KABARBURSA.COM – Anggota Komisi XI DPR RI dari Fraksi PKS, Amin Ak, mengingatkan target pertumbuhan ekonomi sebesar 5,8 persen hingga 6,5 persen dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2027 harus dibarengi kebijakan yang mampu menggerakkan ekonomi rakyat. Menurutnya, target pertumbuhan tidak cukup hanya ditetapkan di atas kertas tanpa dibangun di atas fondasi ekonomi yang kuat.
Anggota Komisi XI DPR RI dari Fraksi PKS, Amin Ak, mengatakan target pertumbuhan ekonomi hanya akan tercapai apabila pemerintah menghadirkan kebijakan yang mampu menggerakkan ekonomi rakyat. Menurutnya, penguatan daya beli masyarakat, penciptaan lapangan kerja berkualitas, peningkatan investasi produktif, hingga percepatan reformasi struktural harus berjalan beriringan.
"Target yang tinggi harus dibangun di atas fondasi yang kuat agar tidak sekadar menjadi angka di atas kertas," tegas Amin Dalam keterangan tertulis, Selasa, 30 Juni 2026.
Ia menjelaskan RAPBN 2027 masih mempertahankan sebagian besar asumsi makro pemerintah, termasuk target pertumbuhan ekonomi pada kisaran 5,8 persen hingga 6,5 persen. Namun, menurutnya, target tersebut perlu ditopang kebijakan yang mampu menjawab berbagai persoalan fundamental perekonomian.
Amin menilai pemulihan daya beli masyarakat hingga kini belum sepenuhnya terjadi. Berkurangnya jumlah kelas menengah, melemahnya tabungan masyarakat berpenghasilan rendah, serta tingginya harga kebutuhan pokok menunjukkan konsumsi rumah tangga masih belum cukup kuat menjadi mesin utama pertumbuhan ekonomi.
Persoalan lain juga terlihat dari pasar tenaga kerja. Meski tingkat pengangguran terbuka menunjukkan tren penurunan, mayoritas pekerja Indonesia masih berada di sektor informal. Kondisi tersebut menjadi sinyal bahwa penciptaan lapangan kerja formal dan berkualitas masih menjadi pekerjaan rumah yang belum selesai.
Tak hanya itu, Amin juga menyoroti penurunan daya saing Indonesia di tingkat global. Menurutnya, tingginya Incremental Capital Output Ratio (ICOR), melambatnya investasi produktif, serta menurunnya daya saing menjadi alarm bahwa reformasi struktural tak lagi bisa ditunda.
"Pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan tidak cukup hanya mengandalkan belanja pemerintah. Kita membutuhkan iklim investasi yang lebih kompetitif, birokrasi yang efisien, kepastian hukum, serta produktivitas yang lebih tinggi," ujarnya.
Dari sisi stabilitas makroekonomi, Amin mengingatkan pentingnya menjaga nilai tukar rupiah agar tidak terus mengalami tekanan. Ia juga meminta pemerintah memberi perhatian serius terhadap inflasi, terutama harga pangan yang paling cepat memukul masyarakat berpendapatan rendah.
Menurutnya, pelemahan rupiah yang berlangsung terus-menerus akan meningkatkan biaya impor dan pada akhirnya menggerus daya beli masyarakat.
Selain itu, Amin meminta sektor perbankan lebih agresif menyalurkan kredit ke sektor-sektor produktif. Intermediasi yang kuat, kata dia, akan mempercepat investasi, memperluas kesempatan kerja, sekaligus meningkatkan kapasitas produksi nasional.
Karena itu, ia berharap RAPBN 2027 benar-benar menjadi instrumen untuk memperkuat fondasi ekonomi nasional melalui peningkatan produktivitas, penguatan kelas menengah, penciptaan lapangan kerja formal, serta reformasi sektor investasi dan keuangan.
"APBN harus menjadi mesin pertumbuhan yang inklusif. Keberhasilan ekonomi tidak diukur semata dari tingginya angka pertumbuhan, tetapi juga dari kemampuannya meningkatkan kesejahteraan rakyat, memperluas kesempatan kerja, memperkuat kelas menengah, dan menjaga stabilitas ekonomi nasional," kata Amin.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.