Logo
>

Analis: Harga Minyak tak akan Balik ke USD65, Dunia Bersiap Masuk Era Energi Mahal

Analis memprediksi harga minyak sulit kembali ke USD65 per barel dan berpotensi bertahan di USD80 di tengah risiko geopolitik global.

Ditulis oleh Moh. Alpin Pulungan
Analis: Harga Minyak tak akan Balik ke USD65, Dunia Bersiap Masuk Era Energi Mahal
Harga minyak diprediksi tak kembali ke USD65 dan bertahan di USD80 per barel seiring ketegangan global dan perubahan strategi cadangan energi. Foto: Al-Jazeera

KABARBURSA.COM — Harga minyak dunia diperkirakan tidak akan kembali ke level lama meski konflik Timur Tengah mereda. Pandangan ini menguatkan sinyal bahwa pasar energi global tengah masuk fase baru dengan harga yang lebih tinggi dan penuh ketidakpastian.

Chief Investment Officer Bleakley Financial Group, Peter Boockvar, menilai harga minyak tidak akan kembali ke kisaran USD65 per barel atau setara sekitar Rp1.098.500 per barel. Menurut dia, level baru yang lebih realistis justru berada di sekitar USD80 per barel atau sekitar Rp1.352.000 per barel.

Kenaikan ini tak lain karena perubahan struktur pasar global yang lebih dalam. Ketegangan geopolitik yang belum sepenuhnya reda serta rapuhnya rantai pasok membuat harga energi cenderung bertahan tinggi.

Dalam wawancara dengan CNBC, Boockvar melihat negara-negara kini mulai mengubah cara pandang terhadap cadangan komoditas strategis. Bukan hanya soal minyak, tetapi juga gas, pupuk hingga logam penting mulai dikumpulkan sebagai langkah antisipasi.

“Setiap negara akan membangun cadangan strategis, bukan hanya minyak mentah, tetapi juga gas, pupuk, tembaga, perak, dan nikel. Karena kita pikir sudah belajar dari Covid agar tidak kekurangan pasokan. Sekarang kita diingatkan lagi,” kata Boockvar, dikutip dari Seeking Alpha, Kamis, 26 Maret 2026.

Perubahan perilaku ini membuat permintaan tetap tinggi, bahkan ketika konflik mereda. Akibatnya, harga sulit turun ke level sebelumnya. Selain itu, faktor keamanan global menjadi pengganjal utama. Ancaman terhadap jalur distribusi energi dinilai masih akan membayangi, bahkan jika kesepakatan damai tercapai.

“Harga baru minyak setelah ini akan lebih mendekati USD80, bukan USD65, dengan risiko tetap naik,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa ancaman kecil sekalipun dapat mengganggu distribusi energi global. “Yang dibutuhkan hanya satu orang dengan drone untuk mengancam jalur pengiriman.”

Kondisi ini membuat pasar energi berada dalam ketidakpastian ekstrem. Jalur distribusi minyak global, menurut Boockvar, kini berada dalam situasi biner. Entah sepenuhnya terbuka atau langsung terganggu, tanpa ruang di tengah.

Tekanan harga energi tidak hanya dirasakan negara tertentu. Dampaknya menjalar luas ke berbagai kawasan, mulai dari Asia Tenggara hingga Eropa, seiring tingginya biaya energi yang harus ditanggung.

Meski Amerika Serikat memiliki posisi relatif kuat sebagai produsen minyak, hal itu tidak serta-merta melindungi konsumennya dari lonjakan harga. “Dari sisi pasokan, ya,” katanya. Namun ia menegaskan, “kita semua tetap harus menghadapi harga yang tinggi ini.”

Situasi ini menunjukkan satu hal yang makin jelas. Produksi domestik tidak lagi cukup untuk menahan tekanan harga global. Pasar komoditas yang saling terhubung membuat dampak krisis energi terasa merata, tanpa batas wilayah.(*)

Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Moh. Alpin Pulungan

Asisten Redaktur KabarBursa.com. Jurnalis yang telah berkecimpung di dunia media sejak 2020. Pengalamannya mencakup peliputan isu-isu politik di DPR RI, dinamika hukum dan kriminal di Polda Metro Jaya, hingga kebijakan ekonomi di berbagai instansi pemerintah. Pernah bekerja di sejumlah media nasional dan turut terlibat dalam liputan khusus Ada TNI di Program Makan Bergizi Gratis Prabowo Subianto di Desk Ekonomi Majalah Tempo.

Lulusan Sarjana Hukum Universitas Pamulang. Memiliki minat mendalam pada isu Energi Baru Terbarukan dan aktif dalam diskusi komunitas saham Mikirduit. Selain itu, ia juga merupakan alumni Jurnalisme Sastrawi Yayasan Pantau (2022).