Logo
>

BBCA Sentuh Level 6.000, Simak Target Harga Para Analis

Saham PT Bank Central Asia Tbk turun lebih dari 32 persen dalam setahun hingga parkir di area 6.000-an.

Ditulis oleh Syahrianto
BBCA Sentuh Level 6.000, Simak Target Harga Para Analis
Saham BBCA bergerak di area 6.000-an di tengah tekanan pasar dan aksi jual asing. (Foto: Dok. BCA)

KABARBURSA.COM – Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) masih bergerak di area bawah setelah terkoreksi lebih dari 30 persen dalam satu tahun terakhir. 

Pada perdagangan Selasa, 13 Mei 2026, saham BBCA ditutup di level Rp6.100 atau turun 32,22 persen secara tahunan (one year).

Secara year to date (ytd) sejak awal 2026, saham BBCA juga masih berada dalam tekanan dengan penurunan mencapai 24,46 persen atau terkoreksi 1.975 poin. 

Pergerakan tersebut membuat harga saham BBCA turun dari kisaran awal tahun di area 8.000 hingga kini bergerak di level 6.100.

Tekanan harga saham BBCA masih terlihat dalam beberapa perdagangan terakhir. 

Berdasarkan data perdagangan yang dihimpun Kabarbursa.com, saham ini turun 0,41 persen pada 13 Mei 2026 dengan nilai transaksi mencapai Rp898,1 miliar dan volume 1,47 juta lot. 

Investor asing juga masih tercatat melakukan net foreign sell sebesar Rp91,76 miliar pada perdagangan hari itu.

Manajemen BBCA dalam keterbukaan informasi sebelumnya menyampaikan fundamental bisnis perusahaan tetap berjalan normal di tengah volatilitas pasar saham. 

Hingga saat ini belum terdapat pernyataan resmi terbaru dari perseroan terkait pergerakan harga saham di pasar reguler.

Konsensus Analis Masih Kompak Sebut “Buy

Meski tekanan asing masih berlanjut, konsensus analis justru belum berubah banyak. 

Data konsensus menunjukkan sebanyak 35 analis masih memberikan rekomendasi buy terhadap saham BBCA, sementara dua analis memilih hold dan tidak ada yang memberikan rekomendasi sell.

Target harga rata-rata analis untuk BBCA juga masih berada di level Rp8.912 per saham. Angka tersebut berada sekitar 46 persen di atas posisi harga saat ini di Rp6.100. 

Adapun estimasi target tertinggi analis mencapai Rp10.900, sedangkan target terendah berada di Rp5.500.

Pergerakan saham BBCA sendiri masih berada dalam tren turun sejak awal tahun. Secara ytd hingga 13 Mei 2026, saham ini telah melemah 24,46 persen atau turun 1.975 poin dari awal tahun. 

Dalam periode tiga bulan terakhir, harga saham BBCA juga bergerak turun bertahap dari area 7.000 hingga akhirnya parkir di kisaran 6.000.

Data historis perdagangan menunjukkan tekanan asing terjadi hampir setiap hari dalam beberapa pekan terakhir. Pada 8 Mei 2026 misalnya, BBCA mencatat net foreign sell mencapai Rp34,71 miliar ketika saham ditutup di level Rp6.175. Sehari sebelumnya, arus keluar asing bahkan mencapai Rp83,12 miliar saat harga bergerak di Rp6.225.

Tekanan jual asing juga sempat membesar pada akhir April 2026. Pada perdagangan 30 April 2026, BBCA mencatat net foreign sell hingga Rp690,95 miliar dengan nilai transaksi mencapai Rp1,78 triliun. Saat itu saham ditutup di level Rp5.850.

Di tengah tekanan pasar, struktur kepemilikan saham BBCA masih didominasi PT Dwimuria Investama Andalan dengan porsi 54,94 persen atau sekitar 67,72 miliar saham. 

Sementara porsi publik nonwarkat tercatat mencapai 42,15 persen dan free float berada di level 42,45 persen.

Investor asing institusi juga masih tercatat dalam daftar pemegang saham utama BBCA. Government of Norway misalnya tercatat menggenggam sekitar 1,03 persen saham BBCA atau setara 1,26 miliar saham per 8 Mei 2026.

Secara perdagangan harian, saham BBCA pada 13 Mei bergerak di rentang Rp6.025 hingga Rp6.200 sebelum ditutup di Rp6.100. 

Frekuensi transaksi tercatat mencapai 26.545 kali dengan rata-rata harga perdagangan di level Rp6.095.

Posisi BBCA saat ini membuat saham perbankan berkapitalisasi jumbo tersebut kembali berada di area psikologis penting pasar. 

Namun hingga pertengahan Mei 2026, mayoritas analis pasar masih mempertahankan pandangan positif terhadap prospek fundamental jangka panjang emiten perbankan milik Grup Djarum tersebut.(*)

Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Syahrianto

Jurnalis ekonomi yang telah berkarier sejak 2019 dan memperoleh sertifikasi Wartawan Muda dari Dewan Pers pada 2021. Sejak 2024, mulai memfokuskan diri sebagai jurnalis pasar modal.

Saat ini, bertanggung jawab atas rubrik "Market Hari Ini" di Kabarbursa.com, menyajikan laporan terkini, analisis berbasis data, serta insight tentang pergerakan pasar saham di Indonesia.

Dengan lebih dari satu tahun secara khusus meliput dan menganalisis isu-isu pasar modal, secara konsisten menghasilkan tulisan premium (premium content) yang menawarkan perspektif kedua (second opinion) strategis bagi investor.

Sebagai seorang jurnalis yang berkomitmen pada akurasi, transparansi, dan kualitas informasi, saya terus mengedepankan standar tinggi dalam jurnalisme ekonomi dan pasar modal.