Logo
>

DBS Rekomendasikan Emas dan Saham Asia Jadi Andalan Investasi Triwulan III 2026

DBS menyarankan investor memperbesar porsi emas, saham Asia, dan obligasi korporasi negara maju di tengah risiko inflasi global.

Ditulis oleh Desty Luthfiani
DBS Rekomendasikan Emas dan Saham Asia Jadi Andalan Investasi Triwulan III 2026
DBS merekomendasikan investor memperkuat diversifikasi portofolio dengan menambah porsi emas, saham Asia di luar Jepang, dan obligasi korporasi negara maju. Langkah ini dinilai relevan untuk menghadapi risiko inflasi global, ketegangan geopolitik, serta perubahan arah kebijakan bank sentral pada triwulan III 2026. Foto: Dok. DBS

KABARBURSA.COM – Chief Investment Officer (CIO) DBS, Hou Wey Fook, merekomendasikan investor memperkuat diversifikasi portofolio dengan meningkatkan porsi investasi pada emas, saham Asia di luar Jepang, obligasi korporasi negara maju, serta aset alternatif pada triwulan III 2026. Rekomendasi tersebut didasarkan pada meningkatnya risiko inflasi global akibat ketegangan geopolitik, lonjakan investasi kecerdasan buatan, dan perubahan arah kebijakan bank sentral dunia.

Dalam laporan CIO Insights 3Q26 bertajuk Power Play, Hou Wey Fook menilai lanskap ekonomi global telah berubah dalam 18 bulan terakhir. Harapan bahwa ketegangan geopolitik mereda dan disiplin fiskal kembali diterapkan justru tidak terwujud. Sebaliknya, kebijakan Amerika Serikat dinilai mendorong kenaikan belanja pertahanan, pelebaran defisit fiskal, dan meningkatkan risiko inflasi.

"Rezim makro kini lebih rentan terhadap inflasi dibandingkan yang diperhitungkan pasar," tulis Hou Wey Fook dalam laporannya.

Menurut DBS, konflik yang berkepanjangan di Timur Tengah meningkatkan risiko gangguan pasokan energi sehingga harga minyak berpotensi bertahan tinggi lebih lama. Pada saat yang sama, ekspansi belanja pertahanan dan kebijakan industri di berbagai negara turut memperkuat tekanan inflasi.

Selain faktor geopolitik, investasi besar-besaran pada AI juga diperkirakan menjadi sumber inflasi baru dalam jangka pendek. Meskipun AI diyakini mampu meningkatkan produktivitas dalam jangka panjang, pembangunan pusat data, semikonduktor, perangkat lunak, komponen elektronik, hingga kebutuhan listrik yang terus meningkat diperkirakan akan mendorong kenaikan biaya.

DBS juga menilai China yang mulai keluar dari tekanan deflasi akan menjadi faktor tambahan yang menopang inflasi global. Stabilnya harga di negara tersebut didukung kebijakan anti-involusi serta kenaikan biaya komoditas setelah memanasnya konflik Iran.

Perubahan tersebut mendorong bank-bank sentral utama, seperti Federal Reserve, European Central Bank (ECB), dan Bank of England (BOE), mengadopsi sikap yang lebih hawkish atau mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. "Pasar mulai memperhitungkan kemungkinan kenaikan suku bunga pada akhir tahun," tulis Hou Wey Fook.

Dalam kondisi tersebut, DBS menilai strategi investasi tradisional dengan komposisi 60 persen saham dan 40 persen obligasi mulai kehilangan efektivitas karena korelasi kedua aset meningkat ketika inflasi tinggi. Investor pun disarankan memperluas diversifikasi ke emas, komoditas, dan saham domestik China yang dinilai memiliki korelasi lebih rendah terhadap pasar saham global.

DBS juga melihat ekonomi global memasuki siklus belanja modal baru yang didorong oleh AI dan sektor energi. Karena itu, perusahaan penyedia infrastruktur pendukung atau pick-and-shovel, seperti produsen semikonduktor, penyedia jaringan dan perangkat keras khusus, serta perusahaan jasa dan peralatan minyak diperkirakan menjadi penerima manfaat utama dari tren tersebut.

Secara keseluruhan, DBS mempertahankan pandangan netral terhadap saham dan obligasi. Ekonomi Amerika Serikat dinilai masih tangguh berkat konsumsi domestik, ekspor energi, serta investasi AI yang terus meningkat. Perbaikan proyeksi GDPNow Federal Reserve Bank of Atlanta dan dukungan kebijakan fiskal melalui rancangan undang-undang One Big Beautiful Trump juga dinilai menopang sentimen pasar.

Meski demikian, risiko inflasi yang tetap tinggi membuat DBS menghapus proyeksi penurunan suku bunga Federal Reserve pada 2026. Di sisi lain, konsensus pasar masih memperkirakan pertumbuhan laba perusahaan global tetap kuat pada 2026 hingga 2027.

Pada pasar saham, DBS menilai momentum masih menjadi penggerak utama sehingga pemilihan emiten menjadi lebih penting dibandingkan sekadar menentukan alokasi berdasarkan negara. Reli pasar sejak akhir Maret didominasi saham-saham AI, namun investor disarankan menerapkan strategi barbell dengan mengombinasikan saham bertema AI dan sektor defensif, terutama perusahaan yang memiliki intensitas penggunaan energi rendah.

Untuk pasar obligasi, DBS memperkirakan imbal hasil masih berpotensi meningkat seiring bertahannya tekanan inflasi. Investor direkomendasikan memperbesar porsi obligasi korporasi negara maju dengan durasi 5 hingga 7 tahun, sementara investasi pada obligasi negara berkembang perlu dilakukan lebih selektif dengan mempertimbangkan kemandirian energi, kredibilitas kebijakan, dan kualitas penerbit.

Pada aset alternatif, DBS tetap mempertahankan pandangan positif terhadap emas. Meski pergerakannya sempat tertekan akibat aksi ambil untung dan tingginya aktivitas spekulatif, logam mulia tersebut dinilai akan kembali menjalankan fungsinya sebagai aset lindung nilai.

"Prospek jangka panjang emas tetap kuat didukung dedolarisasi dan penurunan nilai intrinsik mata uang," tulis Hou Wey Fook.

DBS juga menyarankan investor meningkatkan eksposur pada aset privat, private equity, private credit, dan hedge fund untuk memperkuat diversifikasi portofolio di tengah meningkatnya ketidakpastian global.

Dari sisi makroekonomi, DBS memperkirakan Amerika Serikat tetap mencatat pertumbuhan yang solid, sedangkan Zona Euro menghadapi risiko stagflasi lebih besar dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi 2026 diturunkan menjadi 1,0 persen dan inflasi dinaikkan menjadi 3,1 persen. 

Jepang diperkirakan masih ditopang ekspansi fiskal, pertumbuhan upah, dan ekspor semikonduktor, sementara Asia tetap menjadi kawasan dengan prospek terbaik berkat tingginya permintaan produk berbasis AI dan teknologi hijau, terutama di Korea Selatan, Taiwan, Malaysia, Singapura, dan Vietnam.

Pada pasar valuta asing, DBS memperkirakan dolar Amerika Serikat menguat secara moderat pada triwulan III 2026. Sebaliknya, euro dan poundsterling diperkirakan melemah akibat tingginya ketergantungan Eropa terhadap energi, sementara dolar Australia dan dolar Selandia Baru berpotensi mencatatkan kinerja lebih baik karena didukung sektor komoditas.

Berdasarkan Tactical Asset Allocation (TAA) triwulan III 2026, DBS merekomendasikan posisi overweight pada saham Asia di luar Jepang, obligasi korporasi negara maju, emas, aset privat, dan hedge fund. Sebaliknya, saham Eropa, obligasi pasar negara berkembang, serta kas direkomendasikan berada pada posisi underweight.

Menurut Hou Wey Fook, strategi tersebut diharapkan mampu membantu investor memanfaatkan peluang pertumbuhan sekaligus menjaga ketahanan portofolio di tengah meningkatnya risiko inflasi, perubahan kebijakan moneter, dan ketidakpastian geopolitik global.(*)

Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Desty Luthfiani

Desty Luthfiani seorang jurnalis muda yang bergabung dengan KabarBursa.com sejak Desember 2024 lalu. Perempuan yang akrab dengan sapaan Desty ini sudah berkecimpung di dunia jurnalistik cukup lama. Dimulai sejak mengenyam pendidikan di salah satu Universitas negeri di Surakarta dengan fokus komunikasi jurnalistik. Perempuan asal Jawa Tengah dulu juga aktif dalam kegiatan organisasi teater kampus, radio kampus dan pers mahasiswa jurusan. Selain itu dia juga sempat mendirikan komunitas peduli budaya dengan konten-konten kebudayaan bernama "Mata Budaya". 

Karir jurnalisnya dimulai saat Desty menjalani magang pendidikan di Times Indonesia biro Yogyakarta pada 2019-2020. Kemudian dilanjutkan magang pendidikan lagi di media lokal Solopos pada 2020. Dilanjutkan bekerja di beberapa media maenstream yang terverifikasi dewan pers.

Ia pernah ditempatkan di desk hukum kriminal, ekonomi dan nasional politik. Sekarang fokus penulisan di KabarBursa.com mengulas informasi seputar ekonomi dan pasar modal.

Motivasi yang diilhami Desty yakni "do anything what i want artinya melakukan segala sesuatu yang disuka. Melakukan segala sesuatu semaksimal mungkin, berpegang teguh pada kebenaran dan menjadi bermanfaat untuk Republik".