KABARBURSA.COM – Ketegangan geopolitik di Timur Tengah masih menjadi faktor utama yang memengaruhi pergerakan harga emas dan nilai tukar rupiah pada pekan depan.
Pengamat komoditas dan mata uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan harga emas dunia pada Sabtu, 30 Mei 2026 ditutup menguat ke level USD4.539.000 per troy ounce. Hal ini mendorong harga logam mulia domestik ke kisaran Rp2.799.000 per gram.
Menurut Ibrahim, pergerakannya emas dalam sepekan ke depan masih akan sangat dipengaruhi perkembangan konflik di kawasan Timur Tengah, khususnya terkait negosiasi antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Ia memperkirakan apabila pada pekan depan harga emas dunia terkoreksi ke area support pertama di USD4.434.000 per troy ounce, maka harga logam mulia berpotensi turun ke level Rp2.779.000 per gram.
"Kalau seandainya melemah ke support kedua, emas dunia akan ke level USD4.301.000 per troy ounce, sementara logam mulia di harga Rp2.679.000," ujar Ibrahim dalam keterangannya, Minggu, 31 Mei 2026.
Kendati begitu, peluang penguatan emas masih terbuka. Ibrahim memperkirakan pada pekan depan harga emas dunia bisa naik ke level resistance pertama di USD4.642.000 per troy ounce, sementara logam mulia ke level Rp2.819.000 per gram.
Bahkan jika momentum kenaikan berlanjut, lanjut Ibrahim, harga emas dunia berpotensi menguji resistance kedua di USD4.768.000 per troy ounce.
"Sementara logam mulianya berada di level Rp2.919.000 per gram," tutur dia.
Selain emas, Ibrahim juga menyoroti pergerakan nilai rupiah yang masih menghadapi tekanan. Ia memprediksi, rupiah berpotensi melemah menuju Rp18.150 per dolar AS pada pekan pertama Juni 2026.
Menurutnya, volatilitas yang terjadi pada harga emas dan nilai tukar rupiah tidak lepas dari perkembangan geopolitik yang masih memanas di Timur Tengah.
Ia menjelaskan proses negosiasi antara AS dan Iran masih menyisakan sejumlah perbedaan mendasar, terutama terkait isu pengayaan uranium yang menjadi syarat penting dalam rancangan kesepakatan yang didorong Washington.
"Iran tidak memasukkan masalah pengayaan uranium. Tapi dari pihak Amerika mengatakan bahwa akan ada kesepakatan," jelasnya.
Ibrahim menilai keputusan akhir terkait kesepakatan antara AS dan Iran kini berada di tangan Presiden AS, Donald Trump. Pasar pun dinilai akan menantikan akhir dari kesepakatan tersebut.
Ibrahim menilai keputusan akhir terkait kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran kini berada di tangan Presiden AS Donald Trump. Pasar menantikan apakah kesepakatan damai dapat tercapai tanpa memasukkan isu pengayaan uranium yang selama ini menjadi titik perdebatan utama kedua negara.
"Keputusan untuk kesepakatan ini sudah ada di tangan Donald Trump yang kemungkinan besar dalam minggu ini akan diumumkan. Nah ini yang sebenarnya membuat ketegangan di Selat Hormuz masih terus terjadi," pungkasnya. (*)