KABARBURSA.COM – Badan Pusat Statistik (BPS) memotret dinamika harga berbagai komoditas domestik maupun global sepanjang Juni 2026. Pergerakan yang terjadi menunjukkan arah yang beragam, mulai dari penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi, naiknya harga bawang putih di dalam negeri, hingga pelemahan harga minyak mentah, crude palm oil (CPO), dan emas di pasar internasional.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono mengatakan sepanjang Juni terdapat sejumlah perkembangan harga yang memengaruhi kondisi pasar, baik dari sisi energi, pangan, maupun komoditas global.
Di sektor energi, PT Pertamina (Persero) tercatat melakukan penyesuaian harga BBM nonsubsidi sebanyak dua kali, yakni pada 1 Juni dan 10 Juni 2026.
“Kita tahu bersama pada tanggal 1 Juni tahun 2026 terjadi kenaikan harga pada Pertamax Turbo. Tapi juga penurunan harga pada dexlite dan juga Pertamina dex. Kemudian pada tanggal 10 Juni terjadi kenaikan harga pada Pertamax,” kata Ateng Hartono dalam pemaparannya secara daring, Rabu, 1 Juli 2026.
BPS mencatat harga Pertamax Turbo naik Rp850 atau sekitar 4 persen pada awal Juni. Sebaliknya, Dexlite turun Rp3.100 atau sekitar 12 persen, sementara Pertamina Dex terkoreksi Rp3.150 atau sekitar 11 persen.
Beberapa hari kemudian, tepatnya pada 10 Juni, Pertamina kembali melakukan penyesuaian dengan menaikkan harga Pertamax sebesar Rp4.050 atau sekitar 32 persen dibandingkan harga sebelumnya.
Sementara itu, dinamika harga pangan menunjukkan kondisi yang tidak seragam. Produksi bawang merah meningkat di sejumlah daerah sentra seperti Brebes, Solok, Bima, dan Sumbawa. Namun, pada saat yang sama, beberapa wilayah lain justru mengalami penurunan produksi sehingga pasokan nasional belum sepenuhnya merata.
“Walaupun demikian pada sisi lain produksi juga mengalami penurunan di beberapa sentra seperti di Enrekang di Sulawesi Selatan itu mengalami penurunan, di Demak Jawa Tengah juga, kemudian Malang serta juga di Sampang Jawa Timur. Jadi sekali lagi ada yang mengalami peningkatan tetapi juga ada yang mengalami penurunan bawang merah,” jelas Ateng.
Berbeda dengan bawang merah, harga bawang putih justru mengalami kenaikan di tingkat pedagang. Menurut BPS, kondisi tersebut dipengaruhi oleh meningkatnya biaya logistik serta pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.
“Kenaikan bawang putih ini terutama disebabkan oleh peningkatan biaya logistik dan juga adanya penguatan nilai tukar dolar Amerika terhadap Rupiah,” katanya.
Selain memantau perkembangan harga domestik, BPS juga mencermati pergerakan sejumlah komoditas strategis di pasar internasional. Harga minyak sawit mentah atau CPO tercatat melemah selama dua bulan berturut-turut pada Mei hingga Juni 2026. Tren tersebut mengakhiri kenaikan harga yang sempat berlangsung sejak Januari hingga April tahun ini.
Harga minyak mentah dunia juga kembali terkoreksi pada Juni setelah sebelumnya mengalami pelemahan pada Mei. Sepanjang Juni 2026, harga minyak mentah dunia berada di kisaran rata-rata USD82,82 per barel atau sekitar Rp1,41 juta per barel.
Di sisi lain, harga emas internasional belum menunjukkan tanda-tanda pemulihan. Logam mulia yang selama ini dikenal sebagai aset safe haven justru melanjutkan tren penurunan yang telah berlangsung selama empat bulan berturut-turut.
“Terakhir terkait dengan perkembangan harga emas di pasar internasional, harga emas kembali mengalami penurunan dibandingkan dengan bulan Mei tahun 2026. Dengan ini penurunan harga emas sudah terjadi, teman-teman media, itu sejak empat bulan berturut-turut,” kata Ateng.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.