Logo
>

China-AS Belum Bisa Bercerai, Bisnis Kedua Adidaya Sudah Sangat Terikat

Hubungan ekonomi China dan AS dinilai masih sulit dipisahkan karena investasi, rantai pasok, dan bisnis global telanjur terikat.

Ditulis oleh Moh. Alpin Pulungan
China-AS Belum Bisa Bercerai, Bisnis Kedua Adidaya Sudah Sangat Terikat
Ekonomi China dan AS dinilai masih saling bergantung meski perang dagang dan tensi geopolitik terus meningkat beberapa tahun terakhir. Foto: Dok. South China Morning Post.

KABARBURSA.COM — Di tengah perang dagang dan rivalitas geopolitik yang terus memanas, hubungan ekonomi China dan Amerika Serikat ternyata belum benar-benar menjauh. Bisnis kedua negara justru masih saling membutuhkan.

Ekonom dan pelaku usaha menilai keterkaitan ekonomi China dan Amerika sudah terlalu dalam untuk dipisahkan begitu saja. Hubungan itu tidak hanya soal perdagangan, tetapi juga menyangkut rantai pasok, investasi, teknologi, hingga riset pengembangan.

Presiden US-China Business Council, Sean Stein, bahkan menepis anggapan bahwa perusahaan Amerika mulai meninggalkan China. “Perusahaan Amerika masih terus berinvestasi. Perusahaan Amerika tidak pergi ke mana-mana,” kata dia, dikutip dari China Daily, Kamis, 14 Mei 2026.

Menurut dia, China kini tidak lagi sekadar pasar tujuan penjualan, melainkan sudah menjadi platform bisnis global bagi banyak perusahaan Amerika. Mulai dari akses konsumen, kemitraan industri, hingga pusat riset dan pengembangan kini banyak terhubung dengan ekosistem China.

Perubahan ini terlihat jelas dalam dua dekade terakhir. Jika dahulu perusahaan asing datang ke China hanya untuk produksi murah, kini banyak perusahaan justru menempatkan fasilitas riset strategis di sana.

“Dulu tidak ada yang datang ke China untuk riset dan pengembangan. Sekarang perusahaan-perusahaan terbaik justru menjalankan sebagian riset terpenting mereka di sana,” katanya.

Data Kementerian Perdagangan China memperlihatkan tren itu. Investasi asing langsung di sektor teknologi tinggi naik 30,7 persen secara tahunan menjadi 102,73 miliar yuan atau sekitar USD15,12 miliar (Rp255,53 triliun) pada kuartal pertama 2026.

Angka tersebut membuat sektor teknologi tinggi menyumbang lebih dari 41 persen total investasi asing di China.

Pandangan serupa datang dari Kamar Dagang Amerika di Shanghai. Presiden lembaga itu, Eric Zheng, menilai perusahaan Amerika justru akan kehilangan daya saing global jika menjauh dari China. “Perusahaan Amerika yang bisa bertahan dan berkembang di China akan lebih siap bersaing di banyak pasar dunia,” katanya.

Bagi banyak perusahaan global, China dinilai bukan hanya pusat manufaktur, tetapi juga tempat membangun kemampuan bisnis dan teknologi yang nantinya dapat diterapkan di negara lain.

Karena itu, stabilitas hubungan ekonomi kedua negara dianggap penting, bukan hanya bagi China dan Amerika, tetapi juga bagi ekonomi global.

Dana Moneter Internasional mencatat gabungan produk domestik bruto nominal China dan Amerika Serikat mencapai hampir 45 persen ekonomi dunia pada 2025. Ketika hubungan perdagangan keduanya terganggu, efeknya langsung terasa secara global.

Laporan McKinsey Global Institute bahkan menunjukkan perlambatan perdagangan China-Amerika menekan pertumbuhan perdagangan dunia sekitar 10 persen sepanjang tahun lalu.

Di sisi lain, para analis menilai gagasan “decoupling” atau pemisahan total ekonomi kedua negara lebih mudah diucapkan ketimbang dijalankan.

Direktur Institute of World Economics and Politics di Chinese Academy of Social Sciences, Liao Fan, mengatakan keterkaitan ekonomi kedua negara sudah terbentuk selama puluhan tahun melalui investasi dan integrasi rantai pasok.

“Anda tidak bisa memisahkan dua ekonomi yang sudah saling terhubung selama puluhan tahun. Biaya pemisahannya akan dihitung dalam triliunan dolar dan jutaan lapangan kerja “ kata Fan.

Meski begitu, hubungan keduanya tetap dibayangi ketegangan. Sejumlah pembatasan perdagangan dan teknologi dari Amerika Serikat terhadap China masih menjadi sumber friksi.

Peneliti senior Center for China and Globalization, He Weiwen, menilai hubungan ekonomi yang benar-benar seimbang baru bisa tercapai jika hambatan perdagangan mulai dilonggarkan.

Dalam situasi saat ini, persaingan China dan Amerika tampaknya belum akan berakhir. Namun bagi dunia usaha, kepentingan bisnis dan rantai pasok global tampaknya masih lebih kuat dibanding dorongan untuk benar-benar berpisah.(*)

Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Moh. Alpin Pulungan

Asisten Redaktur KabarBursa.com. Jurnalis yang telah berkecimpung di dunia media sejak 2020. Pengalamannya mencakup peliputan isu-isu politik di DPR RI, dinamika hukum dan kriminal di Polda Metro Jaya, hingga kebijakan ekonomi di berbagai instansi pemerintah. Pernah bekerja di sejumlah media nasional dan turut terlibat dalam liputan khusus Ada TNI di Program Makan Bergizi Gratis Prabowo Subianto di Desk Ekonomi Majalah Tempo.

Lulusan Sarjana Hukum Universitas Pamulang. Memiliki minat mendalam pada isu Energi Baru Terbarukan dan aktif dalam diskusi komunitas saham Mikirduit. Selain itu, ia juga merupakan alumni Jurnalisme Sastrawi Yayasan Pantau (2022).