Logo
>

Bahan Baku Impor Dominan, Ekonom: Industri RI Hadapi Risiko Besar

Biaya logistik tinggi dan dominasi impor bahan baku membuat industri Indonesia semakin rentan terhadap gangguan rantai pasok global dan kenaikan harga.

Ditulis oleh Citra Dara Vresti Trisna
Bahan Baku Impor Dominan, Ekonom: Industri RI Hadapi Risiko Besar
Ilustrasi kenaikan biaya logistik di Indonesia. Foto: dok KabarBursa.com

KABARBURSA.COM — Struktur biaya logistik yang masih tinggi dan ketergantungan industri terhadap bahan baku impor memperbesar dampak gangguan rantai pasok global terhadap perekonomian Indonesia.

Data pemerintah menunjukkan biaya logistik Indonesia masih berada di kisaran 14,29 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Angka ini lebih tinggi dibanding negara maju seperti Amerika Serikat dan Belanda yang berada di sekitar 8 persen, serta Eropa di kisaran 9–10 persen.

Kondisi tersebut membuat harga barang di dalam negeri lebih sensitif terhadap kenaikan biaya distribusi.

Dari sisi komponen biaya, bahan bakar menjadi faktor dominan dalam operasional logistik. Pada transportasi darat, biaya bahan bakar menyumbang sekitar 31 persen dari total biaya, bahkan dapat mencapai 40–50 persen pada subsektor tertentu seperti penyeberangan.

Dengan struktur biaya seperti itu, kenaikan harga energi dapat langsung meningkatkan biaya logistik dan menekan margin pelaku usaha.

Di sisi lain, industri domestik masih bergantung besar pada pasokan bahan baku impor. Data menunjukkan impor bahan baku dan penolong mencapai sekitar 72,5 persen dari total impor pada Januari–Maret 2025.

Sementara pada Januari 2026, porsinya masih berada di kisaran 70,2 persen dari total impor nasional, dengan nilai mencapai USD14,88 miliar dari total impor USD21,20 miliar.

Ketergantungan tersebut membuat industri rentan terhadap gangguan pasokan global, terutama jika terjadi keterlambatan pengiriman bahan baku dan komponen produksi.

Sebelumnya, Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede mengingatkan bahwa gangguan jalur pelayaran global dapat berdampak langsung terhadap ketersediaan bahan baku dan kelangsungan produksi industri dalam negeri.

“Pada kondisi seperti ini, industri dalam negeri berisiko menghadapi keterlambatan bahan baku, komponen, dan barang modal, sehingga biaya persediaan naik dan jadwal produksi terganggu, terutama bagi sektor yang mengandalkan pasokan tepat waktu,” ujarnya kepada KabarBursa.com, Selasa, 17 Maret 2026

Dalam situasi gangguan rantai pasok global, industri berpotensi menghadapi kenaikan biaya persediaan serta gangguan jadwal produksi.

Kombinasi antara tingginya biaya logistik dan ketergantungan impor tersebut menjadi faktor yang memperbesar tekanan terhadap biaya produksi dan harga barang di dalam negeri ketika terjadi gangguan pada sistem perdagangan global.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Citra Dara Vresti Trisna

Citra Dara Vresti Trisna adalah Asisten Redaktur KabarBursa.com yang memiliki spesialisasi dalam analisis saham dan dinamika pasar modal. Dengan ketelitian analitis dan pemahaman mendalam terhadap tren keuangan, ia berperan penting dalam memastikan setiap publikasi redaksi memiliki akurasi data, konteks riset, dan relevansi tinggi bagi investor serta pembaca profesional. Gaya kerjanya terukur, berstandar tinggi, dan berorientasi pada kualitas jurnalistik berbasis fakta.