KABARBURSA.COM - Bank Indonesia (BI) optimistis nilai tukar rupiah berpotensi menguat setelah periode tingginya permintaan dolar AS pada Mei hingga Juni 2026 mulai mereda.
Keyakinan BI tersebut ditopang oleh fundamental ekonomi domestik yang dinilai tetap solid di tengah tekanan global.
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso mengatakan tekanan terhadap rupiah saat ini lebih dipengaruhi sentimen eksternal, terutama kenaikan yield obligasi AS, ketegangan geopolitik global, hingga penguatan dolar AS terhadap mayoritas mata uang dunia.
“Pasca bulan Mei-Juni, pasca musim demand yang tinggi terhadap dolar, Insyaallah rupiah sangat berpotensi menguat,” ujar Ramdan di Gedung DPR RI, Jakarta, Senin 18 Mei 2026.
Ia menegaskan, BI masih mempertahankan optimisme terhadap pergerakan rupiah sepanjang tahun ini.
Menurutnya, bank sentral memproyeksikan nilai tukar rupiah berada di kisaran rata-rata Rp16.500 per dolar AS, dengan rentang pergerakan Rp16.200 hingga Rp16.800 per dolar AS.
“Bank Indonesia masih optimistis bahwa rupiah tahun ini bisa mencapai rata-rata yang ditargetkan yaitu Rp16.500 dengan rentang Rp16.200 sampai Rp16.800 per USD,” katanya.
Ramdan menjelaskan BI akan terus melakukan berbagai langkah strategis untuk menjaga stabilitas nilai tukar, termasuk intervensi di pasar valuta asing dan penguatan instrumen moneter domestik.
Di sisi lain, ia mengakui kondisi global masih menjadi tantangan besar bagi pergerakan mata uang negara berkembang seperti Indonesia.
Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah, khususnya Selat Hormuz, dinilai turut mendorong kenaikan harga minyak dunia dan meningkatkan ketidakpastian pasar keuangan global.
“Seiring ketidakpastian Selat Hormuz, harga minyak masih naik. Kemudian persepsi risiko global juga meningkat sehingga yield US Treasury ikut naik di kisaran 4,6 sampai 4,7 persen dan ini memberikan tekanan nilai tukar di banyak negara,” ujarnya.
Kenaikan yield US Treasury memang menjadi salah satu faktor utama arus modal keluar dari negara berkembang dalam beberapa bulan terakhir.
Kondisi itu membuat dolar AS menguat terhadap berbagai mata uang Asia, termasuk rupiah.
Meski begitu, Ramdan menilai fundamental ekonomi Indonesia masih relatif kuat untuk menjaga stabilitas rupiah dalam jangka menengah.
Ia menyebut pertumbuhan ekonomi yang terjaga, inflasi yang terkendali, pengelolaan utang luar negeri yang prudent, hingga cadangan devisa yang memadai menjadi faktor penopang.
“Kita melihat fundamental ekonomi Indonesia baik, pertumbuhan baik, inflasi terkendali, pengelolaan utang luar negeri prudent, dan cadangan devisa memadai. Ini membuat kita optimistis rupiah akan stabil dan cenderung menguat,” kata Ramdan.
Ia juga menekankan pentingnya koordinasi antarlembaga dalam menjaga kepercayaan pasar terhadap ekonomi nasional. Menurut dia, sinergi antara pemerintah, Bank Indonesia, otoritas sektor keuangan, dan DPR menjadi faktor penting untuk memperkuat stabilitas rupiah di tengah turbulensi global.
“Diperlukan sinergi dari berbagai pihak untuk bekerja sama memperkuat ekonomi Indonesia, termasuk memperkuat dan meningkatkan stabilitas nilai rupiah,” tutupnya. (*)