KABARBURSA.COM — Analis menilai, program nuklir sipil Iran tidak memberikan dampak signifikan terhadap harga uranium global dalam jangka menengah, meskipun berpotensi menambah jumlah reaktor aktif di dunia.
Analis Komoditas dan Founder Traderindo, Wahyu Tribowo Laksono mengatakan, tambahan reaktor dari Iran tidak cukup besar untuk mengubah keseimbangan permintaan uranium global yang saat ini didorong oleh ekspansi nuklir di negara-negara besar.
“Secara teoritis memang menambah daftar reaktor aktif dunia, tetapi skalanya terlalu kecil untuk mengubah kurva permintaan global,” ujar Wahyu kepada KabarBursa.com, Rabu, 25 Maret 2026.
Ia menjelaskan, permintaan uranium saat ini lebih banyak ditentukan oleh ekspansi besar di China serta kebangkitan kembali energi nuklir di Eropa dan Amerika Serikat.
Selain itu, struktur pasokan uranium global juga membuat dampak dari Iran cenderung terbatas. Dalam skema kerja sama internasional, Iran tidak akan menjadi produsen bahan bakar nuklir mandiri.
“Iran justru akan menjadi importir bahan bakar nuklir jadi, yang berarti distribusi uranium tetap berada dalam pengawasan internasional dan tidak menambah tekanan langsung pada pasar,” kata dia.
Data global menunjukkan skala peran Iran memang relatif kecil. Berdasarkan World Nuclear Association, dunia memiliki 438 reaktor operasional dengan kapasitas sekitar 400.581 MWe, serta 78 reaktor dalam pembangunan.
Kebutuhan uranium global pada 2025 diperkirakan mencapai sekitar 68.920 ton uranium, dengan permintaan terbesar berasal dari Amerika Serikat, China, dan Prancis.
Sementara itu, Iran saat ini hanya memiliki satu reaktor operasional berkapasitas 915 MWe dan satu reaktor dalam pembangunan sekitar 974 MWe. Kebutuhan uranium Iran diperkirakan hanya sekitar 149 ton, atau sekitar 0,2 persen dari total permintaan global.
Jika dibandingkan, Amerika Serikat memiliki 94 reaktor, China 61 reaktor, dan Prancis 57 reaktor, yang secara kolektif mendominasi konsumsi uranium dunia.
Di sisi lain, tren global menunjukkan permintaan uranium justru didorong oleh ekspansi nuklir skala besar. International Energy Agency (IEA) menyebut energi nuklir tengah memasuki “era baru”, dengan lebih dari 40 negara mengembangkan atau memperluas kapasitasnya.
Reuters juga mencatat output listrik nuklir global berpotensi mencetak rekor baru pada 2025, sementara proyek reaktor baru terus berkembang di China, India, Turki, dan Amerika Serikat.
Dari sisi pasokan, produksi uranium global masih terkonsentrasi pada beberapa negara utama seperti Kazakhstan, Kanada, dan Namibia. Selain itu, pengembangan tambang uranium membutuhkan waktu panjang, antara 10 hingga 20 tahun sejak penemuan hingga produksi.
Kondisi ini membuat harga uranium lebih sensitif terhadap ekspansi nuklir global jangka panjang dibandingkan perubahan kecil dari satu negara seperti Iran.
Dengan demikian, masuknya Iran dalam pengembangan nuklir sipil tidak diperkirakan menjadi faktor utama yang menggerakkan harga uranium global, yang saat ini lebih ditentukan oleh dinamika permintaan dari negara-negara besar dan keterbatasan pasokan jangka panjang. (*)