Logo
>

Bahlil: PNBP ESDM Capai Rp138,37 Triliun, Lampaui Target APBN 2025

PNBP ESDM 2025 tembus Rp138,37 triliun atau 108,56 persen dari target, ditopang sektor migas, minerba, dan energi.

Ditulis oleh Gusti Ridani
Bahlil: PNBP ESDM Capai Rp138,37 Triliun, Lampaui Target APBN 2025
PNBP ESDM 2025 capai Rp138,37 triliun, melampaui target APBN dan jadi penopang fiskal di tengah kebutuhan pembiayaan negara. Foto: Gusti Ridani/KabarBursa

KABARBURSA.COM – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat Pendapatan Negara Bukan Pajak atau PNBP sebesar Rp138,37 triliun pada tahun 2025, melampaui target Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dengan realisasi mencapai 108,56 persen. Capaian itu menjadi salah satu penopang penting bagi program prioritas pemerintah, di tengah kebutuhan fiskal yang terus meningkat.

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengatakan pencapaian tersebut merupakan hasil kerja kolektif di seluruh sektor ESDM yang membutuhkan inovasi, konsentrasi, dan totalitas.

“Saya harus jujur ​​mengatakan bahwa ini tim kerja. Kerja-kerja yang membutuhkan inovasi, konsentrasi, dan totalitas. Kenapa ini kita harus lakukan? Karena negara membutuhkan dana untuk bagaimana bisa membiayai program-program kerakyatan,” ujar Bahlil saat konferensi pers capaian kinerja sektor ESDM yang dikutip Jumat 10 April 2026.

PNBP Kementerian ESDM pada tahun 2025 ditopang oleh berbagai sumber penerimaan, mulai dari PNBP Sumber Daya Alam (SDA) mineral dan batu bara, SDA panas bumi, hingga PNBP sektor lainnya.

Komponen lainnya meliputi layanan BLU, iuran badan usaha hilir migas, domestic market obligat (DMO) migas, kompensasi DMO batu bara, denda smelter, denda Penertiban Kawasan Hutan (PKH), layanan layanan ketenagalistrikan, museum, pemanfaatan Barang Milik Negara (BMN), dan jasa lainnya.

Di sektor hulu migas, Bahlil menyampaikan lift minyak bumi sepanjang tahun 2025 mencapai 605,3 ribu barel per hari atau 100,05 persen dari target APBN.

Sementara lift gas bumi rata-rata tercatat 951,8 ribu barel setara minyak per hari, masih di bawah target APBN sebesar 1.005 ribu barel.

Meski pengangkatan gas belum mencapai target, pemerintah memastikan seluruh kebutuhan gas nasional pada tahun 2025 terpenuhi dari produksi dalam negeri tanpa impor.

Dari total pasokan gas bumi sebesar 5.600 BBTUD, sebanyak 3.908 BBTUD atau 69 persen dimanfaatkan untuk kebutuhan domestik. Pemanfaatan itu mencakup hilirisasi, bahan bakar gas, jaringan gas rumah tangga, peningkatan produksi migas, ketenagalistrikan, LNG, dan LPG. Sisanya sebesar 1.691 BBTUD atau 31 persen ekspor.

Dari sisi investasi, total investasi sektor ESDM pada tahun 2025 mencapai USD31,7 miliar. Angka itu terdiri dari investasi subsektor minerba sebesar USD6,7 miliar, migas USD18 miliar, listrik USD4,6 miliar, serta energi baru terbarukan dan konservasi energi (EBTKE) sebesar USD2,4 miliar.

Untuk mendorong investasi lebih lanjut, Bahlil mengatakan pemerintah akan menugaskan PT PLN (Persero) mempercepat pembangunan pembangkit listrik baru yang telah disetujui dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL).

Di subsektor mineral dan batu bara, total produksi batu bara nasional sepanjang tahun 2025 mencapai 790 juta ton.

Dari jumlah tersebut, 32 persen dimanfaatkan untuk kebutuhan domestik kelistrikan dan nonkelistrikan, sebanyak 514 juta ton atau 65,1 persen diekspor, dan 22 juta ton atau 2,8 persen dipilih sebagai stok.

Pada sektor energi baru, bauran energi EBT sepanjang tahun 2025 tercatat mencapai 15,75 persen, meningkat dibandingkan tahun sebelumnya.

Total kapasitas terpasang EBT hingga Desember 2025 mencapai 15.630 MW, dengan tambahan kapasitas tahun lalu menjadi yang terbesar dalam lima tahun terakhir.

Secara rinci, kapasitas pembangkit EBT terdiri dari hidro 7.587 MW, bioenergi 3.148 MW, panas bumi 2.744 MW, surya 1.494 MW, gasifikasi batu bara 450 MW, angin 152 MW, sampah 36 MW, dan lainnya 18 MW.

Di sektor bioenergi, pemerintah juga melanjutkan mandatori B40, yakni campuran 40 persen bahan bakar nabati berbasis minyak sawit dan 60 persen solar.

Sepanjang Januari hingga Desember 2025, pemanfaatan biodiesel domestik mencapai 14,2 juta kiloliter atau 105,2 persen dari target indikator kinerja utama sebesar 13,5 juta kiloliter.

Sementara itu, kebijakan B40 disebut mampu menurunkan impor solar hingga 3,3 juta kiloliter. Selain itu, program ini juga memberikan manfaat ekonomi berupa penghematan devisa sebesar Rp130,21 triliun, pengurangan emisi sebesar 38,88 juta ton CO2 ekuivalen, serta peningkatan nilai tambah minyak sawit mentah (CPO) menjadi biodiesel sebesar Rp20,43 triliun.

Di sektor kelistrikan, konsumsi listrik per kapita masyarakat Indonesia pada tahun 2025 mencapai 1.584 kWh atau 108,2 persen dari target 1.464 kWh. Realisasinya meningkat dari capaian tahun sebelumnya sebesar 1.411 kWh. Sementara kapasitas terpasang pembangkit listrik nasional juga naik 7 gigawatt dibandingkan tahun 2024, menjadi 107,51 GW.

Untuk memperluas akses listrik masyarakat, pemerintah menjalankan program Listrik Desa (Lisdes) dan Bantuan Pasang Baru Listrik (BPBL). Sepanjang tahun 2025, program Lisdes telah melistriki 77.616 pelanggan di 1.516 lokasi.

Adapun program BPBL sampai dengan 31 Desember 2025 telah terpasang pada 205.968 rumah tangga.

“Arahan dari Bapak Presiden Prabowo, bahwa sampai dengan tahun 2029-2030, semua desa-desa atau dusun-dusun yang jumlahnya 5.700 dan 4.400, harus semua listriknya sudah ada. Kehadiran listrik itu sebagai bentuk kehadiran sosial, dan negara harus hadir,” tegas Bahlil.

Selain capaian kinerja, pemerintah juga menerbitkan berbagai regulasi untuk mereformasi sektor ESDM sepanjang tahun 2025.

Beberapa di antaranya mencakup aturan tentang pertambangan inklusif dan partisipatif melalui Permen ESDM Nomor 18 Tahun 2025, sumur masyarakat minyak melalui Permen ESDM Nomor 14 Tahun 2025, tata kelola RKAB melalui Permen ESDM Nomor 17 Tahun 2025, serta penemuan pengembangan energi baru terbarukan melalui Permen ESDM 4, 5, dan 10 Tahun 2025.

Penciptaan lapangan kerja juga menjadi bagian dari kontribusi sektor ESDM terhadap perekonomian nasional. Sepanjang tahun 2025, sektor migas, minerba, ketenagalistrikan, dan EBTKE tercatat menyerap 871.574 tenaga kerja.

Dengan capaian PNBP yang melampaui target, investasi yang tetap tumbuh, serta kinerja produksi dan elektrifikasi yang terus menguat, sektor ESDM kembali menunjukkan peran strategisnya sebagai salah satu penopang utama penerimaan negara dan pertumbuhan ekonomi nasional.(*)

Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang