Logo
>

BI Rate Bertahan di 4,75 Persen, Stabilitas Ekonomi Dipertaruhkan?

BI mempertahankan BI-Rate 4,75 persen demi stabilitas, tetapi tekanan global dan arus modal ke aset safe haven membuat efektivitas kebijakan kini kembali dipertanyakan.

Ditulis oleh Yunila Wati
BI Rate Bertahan di 4,75 Persen, Stabilitas Ekonomi Dipertaruhkan?
Bank Indonesia memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan (BI-Rate) di level 4,75 persen. Foto: Dok KabarBursa.

Poin Penting :

    KABARBURSA.COM – Bank Indonesia kembali mempertahankan BI-Rate di level 4,75 persen. Keputusan ini di satu sisi bertujuan untuk menjaga stabilitas, tetapi di sisi lain membuka pertanyaan besar. Apakah Keputusan Bank Indonesia mempertahankan suku bunga di tengah gejolak global justru membuat stabilitas ekonomi semakin dipertaruhkan?

    Pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang berlangsung pada 18–19 November 2025, BI menahan BI-Rate atau suku bunga Deposit Facility 3,75 persen dan Lending Facility 5,50 persen. Keputusan ini tidak sekadar penegasan sikap konservatif, tetapi juga cerminan posisi dilematis yang sedang dihadapi bank sentral. 

    Jika melihat ketidakpastian global yang meningkat, mulai dari penguatan dolar AS, reli harga emas, hingga derasnya arus modal ke aset safe haven, BI memutskan untuk fokus jangka pendek, yaitu menjaga nilai tukar Rupiah tetap stabil dan mempertahankan daya tarik pada aset keuangan domestik.

    Tetapi inilah bagian kritikalnya. Ketergantungan pada aliran modal asing atau portofolio asing, tidak pernah sepenuhnya aman. Ketika aliran dana global sedang mengarah ke emas dan aset dolar, mempertahankan suku bunga bukan hanya soal stabilitas, tetapi juga soal risiko. 

    BI memang menegaskan bahwa ruang penurunan suku bunga masih terbuka, selama inflasi 2025–2026 tetap terjaga dalam target 2,5 ± 1 persen. Tetapi ruang itu menjadi semakin tipis ketika tekanan eksternal tidak kunjung mereda.

    Untuk menyeimbangkan situasi, BI memindahkan instrumen pelonggaran dari suku bunga ke kebijakan makroprudensial. Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial diperkuat, dorongan penurunan suku bunga kredit dipercepat, dan pertumbuhan kredit sektor prioritas didorong melalui percepatan likuiditas perbankan. 

    Ini adalah bentuk pelonggaran yang “diam-diam”, tanpa harus menurunkan BI-Rate.

    Di sisi pasar, BI juga mengaktifkan seluruh bauran stabilisasi, mulai dari intervensi NDF luar negeri, DNDF dan spot domestik, pembelian SBN di pasar sekunder, hingga penerbitan SRBI dan perluasan swap valas dalam yuan dan yen. 

    Tidak hanya itu, pendalaman pasar uang juga dilakukan melalui BI-FRN, OIS tenor panjang, hingga penguatan transaksi valas berbasis LCT yang melibatkan CNY dan JPY.

    Namun apakah bauran ini cukup untuk menjaga stabilitas? Sejauh ini, atap tekanan global masih rendah. The Fed dinilai pasar lebih berhati-hati, di mana kebijakan tarif menahan penurunan inflasi AS dan lemahnya tenaga kerja akibat shutdown, membuat arah FFR tak kunjung jelas. 

    Sementara itu, Jepang, Tiongkok, dan India juga mengalami pelemahan permintaan domestik. Eropa menjadi satu-satunya wilayah yang tampil relatif lebih baik, tetapi itu belum cukup mengangkat proyeksi pertumbuhan global yang hanya 3,1 persen.

    Dalam situasi global seperti ini, keputusan BI menahan suku bunga tampak seperti langkah taktis yang berhati-hati, tetapi dengan risiko yang perlu diawasi ketat. Jika tekanan eksternal terus menekan Rupiah dan aliran modal semakin memilih dolar serta emas, BI mungkin dipaksa menahan suku bunga lebih lama dari yang diinginkan. 

    Sebaliknya, jika kondisi stabil dan inflasi tetap terkendali, peluang penurunan suku bunga dapat kembali terbuka sebagai dorongan bagi sektor riil.

    Pada akhirnya, mempertahankan BI-Rate di 4,75 persen bukan hanya soal stabilitas. Ini adalah bentuk kompromi dalam lanskap global yang tidak menentu. BI ingin memastikan Rupiah aman, kredit tetap mengalir, dan ekonomi tidak kehilangan momentum. 

    Tetapi apakah strategi ini cukup untuk menghadapi tekanan global dalam beberapa bulan ke depan? Pasar akan memberikan jawabannya dan untuk saat ini satu hal jelas, bahwa stabilitas memang dijaga tetapi juga sedang dipertaruhkan.(*)

    Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

    Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

    Gabung Sekarang

    Jurnalis

    Yunila Wati

    Telah berkarier sebagai jurnalis sejak 2002 dan telah aktif menulis tentang politik, olahraga, hiburan, serta makro ekonomi. Berkarier lebih dari satu dekade di dunia jurnalistik dengan beragam media, mulai dari media umum hingga media yang mengkhususkan pada sektor perempuan, keluarga dan anak.

    Saat ini, sudah lebih dari 1000 naskah ditulis mengenai saham, emiten, dan ekonomi makro lainnya.

    Tercatat pula sebagai Wartawan Utama sejak 2022, melalui Uji Kompetensi Wartawan yang diinisiasi oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), dengan nomor 914-PWI/WU/DP/XII/2022/08/06/79