Logo
>

BI Siaga di Tengah Pasar Libur, Janji Jaga Rupiah 24 Jam

Outflow Rp1,1 miliar dolar dan lonjakan risiko global dorong BI aktifkan intervensi berlapis selama libur Lebaran.

Ditulis oleh Yunila Wati
BI Siaga di Tengah Pasar Libur, Janji Jaga Rupiah 24 Jam
Ada beberapa strategi yang dijalankan oleh Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas rupiah, terutama saat libur lebaran nanti. (Foto: ShutterStock)

KABARBURSA.COM – Di saat pasar domestik berhenti sejenak karena libur panjang Lebaran 2026, pergerakan rupiah justru tidak benar-benar ikut beristirahat. Di luar negeri, transaksi tetap berjalan, tekanan tetap muncul, dan volatilitas tetap bergerak. Di titik inilah Bank Indonesia mengambil posisi siaga penuh.

Bank sentral memastikan pemantauan nilai tukar rupiah dilakukan selama 24 jam, terutama melalui pasar Non-Deliverable Forward (NDF) yang menjadi cermin pergerakan rupiah di luar negeri. Ketika pasar dalam negeri tutup, ruang pergerakan justru bergeser ke offshore, dan di sanalah tekanan terhadap rupiah bisa terbentuk lebih cepat.

Deputi Gubernur BI Destry Damayanti, menegaskan bahwa kewaspadaan ini menjadi krusial di tengah meningkatnya ketidakpastian global. Konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel telah mengubah lanskap pasar keuangan, memicu kenaikan premi risiko dan mendorong arus modal keluar dari negara berkembang.

Data menunjukkan arah tersebut sudah mulai terlihat. Sepanjang Maret 2026, investasi portofolio mencatat net outflow sebesar USD1,1 miliar, berbalik dari net inflow USD1,6 miliar pada Januari hingga Februari. Perubahan arah ini menjadi sinyal bahwa investor global mulai mengalihkan posisi di tengah ketidakpastian yang meningkat.

Tekanan itu tercermin pada nilai tukar. Rupiah pada 16 Maret 2026 berada di level Rp16.985 per dolar AS, melemah 1,29 persen dibandingkan akhir Februari. 

Pergerakan ini tidak berdiri sendiri. Mata uang di kawasan Asia juga mengalami tekanan serupa, dengan India melemah 1,52 persen, Filipina 3,71 persen, dan Thailand 4,47 persen. Artinya, tekanan terhadap rupiah merupakan bagian dari tren regional yang lebih luas.

Strategi Berlapis Jaga Rupiah

Namun, respons BI tidak berhenti pada pemantauan. Bank sentral menyiapkan strategi berlapis untuk menjaga stabilitas nilai tukar, dengan mengandalkan tiga jalur intervensi sekaligus. Intervensi dilakukan di pasar offshore melalui NDF, di pasar domestik melalui transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), serta melalui pembelian Surat Berharga Negara di pasar sekunder.

Pendekatan ini tidak bersifat statis. Gubernur BI Perry, Warjiyo menyampaikan bahwa seluruh instrumen akan dikalibrasi sesuai perkembangan konflik dan dampaknya terhadap harga minyak, inflasi global, serta arus modal internasional. 

BI bahkan telah menyusun berbagai skenario selama Rapat Dewan Gubernur untuk mengantisipasi kemungkinan terburuk dari eskalasi yang terjadi.

Salah satu titik tekan utama datang dari harga energi. Kenaikan harga minyak akibat konflik diperkirakan tidak hanya mendorong inflasi global, tetapi juga menekan pertumbuhan ekonomi dunia. 

Proyeksi pertumbuhan global 2026 direvisi turun menjadi 3,1 persen, sementara inflasi meningkat dari 3,8 persen menjadi 4,1 persen. Kombinasi ini mempersempit ruang pelonggaran kebijakan moneter di berbagai negara.

Dalam kondisi seperti ini, BI memilih menjaga stabilitas sebagai prioritas utama. Sinyal tersebut terlihat dari keputusan mempertahankan suku bunga acuan di level 4,75 persen, serta tidak lagi menyinggung ruang penurunan suku bunga seperti dalam pernyataan sebelumnya. 

Kebijakan ini mencerminkan pergeseran fokus dari mendorong pertumbuhan menuju menjaga stabilitas nilai tukar dan sistem keuangan.

Langkah tersebut juga diperkuat dengan menjaga kecukupan cadangan devisa, yang menjadi bantalan utama dalam menghadapi tekanan eksternal. Ketika dolar AS menguat dan yield US Treasury tetap tinggi, tekanan terhadap mata uang emerging market menjadi semakin besar. 

Dalam kondisi ini, intervensi menjadi alat penting untuk meredam volatilitas yang berlebihan.

Di tengah libur panjang, ketika aktivitas domestik melambat, BI justru berada dalam fase paling aktif. Pergerakan rupiah tidak berhenti mengikuti kalender libur nasional, dan respons kebijakan pun harus berjalan tanpa jeda.

Dengan kombinasi pemantauan 24 jam, intervensi berlapis, serta kebijakan suku bunga yang dijaga ketat, BI berupaya memastikan bahwa tekanan global tidak langsung diterjemahkan menjadi gejolak yang lebih dalam di dalam negeri.

Di titik ini, stabilitas rupiah bukan hanya soal angka di layar perdagangan. Ia menjadi cerminan bagaimana kebijakan moneter bekerja menjaga keseimbangan di tengah dunia yang sedang bergerak tidak menentu.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Yunila Wati

Telah berkarier sebagai jurnalis sejak 2002 dan telah aktif menulis tentang politik, olahraga, hiburan, serta makro ekonomi. Berkarier lebih dari satu dekade di dunia jurnalistik dengan beragam media, mulai dari media umum hingga media yang mengkhususkan pada sektor perempuan, keluarga dan anak.

Saat ini, sudah lebih dari 1000 naskah ditulis mengenai saham, emiten, dan ekonomi makro lainnya.

Tercatat pula sebagai Wartawan Utama sejak 2022, melalui Uji Kompetensi Wartawan yang diinisiasi oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), dengan nomor 914-PWI/WU/DP/XII/2022/08/06/79