KABARBURSA.COM - Segmen rumah tipe menengah masih menjadi penopang utama pasar properti residensial nasional di tengah kondisi ekonomi yang cenderung selektif. Permintaan pada segmen ini relatif tetap terjaga, didukung kebutuhan hunian dan masih kuatnya skema pembiayaan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) di pasar primer.
Berdasarkan survei terbaru Bank Indonesia, mayoritas pembelian rumah di pasar primer masih dilakukan melalui fasilitas KPR dengan pangsa mencapai 69,87 persen dari total skema pembelian properti residensial. Data tersebut mencerminkan bahwa pembiayaan perbankan masih memegang peranan penting dalam menopang aktivitas transaksi properti nasional.
Kondisi tersebut dinilai membuka ruang pertumbuhan bagi perbankan yang memiliki fokus pada segmen kredit kepemilikan properti, termasuk Bank Woori Saudara (BWS). Penyaluran KPR dinilai masih memiliki prospek positif seiring permintaan rumah tipe menengah yang relatif stabil.
Di tengah persaingan industri perbankan, strategi kolaborasi dengan pengembang properti besar dinilai menjadi salah satu faktor pendukung pertumbuhan kredit yang lebih terukur. BWS tercatat menjalin kerja sama dengan sejumlah pengembang, termasuk Sinarmas Land, untuk memperluas akses pembiayaan properti kepada konsumen.
Kolaborasi tersebut dinilai memberikan keuntungan dari sisi kualitas pipeline kredit karena proyek yang ditawarkan berasal dari pengembang dengan rekam jejak dan basis pasar yang sudah established. Selain itu, variasi proyek residensial yang ditawarkan juga dinilai mampu menjangkau kebutuhan konsumen kelas menengah secara lebih luas.
Analis Abdul Azis dari Kiwoom Sekuritas, menilai momentum penyaluran KPR masih cukup positif sepanjang tahun ini, khususnya pada segmen rumah tipe menengah yang relatif lebih resilient dibanding segmen lainnya.
Menurutnya, bank yang memiliki kerja sama strategis dengan pengembang besar berpotensi memperoleh pertumbuhan kredit yang lebih stabil karena memiliki akses terhadap demand yang lebih terukur serta kualitas proyek yang lebih baik.
“Profil risiko debitur pada segmen tersebut relatif lebih terjaga, terutama apabila didominasi oleh pembeli dari kalangan pegawai pemerintah, BUMN, maupun swasta dengan pendapatan tetap dan kemampuan pembayaran yang lebih predictable.” kata Abdul Azis.
Menurut Abdul Azis, selain faktor pembiayaan, permintaan rumah tipe menengah juga masih didukung kebutuhan hunian dari kelompok usia produktif serta tren urbanisasi di sejumlah wilayah penyangga kota besar. Kondisi tersebut membuat segmen ini tetap menjadi fokus utama pengembang maupun perbankan.
Di sisi lain, pasar masih mencermati perkembangan suku bunga dan daya beli masyarakat ke depan. Namun, selama akses pembiayaan tetap kompetitif, aktivitas transaksi rumah primer dinilai masih memiliki ruang pertumbuhan.
Bagi sektor perbankan, KPR tetap menjadi salah satu instrumen penting dalam menjaga pertumbuhan kredit konsumer. Sementara bagi pengembang, dukungan pembiayaan menjadi faktor utama untuk menjaga momentum penjualan proyek residensial.
Ke depan, sinergi antara perbankan dan pengembang properti diperkirakan akan semakin penting dalam menjaga pertumbuhan pasar properti nasional, terutama pada segmen rumah tipe menengah yang hingga kini masih menunjukkan permintaan yang relatif solid.(*)