KABARBURSA.COM — PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) mulai melihat tanda awal potensi cadangan tambang dari aktivitas eksplorasi yang dijalankan pada April 2026. Hasil sementara menunjukkan adanya indikasi mineralisasi di wilayah Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, yang menjadi fokus utama kegiatan eksplorasi perusahaan.
Dalam laporan bulanan aktivitas eksplorasi yang dirilis Jumat, 10 April 2026, CUAN melalui entitas anaknya PT Intam menggelontorkan biaya sekitar Rp9,25 miliar untuk kegiatan di Kecamatan Lantung, Lenangguar, dan Ropang, Kabupaten Sumbawa.
Eksplorasi dilakukan melalui serangkaian metode, mulai dari pemetaan geologi, pengeboran inti, hingga survei geolistrik. Metode ini digunakan untuk membaca struktur bawah permukaan dan mengidentifikasi potensi kandungan mineral.
Hasil awal menunjukkan temuan yang cukup signifikan. Perusahaan mencatat adanya batuan limestone yang telah mengalami alterasi dengan tingkat sedang hingga kuat, serta indikasi mineralisasi di beberapa titik.
“Didapatkan batuan limestone yang teralterasi sedang - kuat dan terindikasi adanya mineralisasi,” demikian tertulis dalam laporan tersebut.
Selain itu, eksplorasi juga menemukan keberlanjutan urat kuarsa atau quartz vein dengan panjang mencapai sekitar 900 meter. Temuan ini diperkuat oleh hasil pengujian geolistrik yang menunjukkan indikasi cebakan mineral di bawah permukaan.
“Berdasarkan resistivity dan chargeability didapatkan indikasi cebakan mineralisasi,” tulis perusahaan.
Meski demikian, temuan tersebut masih berada pada tahap awal dan belum dapat dikategorikan sebagai cadangan terbukti secara ekonomis. Perusahaan masih perlu melanjutkan eksplorasi lanjutan untuk memastikan potensi tersebut.
CUAN telah menyiapkan langkah berikutnya, salah satunya melanjutkan pemetaan lapangan dan pengeboran dengan target memperluas kemenerusan vein hingga sekitar 800 meter.
Selain di Sumbawa, aktivitas eksplorasi juga dilakukan di Murung Raya, Kalimantan Tengah, melalui PT Daya Bumindo Karunia. Namun skala kegiatan di wilayah ini masih terbatas. CUAN fokus pada pengumpulan data topografi menggunakan teknologi drone lidar di area sekitar 1.956 hektare.
“Data topo lidar ini sudah dilakukan qc dengan data collar resurvey Februari dan juga dilakukan pengecekan langsung raw data,” tulis perusahaan.
Data tersebut nantinya akan digunakan untuk keperluan pemodelan geologi, sebagai dasar untuk menentukan arah eksplorasi berikutnya.
Dari sisi strategi, langkah CUAN menunjukkan perusahaan masih berada pada fase awal pengembangan aset tambang. Fokus utama saat ini adalah memastikan keberadaan dan kontinuitas mineral sebelum masuk ke tahap studi kelayakan dan produksi.
Bagi investor, temuan indikasi mineralisasi ini menjadi sinyal awal, meski belum dapat langsung diterjemahkan sebagai potensi pendapatan dalam jangka pendek. Nilai ekonominya baru akan terlihat apabila eksplorasi lanjutan berhasil mengonfirmasi cadangan yang layak secara komersial.
Valuasi Sudah Mendahului Eksplorasi
Sinyal awal mineralisasi yang ditemukan CUAN di Sumbawa mulai diterjemahkan pasar sebagai katalis positif. Namun, pergerakan saham menunjukkan bahwa ekspektasi investor tampak bergerak lebih cepat dibandingkan kepastian hasil eksplorasi itu sendiri.
Dalam sepekan terakhir, saham CUAN melonjak sekitar 28,71 persen dan bertengger di level Rp1.345. Bahkan dalam perdagangan hari ini, Jumat, 10 April 2026, saham ini masih menguat 5,91 persen. Kenaikan ini terjadi di tengah narasi eksplorasi yang baru berada pada tahap indikasi awal.
Pergerakan harga tersebut mencerminkan pola yang kerap terjadi pada saham berbasis sumber daya alam, terutama di fase eksplorasi. Ketika cerita potensi muncul, pasar cenderung merespons lebih dulu sebelum kepastian cadangan benar-benar terbukti.
Namun, jika ditarik ke sisi fundamental, gambaran yang muncul belum sepenuhnya sejalan dengan lonjakan harga.
Berdasarkan data Stockbit, laba bersih CUAN sepanjang 2025 mencapai sekitar Rp2,21 triliun, turun dari Rp2,54 triliun pada 2024. Penurunan ini mengindikasikan tekanan kinerja, meski perusahaan masih mencatat profit yang relatif besar.
Di sisi valuasi, pasar tampak memberikan premi yang cukup tinggi. Rasio price to earnings (PE) CUAN berada di kisaran 68 kali, sementara price to book value (PBV) mencapai sekitar 26,65 kali. Angka ini menempatkan CUAN pada kategori saham dengan valuasi premium, bahkan untuk sektor energi dan pertambangan.
Kondisi ini memperlihatkan adanya kesenjangan antara harga dan fundamental. Di satu sisi, pasar mulai mengapresiasi potensi eksplorasi. Di sisi lain, kinerja keuangan belum menunjukkan lonjakan yang sebanding dengan ekspektasi tersebut.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.