Logo
>

BEI Pelototi Saham WBSA yang Langsung Masuk HSC dan FCA

BEI soroti saham WBSA yang baru IPO namun langsung masuk kategori HSC dan FCA akibat kepemilikan saham terkonsentrasi.

Ditulis oleh Desty Luthfiani
BEI Pelototi Saham WBSA yang Langsung Masuk HSC dan FCA
BEI awasi saham WBSA yang langsung masuk HSC dan FCA usai IPO karena free float rendah dan kepemilikan saham terkonsentrasi. Foto: Desty Luthfiani/KabarBursa.

KABARBURSA.COM – Bursa Efek Indonesia (BEI) menyoroti fenomena emiten baru yang harga sahamnya melonjak tinggi setelah initial public offering (IPO), namun justru masuk dalam kategori High Shareholding Concentration (HSC) akibat kepemilikan saham yang terlalu terkonsentrasi.

Pjs Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik, mengakui pihaknya juga mempertanyakan fenomena tersebut. Menurut dia, bursa akan melakukan pengawasan lebih lanjut terhadap proses distribusi saham saat IPO maupun transaksi di pasar sekunder.

“Kami punya pertanyaan yang sama. Nah, terus kenapa? Ya tentu itu nanti akan oleh pengawas untuk dilakukan tindakan selanjutnya,” ujar Jeffrey di Gedung BEI, Rabu, 13 Mei 2026.

Saat ditanya mengenai langkah lanjutan yang akan dilakukan bursa, Jeffrey mengatakan pengawasan akan difokuskan pada distribusi saham dan pola transaksi setelah saham diperdagangkan di pasar reguler. “Bagaimana proses distribusi pada saat IPO dan kemudian juga kita perhatikan bagaimana transaksi di pasar sekundernya,” katanya.

Jeffrey menegaskan kondisi saham yang masuk HSC bukan berkaitan dengan isi prospektus perusahaan, melainkan karena struktur kepemilikan saham yang terlalu terkonsentrasi pada segelintir pihak. “Ini kan tidak ada kaitannya dengan prospektus, ini kan kaitannya dengan kepemilikan yang terkonsentrasi,” ujarnya.

Ia memastikan BEI akan mengambil sikap tegas terhadap emiten yang memiliki indikasi kepemilikan saham terkonsentrasi karena berpotensi mengganggu likuiditas dan kualitas perdagangan saham di pasar.

“Kami akan selalu tegas, apabila ditemukan ada indikasi terkonsentrasi akan kami umumkan ke publik dan salah satu konsekuensinya adalah tidak akan bisa masuk ke dalam indeks utama di bursa,” kata Jeffrey.

Sebelumnya diberitakan, PT BSA Logistics Indonesia Tbk dengan kode saham WBSA menjadi emiten pertama dan satu-satunya yang melantai di Bursa Efek Indonesia sepanjang 2026. Perseroan resmi tercatat pada 10 April 2026 dengan harga IPO Rp168 per saham dan melepas 1,8 miliar lembar saham ke publik.

Namun belum lama melantai di bursa, saham WBSA langsung masuk daftar High Shareholding Concentration berdasarkan pengumuman resmi bursa nomor Peng-00010-HSC/BEI.WAS/05-2026 dan KSEI-3075/DIR/0526.

Struktur kepemilikan saham WBSA tercatat sangat terkonsentrasi. Berdasarkan keterbukaan informasi per 30 April 2026, PT Tiga Beruang Kalifornia Pte Ltd menjadi pemegang saham pengendali dengan kepemilikan mencapai 6,85 miliar saham atau setara 79,01 persen.

Selain itu, Caerdydd Investments Pte Ltd memegang 422,14 juta saham atau 4,87 persen, Lion Trust Singapore Limited sebesar 356,89 juta saham atau 4,11 persen, serta Zico Trust S Ltd sebanyak 324,18 juta saham atau 3,74 persen.

Secara agregat, empat pemegang saham tersebut menguasai sekitar 95,82 persen saham WBSA. Kondisi ini membuat jumlah saham yang benar-benar beredar di publik atau free float menjadi sangat terbatas.

Data Stockbit menunjukkan free float WBSA hanya sekitar 12,12 persen atau masih di bawah ketentuan minimum free float BEI sebesar 15 persen untuk perusahaan tercatat.

Akibat kondisi tersebut, saham WBSA juga masuk ke dalam mekanisme Full Call Auction (FCA) di Papan Pemantauan Khusus. Sistem FCA membuat perdagangan saham tidak berlangsung secara kontinu seperti pasar reguler karena order beli dan jual dikumpulkan terlebih dahulu sebelum dicocokkan pada waktu tertentu.

Berdasarkan data perdagangan Selasa, 12 Mei 2026, saham WBSA sempat berada di level 1.175 dan bergerak ke 1.240 pada pukul 09.55 WIB. Namun data Indicative Equilibrium Price (IEP) menunjukkan potensi harga keseimbangan di level 1.060 atau berpotensi turun sekitar 9,79 persen.

Nilai Indicative Equilibrium Volume (IEV) tercatat hanya sebesar 497,98 ribu saham yang menunjukkan likuiditas perdagangan masih sangat tipis.

Di pasar reguler, transaksi didominasi broker XL dengan nilai beli Rp2,5 miliar dan nilai jual Rp3,6 miliar. Disusul broker MU dengan pembelian Rp1,2 miliar dan penjualan Rp61,1 juta serta broker DR dengan nilai beli Rp1,1 miliar.

Sementara di pasar negosiasi, broker XL tercatat melakukan transaksi beli dan jual masing-masing Rp642,4 juta dengan harga rata-rata 1.071. Aktivitas investor asing juga terpantau minim dengan hanya broker YP mencatat pembelian bersih sekitar Rp2,8 juta di pasar reguler.(*)

Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Desty Luthfiani

Desty Luthfiani seorang jurnalis muda yang bergabung dengan KabarBursa.com sejak Desember 2024 lalu. Perempuan yang akrab dengan sapaan Desty ini sudah berkecimpung di dunia jurnalistik cukup lama. Dimulai sejak mengenyam pendidikan di salah satu Universitas negeri di Surakarta dengan fokus komunikasi jurnalistik. Perempuan asal Jawa Tengah dulu juga aktif dalam kegiatan organisasi teater kampus, radio kampus dan pers mahasiswa jurusan. Selain itu dia juga sempat mendirikan komunitas peduli budaya dengan konten-konten kebudayaan bernama "Mata Budaya". 

Karir jurnalisnya dimulai saat Desty menjalani magang pendidikan di Times Indonesia biro Yogyakarta pada 2019-2020. Kemudian dilanjutkan magang pendidikan lagi di media lokal Solopos pada 2020. Dilanjutkan bekerja di beberapa media maenstream yang terverifikasi dewan pers.

Ia pernah ditempatkan di desk hukum kriminal, ekonomi dan nasional politik. Sekarang fokus penulisan di KabarBursa.com mengulas informasi seputar ekonomi dan pasar modal.

Motivasi yang diilhami Desty yakni "do anything what i want artinya melakukan segala sesuatu yang disuka. Melakukan segala sesuatu semaksimal mungkin, berpegang teguh pada kebenaran dan menjadi bermanfaat untuk Republik".