KABARBURSA.COM — Eskalasi militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran berdampak langsung terhadap pasar energi global dan menyeret sektor pelayaran Gas Alam Cair atau Liquefied Natural Gas (LNG). Bagi Indonesia, selain isu geopolitik, peristiwa ini akan menjadi efek berantai ke emiten tanker domestik.
Serangan besar yang diumumkan Presiden AS Donald Trump pada Sabtu 28 Februari memicu respons keras dari Iran. Negeri para Mullah itu membalas dengan rudal dan drone ke sejumlah fasilitas militer AS di kawasan Teluk dan memberi peringatan keras kepada kapal tanker yang melintasi Selat Hormuz. Jalur sempit ini menjadi titik paling krusial distribusi energi dunia.
“Selat Hormuz merupakan chokepoint strategis, di mana 20 persen ekspor minyak global dan sebagian besar pengiriman LNG dunia melewati jalur sempit ini. Setiap gangguan signifikan berpotensi langsung memengaruhi pasokan energi global dan harga komoditas,” tulis tim riset Stockbit Sekuritas yang dikutip Selasa, 3 Maret 2026.
Data global memperjelas skala risikonya. Sekitar 20 persen pasokan minyak dan LNG dunia melewati Selat Hormuz setiap hari. Sebagian besar ekspor LNG Qatar yang menyumbang sekitar 20 persen ekspor LNG global juga melalui jalur ini. Qatar sendiri memasok China, Jepang, India, Korea Selatan, dan Pakistan, dengan lebih dari 80 persen ekspornya dikunci dalam kontrak jangka panjang.
Artinya, jika Hormuz terganggu, satu dari lima kapal LNG dunia bisa terdampak. Asia adalah kawasan yang paling merasakan imbasnya.
Dampaknya langsung terlihat di pasar freight. Reuters mencatat tarif harian kapal LNG melonjak lebih dari 40 persen pasca eskalasi konflik. Tarif Atlantic LNG carrier naik 43 persen menjadi USD61.500 per hari atau sekitar Rp1,04 miliar per hari dengan kurs Rp16.850. Sementara tarif Pacific LNG carrier melonjak sekitar 45 persen menjadi USD41000 per hari atau sekitar Rp690 juta per hari.
Lonjakan ini dipicu rerouting kapal dan kenaikan premi asuransi risiko perang. Beberapa perusahaan asuransi bahkan menarik perlindungan war risk untuk rute Teluk, membuat biaya operasional kapal meningkat signifikan.
Dari Selat Hormuz ke Neraca Emiten Tanker RI
Stockbit menyebut gangguan ini dapat menopang tarif tanker LNG dan harga gas regional. “Kenaikan biaya asuransi dan risiko logistik dapat menopang tarif tanker LNG dan harga gas regional. Dalam jangka panjang, kenaikan harga minyak pada akhirnya akan turut mendorong harga komoditas energi substitusi, seperti batu bara,” tulis tim riset Stockbit.
Harga LNG Asia ikut bereaksi. Platts JKM sebagai benchmark LNG Asia melonjak ke level tertinggi dalam lebih dari satu tahun. Kenaikan ini menandakan pembeli Asia, terutama China, semakin agresif mengamankan pasokan.
Bagi Indonesia, situasinya kompleks. Indonesia memang eksportir LNG, tetapi juga mengimpor LNG untuk kebutuhan pembangkit listrik dan industri. Sekitar sepertiga perdagangan LNG dunia melewati Selat Hormuz, sehingga setiap gangguan langsung memengaruhi harga LNG di Asia.
Kenaikan harga LNG berarti dua hal sekaligus. Di satu sisi, tarif freight yang melonjak membuka peluang bagi emiten tanker seperti SOCI, BULL, HUMI, dan GTSI jika mereka memiliki eksposur ke pasar spot atau kontrak yang bisa disesuaikan. Tarif USD61.500 per hari jelas lebih menguntungkan dibanding periode normal.
Namun di sisi lain, tidak semua armada bermain di spot market. Jika mayoritas kontrak bersifat time charter jangka panjang dengan tarif tetap, kenaikan spot rate belum tentu langsung tercermin dalam laba. Selain itu, ketidakpastian keamanan dapat mengganggu utilisasi kapal. Rerouting memperpanjang jarak pelayaran, tetapi juga meningkatkan risiko idle time jika lalu lintas terganggu ekstrem.
Dampak makro juga tidak bisa diabaikan. Kenaikan harga LNG Asia berpotensi menaikkan biaya energi domestik, memicu tekanan inflasi, dan memperlebar subsidi energi jika pemerintah menahan tarif listrik. Dalam kondisi global risk-off, dolar AS biasanya menguat dan rupiah tertekan yang bisa menambah beban impor energi.
Pada perdagangan Senin 2 Maret, IHSG melemah 2,65 persen. Namun sektor energi justru menguat 1,54 persen dan saham emas melonjak 4 hingga 6 persen. Pola ini konsisten dengan fase awal eskalasi geopolitik di mana komoditas energi dan safe haven menjadi beneficiary awal.
Kunci berikutnya ada pada durasi konflik. Jika Selat Hormuz tetap terbuka dan ketegangan mereda seperti pada episode Juni 2025, lonjakan tarif freight dan harga LNG bisa bersifat sementara. Namun jika gangguan berkepanjangan, risiko inflasi energi struktural dan tekanan pasar yang lebih dalam menjadi nyata.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.