Logo
>

Cek Lagi Gerak Asing di Sesi I, GOTO hingga BMRI Masih Diborong

Aliran dana asing pada sesi pertama perdagangan Senin menunjukkan rotasi masuk ke saham teknologi, bank besar, dan properti di tengah tekanan pasar domestik.

Ditulis oleh Syahrianto
Cek Lagi Gerak Asing di Sesi I, GOTO hingga BMRI Masih Diborong
Pergerakan net foreign buy saham pada sesi pertama perdagangan 18 Mei 2026 di Bursa Efek Indonesia (BEI). (Foto: Dok. Kabarbursa.com).

KABARBURSA.COM – Pergerakan dana asing pada sesi pertama perdagangan Senin, 18 Mei 2026, mulai menunjukkan pola rotasi baru di tengah tekanan pasar akibat rebalancing Morgan Stanley Capital International (MSCI) dan tingginya volatilitas global.

Data yang dihimpun Kabarbursa.com memperlihatkan total volume beli asing hingga akhir sesi I mencapai 2,55 miliar saham, sementara volume jual asing tercatat 1,83 miliar saham. 

Dengan demikian, pasar masih membukukan net foreign buy sebesar 714,35 juta saham pada sesi pagi.

Saham PT Intermedia Capital Tbk (MDIA) menjadi emiten dengan pembelian bersih asing terbesar pada sesi pertama. Volume beli asing mencapai 139,65 juta saham, sementara volume jual tercatat 40,73 juta saham sehingga menghasilkan net buy sekitar 98,93 juta saham.

Posisi berikutnya ditempati PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO). Saham teknologi tersebut mencatat volume beli asing sebesar 473,05 juta saham dengan volume jual 391,29 juta saham atau menghasilkan net foreign buy sekitar 81,76 juta saham.

PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) juga masuk dalam radar akumulasi asing. Saham ini mencatat volume beli 65,69 juta saham dan volume jual 26,14 juta saham dengan net buy sekitar 39,55 juta saham.

Sementara itu, PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) membukukan net foreign buy sekitar 35,77 juta saham setelah volume beli asing mencapai 260,6 juta saham dan volume jual 224,83 juta saham.

Di sektor properti dan kawasan industri, saham PT Puradelta Lestari Tbk (DMAS) mencatat net foreign buy sekitar 29,13 juta saham. Adapun saham PT Bersama Zatta Jaya Tbk (ZATA) membukukan net buy sekitar 24,53 juta saham.

Saham perbankan besar PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) juga masih mencatat aliran dana asing masuk. Hingga sesi I, volume beli asing pada BMRI mencapai 123,88 juta saham dengan volume jual 102,76 juta saham sehingga menghasilkan net buy sekitar 21,12 juta saham.

Selain BMRI, saham PT MNC Energy Investments Tbk (IATA) mencatat net buy sekitar 17,99 juta saham. Sementara PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI) membukukan net foreign buy sekitar 16,19 juta saham.

Di posisi kesepuluh, saham PT Agung Podomoro Land Tbk (APLN) mencatat net buy asing sebesar 14,22 juta saham setelah volume beli mencapai 21,71 juta saham dan volume jual sekitar 7,48 juta saham.

Pergerakan tersebut muncul ketika pasar domestik masih berada dalam tekanan tinggi akibat reposisi portofolio investor global menjelang effective date rebalancing MSCI pada akhir Mei 2026.

Meski begitu, aliran dana asing yang mulai masuk ke sejumlah saham teknologi, perbankan, hingga kawasan industri menunjukkan investor global masih melakukan seleksi terhadap saham dengan likuiditas dan katalis tertentu di tengah kondisi pasar yang volatil.

Hingga akhir sesi pertama perdagangan, pelaku pasar masih mencermati arah foreign flow sebagai salah satu indikator utama pembentukan sentimen jangka pendek di Bursa Efek Indonesia (BEI).(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Syahrianto

Jurnalis ekonomi yang telah berkarier sejak 2019 dan memperoleh sertifikasi Wartawan Muda dari Dewan Pers pada 2021. Sejak 2024, mulai memfokuskan diri sebagai jurnalis pasar modal.

Saat ini, bertanggung jawab atas rubrik "Market Hari Ini" di Kabarbursa.com, menyajikan laporan terkini, analisis berbasis data, serta insight tentang pergerakan pasar saham di Indonesia.

Dengan lebih dari satu tahun secara khusus meliput dan menganalisis isu-isu pasar modal, secara konsisten menghasilkan tulisan premium (premium content) yang menawarkan perspektif kedua (second opinion) strategis bagi investor.

Sebagai seorang jurnalis yang berkomitmen pada akurasi, transparansi, dan kualitas informasi, saya terus mengedepankan standar tinggi dalam jurnalisme ekonomi dan pasar modal.