KABARBURSA.COM – Tantangan besar membayangi sektor pangan nasional di tengah momentum Ramadan dan Lebaran 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) memproyeksikan adanya penurunan signifikan pada luas panen dan produksi padi sepanjang periode Maret hingga Mei 2026.
Berdasarkan hasil amatan Survei Kerangka Sampel Area (KSA) per Februari 2026, potensi produksi beras nasional pada periode Maret-Mei 2026 diperkirakan hanya mencapai 11,91 juta ton. Angka ini merosot tajam sebesar 1,49 juta ton atau turun sekitar 11,11 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
"Potensi produksi padi pada Maret sampai dengan Mei 2026 diperkirakan sebesar 20,68 juta ton GKG (Gabah Kering Giling), atau mengalami penurunan sebesar 2,59 juta ton GKG, menurun 11,12 persen jika dibandingkan periode yang sama pada tahun 2025," ujar Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, Rabu, 1 April 2026.
Fokus Panen Raya di Jawa
Meskipun secara nasional mengalami penurunan, BPS mencatat bahwa aktivitas panen raya masih akan terkonsentrasi di lumbung-lumbung pangan utama, khususnya di Pulau Jawa. Jawa Timur dan Jawa Barat diprediksi menjadi penopang utama pasokan beras nasional dalam tiga bulan ke depan.
Di Jawa Timur, potensi panen besar tersebar di wilayah Bojonegoro, Lamongan, Tuban, Nganjuk, dan Jember. Sementara di Jawa Barat, konsentrasi panen berada di Majalengka, Subang, Indramayu, Karawang, Cianjur, Sukabumi, hingga Cirebon.
Namun, Ateng memberikan catatan bahwa angka potensi ini masih sangat bergantung pada kondisi alam. "Angka potensi ini masih dapat berubah, tergantung pada kondisi pertanaman, serangan hama, banjir, kekeringan, maupun pergeseran waktu pelaksanaan panen oleh petani," tegasnya.
Penurunan potensi produksi ini menjadi sinyal kuning bagi pergerakan harga beras di tingkat konsumen. Data BPS menunjukkan bahwa meski ada aktivitas panen di beberapa wilayah pada bulan Februari dan Maret, harga beras belum menunjukkan tanda-tanda penurunan yang signifikan.
Rata-rata harga beras di tingkat penggilingan pada Maret 2026 tercatat naik 5,66 persen secara tahunan (year-on-year). Kondisi serupa terjadi di tingkat grosir dan eceran.
"Di tingkat grosir terjadi inflasi sebesar 0,95 persen secara month-to-month dan inflasi 4,81 persen secara year-on-year. Sedangkan di tingkat eceran terjadi inflasi 0,65 persen secara bulanan dan 3,71 persen secara tahunan," tambah Ateng.
Kondisi serupa juga terjadi pada komoditas jagung. Total luas panen jagung pipilan sepanjang Januari hingga Mei 2026 diperkirakan mencapai 1,22 juta hektar, turun tipis 1,39 persen. Hal ini berdampak pada potensi produksi jagung pipilan kering (kadar air 14 persen) yang diperkirakan mencapai 6,96 juta ton, atau menurun 0,68 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Penurunan produksi di sektor tanaman pangan ini memerlukan perhatian ekstra dari pemerintah, mengingat tekanan inflasi dari kelompok harga pangan bergejolak (volatile food) masih menjadi penyumbang utama inflasi nasional. (*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.