Logo
>

BPS Catat Inflasi Maret Melandai, Tekanan Pangan dan Energi Belum Surut

Inflasi Maret 2026 turun ke 3,48 persen, namun tekanan harga pangan dan energi masih membayangi daya beli masyarakat.

Ditulis oleh Moh. Alpin Pulungan
BPS Catat Inflasi Maret Melandai, Tekanan Pangan dan Energi Belum Surut
BPS mencatat inflasi Maret 2026 melandai ke 3,48 persen, namun tekanan pangan dan energi masih tinggi dan berisiko ke daya beli. Foto: Dok YouTube BPS

Poin Penting :

KABARBURSA.COM — Laju inflasi mulai menunjukkan perlambatan pada Maret 2026. Badan Pusat Statistik atau BPS mencatat inflasi tahunan sebesar 3,48 persen, turun dari bulan sebelumnya yang mencapai 4,76 persen.

Meski melandai, tekanan harga belum sepenuhnya reda. Kenaikan masih terjadi di hampir seluruh kelompok pengeluaran, baik dari sisi kebutuhan pokok maupun komponen yang diatur pemerintah.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono menegaskan seluruh komponen tetap mengalami kenaikan harga secara tahunan. “Seluruh komponen mengalami inflasi secara tahunan,” ujarnya dalam konferensi pers yang dilihat lewat YouTube BPS, Rabu, 1 April 2026.

Dari sisi komponen, inflasi inti tercatat sebesar 2,52 persen, naik tipis dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Komponen ini memberi andil terbesar terhadap inflasi, mencapai 1,62 persen.

Kenaikan tersebut dipicu oleh sejumlah komoditas seperti emas perhiasan, biaya pendidikan tinggi, minyak goreng, sewa rumah, hingga makanan siap saji seperti nasi dengan lauk.

Di sisi lain, inflasi harga yang diatur pemerintah justru melonjak lebih tinggi, mencapai 6,08 persen. Angka ini berbalik dari kondisi tahun lalu yang masih mengalami deflasi.

Kenaikan tarif listrik dan harga rokok menjadi faktor utama yang mendorong kelompok ini. Secara keseluruhan, komponen ini menyumbang 1,14 persen terhadap inflasi tahunan.

Sementara itu, komponen harga bergejolak juga menunjukkan tekanan yang meningkat. Inflasi pada kelompok ini mencapai 4,24 persen, naik dari posisi tahun lalu yang masih deflasi. Komoditas pangan seperti daging ayam ras, beras, dan telur ayam ras menjadi penyumbang utama kenaikan harga pada kelompok ini.

Tekanan Harga Belum Reda

Meski inflasi tahunan mulai melandai, arah pergerakan harga dalam jangka pendek menunjukkan tekanan belum benar-benar reda. Secara bulanan, inflasi Maret tercatat 0,41 persen, turun dari Februari yang mencapai 0,68 persen. Penurunan ini memberi sinyal perlambatan, namun fakta bahwa inflasi masih terjadi dua bulan berturut-turut menunjukkan tekanan harga tetap berlangsung.

Dengan kata lain, yang terjadi bukan penurunan harga, melainkan perlambatan laju kenaikan. Harga tetap naik, hanya tidak secepat sebelumnya.

Jika ditarik ke komponen utama, tekanan terbesar masih datang dari kelompok pangan. Inflasi makanan dan minuman pada Maret berada di level 3,34 persen secara tahunan. Meski sedikit lebih rendah dari bulan sebelumnya, kelompok ini tetap menjadi kontributor utama, terutama dari komoditas seperti beras, daging ayam, dan telur.

Di sisi lain, kelompok perumahan dan energi mencatat inflasi paling tinggi, yakni 7,24 persen. Angka ini memang turun tajam dibandingkan Februari yang sempat melonjak di atas 16 persen, namun lebih disebabkan efek basis dari kenaikan tarif listrik pada periode sebelumnya. Secara struktural, tekanan di sektor energi masih tergolong tinggi.

Sementara itu, sektor transportasi mulai menunjukkan kenaikan dari sisi permintaan. Inflasi kelompok ini naik menjadi 0,61 persen, seiring meningkatnya mobilitas menjelang Ramadan dan Lebaran, serta potensi kenaikan biaya energi.

Jika seluruh komponen tersebut digabungkan, posisi inflasi Indonesia saat ini berada di titik yang cukup sensitif. Dengan capaian 3,48 persen secara tahunan, inflasi memang masih berada dalam rentang target Bank Indonesia sebesar 2,5 persen plus minus 1 persen. Namun, posisinya sudah sangat dekat dengan batas atas.

Kondisi ini menandakan ruang stabilitas harga mulai menipis. Jika tekanan dari pangan dan energi kembali meningkat, inflasi berpotensi keluar dari target dalam waktu dekat. Dalam konteks ini, perlambatan inflasi belum bisa dibaca sebagai sinyal normalisasi penuh. Yang terlihat justru fase transisi, di mana tekanan harga masih ada, sementara ruang kebijakan semakin terbatas.(*)

Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Moh. Alpin Pulungan

Asisten Redaktur KabarBursa.com. Jurnalis yang telah berkecimpung di dunia media sejak 2020. Pengalamannya mencakup peliputan isu-isu politik di DPR RI, dinamika hukum dan kriminal di Polda Metro Jaya, hingga kebijakan ekonomi di berbagai instansi pemerintah. Pernah bekerja di sejumlah media nasional dan turut terlibat dalam liputan khusus Ada TNI di Program Makan Bergizi Gratis Prabowo Subianto di Desk Ekonomi Majalah Tempo.

Lulusan Sarjana Hukum Universitas Pamulang. Memiliki minat mendalam pada isu Energi Baru Terbarukan dan aktif dalam diskusi komunitas saham Mikirduit. Selain itu, ia juga merupakan alumni Jurnalisme Sastrawi Yayasan Pantau (2022).