Saudi menyatakan telah mencegat dan menghancurkan sejumlah rudal balistik yang diarahkan ke Riyadh serta upaya serangan drone terhadap fasilitas gas di wilayah timur negara tersebut.

Iran mengeluarkan peringatan evakuasi untuk sejumlah fasilitas energi di Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Qatar, dengan menyatakan bahwa lokasi tersebut akan menjadi target serangan “dalam beberapa jam ke depan,” menurut media pemerintah Iran pada Rabu.

Peringatan tersebut menyusul serangan terhadap ladang gas South Pars milik Iran, yang menurut media Israel dilakukan oleh Israel dengan persetujuan Amerika Serikat. Kedua negara belum mengakui tanggung jawab secara langsung.

“Serangan terhadap ladang South Pars Iran mendorong kenaikan harga minyak dan gas, dan setiap eskalasi lebih lanjut terhadap infrastruktur energi akan terus mengerek harga,” kata analis SEB Ole Hvalbye.

Perang tersebut telah menghentikan pengiriman melalui Selat Hormuz, yang menangani sekitar 20 persen pasokan minyak dan LNG global. Total pemangkasan produksi minyak di Timur Tengah diperkirakan mencapai 7 juta hingga 10 juta barel per hari atau sekitar 7 persen hingga 10 persen dari permintaan global.

Trump Berupaya Mengendalikan Kenaikan Harga Minyak AS

Pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Rabu mengumumkan pembebasan sementara selama 60 hari terhadap Undang-Undang Jones, yang memungkinkan kapal berbendera asing mengangkut bahan bakar, pupuk, dan barang lainnya antar pelabuhan di AS.

Pemerintah juga akan sementara mencabut pembatasan emisi untuk bensin musim panas, menurut tiga sumber kepada Reuters, meskipun langkah tersebut hanya berdampak terbatas terhadap kontrak berjangka bensin.

Pelaku pasar dan analis menyebut kebijakan tersebut dapat membantu memperlambat kenaikan harga bahan bakar di AS, namun kecil kemungkinannya berdampak besar terhadap harga energi global.

Meski demikian, kontrak berjangka diesel AS melonjak hingga hampir USD85 per barel di atas WTI, level tertinggi sejak Oktober 2022.

Amerika Serikat juga menerbitkan lisensi umum yang mengizinkan transaksi tertentu dengan perusahaan minyak negara Venezuela, PDVSA. Selain itu, Wakil Presiden JD Vance dan pejabat utama lainnya dijadwalkan bertemu dengan American Petroleum Institute pada Kamis.

Di Irak, North Oil Company menyatakan ekspor minyak mentah dari ladang Kirkuk ke pelabuhan Ceyhan di Turki kembali dilanjutkan melalui pipa setelah kesepakatan antara pemerintah Baghdad dan Pemerintah Daerah Kurdistan. Ekspor awal akan dimulai dengan kapasitas 250.000 barel per hari.

Secara terpisah, perusahaan minyak negara Irak SOMO menandatangani kontrak dengan pengangkut dan pembeli internasional untuk mengekspor minyak melalui Turki, Yordania, dan Suriah, menurut kantor berita pemerintah Irak.

“Langkah Irak meningkatkan produksi datang pada saat yang tepat ketika dunia membutuhkan tambahan pasokan minyak. Ini juga meningkatkan tekanan terhadap Iran, sehingga lebih sulit bagi mereka menggunakan minyak sebagai alat tawar,” kata analis Price Futures Group Phil Flynn.

Perusahaan minyak nasional Libya menyatakan aliran dari ladang minyak Sharara dialihkan secara bertahap melalui pipa alternatif setelah terjadi kebakaran.

Di Amerika Serikat, persediaan minyak mentah meningkat sementara stok bensin dan distilat menurun pada pekan lalu, menurut data Energy Information Administration (EIA). 

Persediaan minyak mentah naik 6,2 juta barel menjadi 449,3 juta barel pada pekan yang berakhir 13 Maret, dibandingkan ekspektasi pasar yang memperkirakan kenaikan sebesar 383.000 barel.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Syahrianto

Jurnalis ekonomi yang telah berkarier sejak 2019 dan memperoleh sertifikasi Wartawan Muda dari Dewan Pers pada 2021. Sejak 2024, mulai memfokuskan diri sebagai jurnalis pasar modal.

Saat ini, bertanggung jawab atas rubrik "Market Hari Ini" di Kabarbursa.com, menyajikan laporan terkini, analisis berbasis data, serta insight tentang pergerakan pasar saham di Indonesia.

Dengan lebih dari satu tahun secara khusus meliput dan menganalisis isu-isu pasar modal, secara konsisten menghasilkan tulisan premium (premium content) yang menawarkan perspektif kedua (second opinion) strategis bagi investor.

Sebagai seorang jurnalis yang berkomitmen pada akurasi, transparansi, dan kualitas informasi, saya terus mengedepankan standar tinggi dalam jurnalisme ekonomi dan pasar modal.