KABARBURSA.COM - Pemerintah akan melelang Surat Utang Negara (SUN). Lelang dilaksanakan Selasa, 20 Januari 2026. Berdasarkan keterangan Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan, pemerintah akan menawarkan sembilan seri SUN.
Lengkapnya, tiga seri Surat Perbendaharaan Negara (SPN) dan enam seri obligasi fixed rate (FR). Kehadiran SPN, yakni SPN01260221, SPN12260423, dan SPN12270107, mengindikasikan fokus pemerintah pada pendanaan jangka pendek melalui instrumen diskonto.
SPN biasanya digunakan untuk menjaga fleksibilitas kas negara karena tenornya relatif singkat dan tidak membawa beban kupon tetap.
Sedangkan enam seri FR akan dilelang dengan kupon bervariasi, antara 5,875 persen hingga 7,125 persen. Seri ini menunjukkan bahwa pemerintah tetap aktif membangun struktur utang jangka menengah hingga panjang.
Seri-seri seperti FR0106 dan FR0107 dengan kupon 7,125 persen cukup menarik bagi investor yang ingin mencari imbal hasil tetap di tengah ketidakpastian global. Sementara seri dengan kupon lebih rendah, seperti FR0109 dan FR0108, biasanya menarik bagi investor yang lebih sensitif terhadap risiko durasi dan volatilitas harga.
Target Lelang SUN
Target indikatif lelang ini ditetapkan sebesar Rp33 triliun, dengan batas maksimal hingga 150 persen dari target tersebut. Artinya, pemerintah membuka ruang untuk menyerap permintaan lebih besar jika respons pasar sangat kuat.
Metode lelang yang digunakan adalah open auction dengan sistem harga beragam (multiple price). Dalam sistem ini, pemenang lelang dengan penawaran kompetitif akan membayar sesuai yield yang mereka ajukan.
Sementara itu, peserta non-kompetitif akan membayar berdasarkan weighted average yield dari penawaran kompetitif yang menang. Mekanisme ini biasanya menciptakan dinamika yang cukup cair, karena investor cenderung menyesuaikan strategi bidding mereka dengan ekspektasi permintaan pasar.
Dari sudut pandang pasar, lelang ini akan menjadi barometer minat investor terhadap risiko Indonesia. Permintaan yang kuat, terutama pada seri tenor panjang, akan mengindikasikan kepercayaan terhadap stabilitas makro dan kebijakan fiskal.
Sebaliknya, jika permintaan cenderung terkonsentrasi di SPN atau seri tenor pendek, itu bisa dibaca sebagai sinyal kehati-hatian, di mana investor lebih memilih fleksibilitas daripada komitmen jangka panjang.
Kombinasi seri yang ditawarkan juga memperlihatkan upaya pemerintah untuk menjangkau berbagai profil investor. Investor institusi seperti dana pensiun, asuransi, dan manajer investasi biasanya lebih menyukai seri FR dengan tenor panjang untuk mencocokkan kewajiban jangka panjang mereka.
Sementara itu, perbankan dan investor pasar uang cenderung memilih SPN karena lebih likuid dan sensitif terhadap manajemen likuiditas jangka pendek.
Dengan struktur seri yang beragam, target fleksibel, dan mekanisme lelang terbuka, pemerintah tampaknya sedang menguji kedalaman pasar obligasi domestik di awal 2026. Hasilnya nanti bukan hanya menentukan biaya utang negara, tetapi juga akan memberi petunjuk penting tentang bagaimana investor memandang prospek ekonomi Indonesia ke depan.(*)