KABARBURSA.COM — PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) mulai memberi sinyal menarik menjelang Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan yang dijadwalkan berlangsung pada 22 Mei 2026. Di tengah tekanan industri batu bara global dan ketidakpastian ekonomi, perusahaan justru membawa agenda pembelian kembali saham atau buyback ke meja rapat pemegang saham.
Di permukaan, agenda RUPS AADI terlihat normatif. Ada pengesahan laporan keuangan, penggunaan laba bersih, penunjukan auditor, hingga remunerasi direksi. Namun di antara tujuh mata acara yang diajukan, buyback menjadi bagian yang paling menyita perhatian pasar.
Perseroan mengusulkan pembelian kembali saham dengan jumlah maksimal 10 persen dari modal ditempatkan. Langkah ini dilakukan berdasarkan ketentuan POJK Nomor 29 Tahun 2023 mengenai buyback saham emiten.
“Jumlah nilai nominal seluruh saham yang akan dibeli kembali oleh Perseroan tidak akan melebihi 10 persen dari jumlah modal yang ditempatkan dalam Perseroan,” tulis manajemen dalam dokumen pemanggilan RUPS yang dilihat Kamis, 14 Mei 2026.
Buyback pada dasarnya bukan sekadar aksi korporasi teknikal. Dalam banyak kasus, langkah ini dibaca sebagai sinyal bahwa manajemen menilai valuasi saham perusahaan berada di bawah nilai wajarnya. Ketika perusahaan memilih membeli kembali sahamnya sendiri, pasar biasanya menangkap pesan bahwa emiten memiliki keyakinan terhadap fundamental dan prospek jangka panjang bisnisnya.
Dalam konteks AADI, pesan tersebut menjadi menarik karena muncul di tengah perubahan lanskap industri energi global. Harga batu bara dalam beberapa waktu terakhir bergerak fluktuatif, sementara tekanan transisi energi dan isu lingkungan terus membayangi sektor ini.
Harga batu bara global dalam beberapa bulan terakhir memang bergerak fluktuatif. Di pasar ICE Newcastle, harga kontrak batu bara sempat melonjak hingga mendekati USD139 per ton pada awal Maret 2026, menjadi level tertinggi sejak akhir 2024. Lonjakan itu dipicu ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan kekhawatiran gangguan pasokan energi global.
Namun reli tersebut tidak bertahan lama. Memasuki April hingga Mei 2026, harga mulai terkoreksi seiring melemahnya permintaan global dan meningkatnya tekanan transisi energi. Pada perdagangan 8 Mei 2026, harga batu bara Newcastle tercatat turun ke kisaran USD131,75 per ton, melemah sekitar 1,6 persen dalam sepekan terakhir.
Tekanan datang dari beberapa arah sekaligus. Permintaan batu bara di Asia mulai melambat, sementara stok di India masih relatif tinggi. Di saat yang sama, porsi energi terbarukan dalam bauran energi global terus meningkat dan mulai mengurangi agresivitas pembelian batu bara jangka panjang.
Meski begitu, harga batu bara saat ini sebenarnya masih berada di atas rata-rata tahun lalu. Data Bank Mandiri menunjukkan rata-rata harga Newcastle year-to-date hingga awal Mei 2026 berada di level USD123,8 per ton, lebih tinggi dibanding rata-rata sepanjang 2025 yang berada di kisaran USD106,3 per ton.
Di domestik, tren harga juga menunjukkan penguatan terbatas. Kementerian ESDM menetapkan Harga Batu Bara Acuan periode pertama Mei 2026 sebesar USD106,57 per ton untuk batu bara acuan 6.322 GAR. Angka ini naik sekitar 3 persen dibanding periode kedua April 2026 yang berada di level USD103,43 per ton.
Kenaikan juga terjadi pada kelompok batu bara kalori menengah dan rendah. HBA 5.300 GAR naik menjadi USD79,56 per ton, sementara HBA 4.100 GAR naik ke USD55,66 per ton.
Di sisi lain, emiten batu bara juga menghadapi tantangan yang lebih kompleks. Permintaan energi fosil masih tinggi dalam jangka pendek, tetapi investor global mulai semakin selektif terhadap sektor berbasis karbon. Dalam situasi seperti ini, buyback bisa menjadi instrumen untuk menjaga stabilitas harga saham sekaligus memperkuat kepercayaan investor.
AADI sendiri sebelumnya telah mengumumkan keterbukaan informasi perihal rencana buyback tersebut pada April 2026. “Perseroan telah mengumumkan keterbukaan informasi kepada publik atas rencana pembelian kembali saham Perseroan,” tulis manajemen.
Namun pasar kemungkinan tidak hanya menunggu keputusan buyback. Mata acara penggunaan laba bersih tahun buku 2025 juga berpotensi menjadi perhatian investor.
Dalam sektor batu bara, kombinasi buyback dan pembagian dividen sering dibaca sebagai strategi pengembalian nilai kepada pemegang saham di tengah terbatasnya ekspansi agresif. Artinya, investor akan melihat apakah perusahaan lebih memilih menjaga kas, memperkuat valuasi saham, atau tetap agresif membagi laba.
Selain itu, AADI juga akan menyampaikan laporan realisasi penggunaan dana hasil penawaran umum perdana saham atau IPO. Bagian ini penting karena publik akan melihat sejauh mana dana pasar yang telah dihimpun benar-benar dikonversi menjadi penguatan bisnis dan ekspansi operasional.
Di luar aspek teknikal RUPS, agenda AADI kali ini mencerminkan posisi emiten batu bara yang sedang berada di persimpangan. Di satu sisi, sektor energi fosil masih menikmati kebutuhan pasar yang besar. Namun di sisi lain, tekanan global terhadap transisi energi membuat perusahaan harus semakin cermat menjaga persepsi investor dan arah strategi jangka panjangnya.
Karena itu, buyback AADI tidak hanya bicara soal saham. Ia juga bisa dibaca sebagai sinyal bagaimana perusahaan energi mencoba mempertahankan kepercayaan pasar di tengah industri yang sedang berubah cepat.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.