KABARBURSA.COM – Amerika Serikat mulai memberi sinyal baru ke pasar energi global. Setelah berbulan-bulan cenderung menahan ekspansi, perusahaan minyak dan gas AS kini perlahan kembali membuka keran produksi di tengah harga energi yang melonjak akibat perang Iran.
Data Baker Hughes menunjukkan jumlah rig minyak dan gas aktif di Amerika Serikat kembali bertambah dalam empat pekan berturut-turut hingga 15 Mei 2026. Ini menjadi kenaikan mingguan terpanjang sejak September tahun lalu dan mulai dibaca pasar sebagai tanda industri energi AS sedang bersiap menghadapi era harga minyak tinggi yang lebih lama.
Total rig aktif kini naik menjadi 551 unit atau tertinggi sejak akhir Maret. Dari jumlah tersebut, rig minyak bertambah lima menjadi 415 unit, level tertinggi sejak November 2025. Sebaliknya, rig gas justru turun tipis menjadi 128 unit.
Perubahan arah ini muncul setelah industri energi AS sempat sangat berhati-hati selama beberapa tahun terakhir. Sejak 2023 hingga 2025, jumlah rig terus menurun karena harga minyak yang melemah membuat perusahaan migas lebih fokus menjaga arus kas, membayar utang, dan membagikan keuntungan kepada pemegang saham dibanding membuka proyek produksi baru.
Namun perang Iran mulai mengubah perhitungan tersebut.
Lonjakan harga minyak membuat pasar percaya fase energi murah mungkin mulai berakhir. Harga WTI yang kini bergerak di atas USD100 per barel memberi ruang napas baru bagi perusahaan energi AS untuk kembali memperluas pengeboran.
Pasar juga mulai melihat peluang bahwa konflik di Timur Tengah tidak akan selesai dalam waktu cepat. Ketidakpastian di Selat Hormuz membuat risiko gangguan pasokan global tetap tinggi, sementara konsumsi energi dunia masih terus berjalan.
Situasi itu membuat Amerika Serikat kembali berada di posisi strategis sebagai penyeimbang pasar energi global.
Lembaga Informasi Energi AS atau EIA kini memperkirakan produksi minyak mentah Amerika akan naik dari rekor 13,6 juta barel per hari pada 2025 menjadi sekitar 13,7 juta barel per hari pada 2026. Kenaikannya memang belum agresif, tetapi cukup memberi pesan bahwa industri mulai bergerak keluar dari mode defensif.
Produksi Gas AS Naik 110,6 Miliar
Di sisi gas alam, arah kenaikannya bahkan terlihat lebih jelas. Produksi gas AS diproyeksikan naik dari 107,7 miliar kaki kubik per hari menjadi sekitar 110,6 miliar kaki kubik per hari pada tahun depan.
Menariknya, ekspansi produksi gas terjadi justru ketika harga gas diperkirakan sedikit melemah pada 2026. Ini menunjukkan perusahaan energi mulai menyiapkan strategi jangka panjang, terutama untuk memenuhi permintaan ekspor LNG dan kebutuhan energi industri global yang masih kuat.
Pasar kini mulai memperhatikan satu pertanyaan besar berikutnya: apakah tambahan produksi AS cukup untuk menahan reli harga energi dunia?
Jawabannya belum tentu mudah.
Meski jumlah rig mulai naik, total rig aktif AS sebenarnya masih lebih rendah sekitar 4 persen dibanding periode yang sama tahun lalu. Artinya, industri migas AS belum sepenuhnya kembali ke mode ekspansi besar-besaran seperti era shale boom beberapa tahun lalu.
Perusahaan energi juga masih dibayangi tekanan biaya produksi, ketidakpastian geopolitik, dan arah kebijakan suku bunga tinggi yang membuat pembiayaan proyek energi menjadi lebih mahal.
Di sisi lain, pasar energi global saat ini bergerak sangat sensitif terhadap perkembangan perang Iran. Sedikit gangguan pasokan saja bisa langsung mendorong harga minyak melonjak tajam dalam waktu singkat.
Karena itu, tambahan rig dari AS saat ini lebih banyak dibaca sebagai upaya menjaga keseimbangan pasar ketimbang membanjiri dunia dengan pasokan baru.
Namun satu hal mulai terlihat jelas. Ketika Timur Tengah memanas dan harga minyak kembali tinggi, industri energi Amerika perlahan mulai bangun lagi. Dan jika tren ini terus berlanjut, pasar energi global bisa memasuki babak baru dengan persaingan pasokan yang semakin agresif pada 2026.(*)
SEO Description:
SEO Keywords: