Logo
>

RI Kebanjiran Barang Impor, BPS Ungkap Daya Beli dan Industri Masih Ngebut

Nilai impor Indonesia melonjak 15,24 persen hingga Mei 2026. BPS menyebut kenaikan ditopang migas, bahan baku industri, dan konsumsi.

Ditulis oleh Gusti Ridani
RI Kebanjiran Barang Impor, BPS Ungkap Daya Beli dan Industri Masih Ngebut
BPS mencatat impor RI mencapai USD111,33 miliar hingga Mei 2026, naik 15,24 persen. Kenaikan didorong migas, bahan baku industri, dan konsumsi. Foto: Dok. KabarBursa.com

Poin Penting :

KABARBURSA.COM – Arus barang dari luar negeri makin deras memasuki Indonesia sepanjang 2026. Nilai impor yang melonjak dalam lima bulan pertama tahun ini memberi sinyal bahwa kebutuhan industri masih tinggi, sementara konsumsi masyarakat juga belum menunjukkan tanda-tanda melambat.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai impor kumulatif Indonesia sepanjang Januari hingga Mei 2026 mencapai USD111,33 miliar (sekitar Rp1.892,61 triliun). Angka tersebut meningkat 15,24 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Kenaikan terbesar datang dari impor minyak dan gas bumi (migas). Bahkan, khusus pada Mei 2026, impor migas melonjak hingga 70,78 persen dibandingkan Mei tahun lalu sehingga menjadi pendorong utama kenaikan impor nasional.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono mengatakan peningkatan impor terjadi di seluruh kelompok penggunaan barang. Meski begitu, kontribusi terbesar masih berasal dari masuknya bahan baku dan barang penolong yang dibutuhkan sektor industri.

“Sepanjang Januari sampai dengan Mei tahun 2026 total nilai impor mencapai USD111,33 miliar atau naik sebesar 15,24 persen jika dibandingkan pada periode Januari Mei 2025 yang lalu. Impor migas tercatat sebesar USD17,45 miliar atau naik sebesar 27,89 persen, sementara impor non-migas tercatat senilai USD93,88 miliar atau naik sebesar 13,16 persen,” ujar Ateng Hartono dalam pemaparannya secara daring, Rabu, 1 Juli 2026.

Jika dilihat secara bulanan, aktivitas impor juga masih menunjukkan tren yang kuat. Pada Mei 2026, total nilai impor mencapai USD24,81 miliar (sekitar Rp421,77 triliun), atau meningkat 22,16 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Dari nilai tersebut, impor migas menyumbang USD4,51 miliar (sekitar Rp76,67 triliun), sedangkan impor nonmigas mencapai USD20,30 miliar (sekitar Rp345,10 triliun).

Selain bahan baku, kenaikan juga terjadi pada impor barang modal yang tumbuh 12,70 persen serta barang konsumsi yang meningkat 21,99 persen sepanjang Mei 2026. Kondisi ini menunjukkan aktivitas produksi dalam negeri masih berjalan dan kebutuhan konsumsi masyarakat tetap relatif kuat.

Berdasarkan negara asal, peningkatan impor paling besar berasal dari Tiongkok, Australia, negara-negara ASEAN, dan Uni Eropa. Sementara itu, arus barang yang masuk dari Jepang justru mengalami penurunan selama periode tersebut.

Tren Impor Terus Menguat

Jika ditarik lebih jauh, lonjakan impor sepanjang tahun ini sebenarnya bukan fenomena yang muncul secara tiba-tiba. Data BPS menunjukkan tren kenaikan sudah berlangsung sejak awal 2026 dan terus berlanjut hingga Mei.

Pada Januari 2026, nilai impor Indonesia tercatat tumbuh 18,21 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Laju pertumbuhan kemudian berada di level 14,44 persen pada periode Januari–Februari, sebesar 10,05 persen pada Januari–Maret, meningkat lagi menjadi 13,40 persen pada Januari–April, hingga akhirnya mencapai 15,24 persen pada Januari–Mei 2026.

Tren tersebut menunjukkan aktivitas impor nasional masih bergerak dalam jalur ekspansif sepanjang tahun ini. Berdasarkan rilis resmi BPS, nilai impor kumulatif Januari–April 2026 bahkan telah mencapai USD86,51 miliar (sekitar Rp1.470,67 triliun), atau meningkat 13,40 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Sementara neraca perdagangan Indonesia masih mencatat surplus sebesar USD5,64 miliar (sekitar Rp95,88 triliun), meski sektor migas tetap mengalami defisit sebesar USD8,52 miliar (sekitar Rp144,84 triliun).

Pola impor Indonesia juga memperlihatkan bahwa kebutuhan industri masih menjadi motor utama masuknya barang dari luar negeri. Berdasarkan BPS, impor menurut golongan penggunaan hingga April 2026 masih didominasi bahan baku dan barang penolong dengan nilai mencapai USD61,82 miliar (sekitar Rp1.050,94 triliun).

Sementara impor barang modal tercatat sebesar USD17,11 miliar (sekitar Rp290,87 triliun), sedangkan barang konsumsi mencapai USD7,58 miliar (sekitar Rp128,86 triliun). Komposisi tersebut mengindikasikan bahwa kenaikan impor lebih banyak didorong oleh kebutuhan produksi dibandingkan konsumsi akhir masyarakat.

Di sisi lain, laju impor migas masih melampaui pertumbuhan impor nonmigas. Sepanjang Januari hingga Mei 2026, impor migas tumbuh 27,89 persen, sedangkan impor nonmigas meningkat 13,16 persen. Kondisi ini memperlihatkan bahwa kebutuhan energi dari luar negeri masih menjadi salah satu faktor utama yang mendorong kenaikan nilai impor Indonesia.

BPS juga mencatat sumber utama peningkatan impor berasal dari Tiongkok, Australia, negara-negara ASEAN, serta Uni Eropa. Sebaliknya, arus barang dari Jepang justru menunjukkan tren penurunan selama periode tersebut. Gambaran ini menunjukkan struktur perdagangan Indonesia masih sangat dipengaruhi pasokan dari kawasan Asia dan mitra dagang utama lainnya untuk memenuhi kebutuhan industri maupun energi dalam negeri.(*)

Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang