Logo
>

Dana Bank Dikuasai Segelintir Orang, Ketimpangan Makin Tajam

Mayoritas dana perbankan Indonesia dikuasai segelintir rekening besar, sementara jutaan rekening lain hanya menyimpan dana minim.

Ditulis oleh Desty Luthfiani
Dana Bank Dikuasai Segelintir Orang, Ketimpangan Makin Tajam
Simpanan pihak ketiga. Foto: Data BPS

KABARBURSA.COM - Ketimpangan simpanan di bank umum Indonesia kian melebar menjadi sorotan ekonom. Data terbaru menunjukkan bahwa mayoritas dana masyarakat di perbankan justru terkonsentrasi pada kelompok kecil dengan nilai simpanan besar. Sementara sebagian besar rekening lainnya hanya berisi dana minim.

Ekonom Bright Institute, Awalil Rizky mengungkapkan, total simpanan di bank umum per akhir Januari 2026 mencapai Rp10.115,93 triliun berdasarkan data Lembaga Penjamin Simpanan.

Dari jumlah tersebut, simpanan pihak ketiga (DPK) mendominasi sebesar Rp10.030,53 triliun, sedangkan simpanan antarbank tercatat Rp85,40 triliun.

Komposisi DPK terdiri dari tabungan sebesar Rp3.055,23 triliun, giro Rp3.329,50 triliun, deposito Rp3.577,28 triliun, serta deposit on call Rp68,45 triliun. Selain itu, sebagian simpanan juga dalam bentuk valuta asing dengan porsi mencapai 14,74 persen dari total.

Awalil menilai, analisis paling menarik terlihat dari pengelompokan simpanan berdasarkan nilai nominal yang terbagi dalam tujuh tier, mulai dari di bawah Rp100 juta hingga di atas Rp5 miliar. Dari sini terlihat adanya konsentrasi dana yang sangat kuat di kelompok atas.

“Kelompok nominal tertinggi, yaitu rekening yang berisi lebih dari Rp5 miliar mencapai Rp5.786,83 triliun. Porsinya merupakan 57,69 persen atau lebih dari separuh total Simpanan Pihak Ketiga,” ujar Awalil dalam keterangan tertulis Kamis, 26 Maret 2026.

Kelompok ini memiliki rata-rata simpanan mencapai Rp37,76 miliar per rekening. Namun, jumlah rekeningnya sangat kecil, hanya 153,24 ribu atau sekitar 0,02 persen dari total 671,40 juta rekening.

Menurut Awalil, jumlah tersebut menunjukkan bahwa hanya segelintir pihak yang menguasai sebagian besar dana di perbankan. Bahkan jika diasumsikan satu pihak memiliki lima rekening, maka jumlah pemilik dana jumbo ini hanya sekitar 30 ribu pihak.

Sejak awal pandemi, kelompok ini juga mengalami lonjakan signifikan. Nilai simpanannya meningkat 112,11 persen dari posisi Januari 2020 sebesar Rp5.497,57 triliun. Rata-rata saldo per rekening juga naik 38,26 persen dari Rp27,31 miliar.

Di sisi lain, kondisi berbeda terjadi pada kelompok rekening dengan nominal terendah, yakni hingga Rp100 juta. Total simpanan kelompok ini tercatat Rp1.116,31 triliun atau hanya 11,13 persen dari total.

“Disebut kelompok kurang dari sampai dengan 100 juta rupiah, namun rata-ratanya hanya Rp1,68 juta per rekening,” kata Awalil.

Kelompok ini justru mencakup hampir seluruh rekening di Indonesia, yakni 664,08 juta rekening atau 98,91 persen dari total. Namun rata-rata simpanan per rekening mengalami penurunan dari Rp2,89 juta pada Januari 2020.

Awalil menjelaskan, penurunan ini disebabkan lonjakan jumlah rekening yang meningkat lebih dari dua kali lipat dari 297,69 juta rekening. Ia menduga peningkatan ini berkaitan dengan pembukaan rekening baru untuk penyaluran bantuan sosial atau program tertentu dari pemerintah dan lembaga lainnya yang tidak selalu digunakan sebagai sarana menabung secara optimal.

Untuk memberikan gambaran yang lebih luas, Awalil mengelompokkan tujuh tier simpanan tersebut ke dalam tiga kelas ekonomi. Kelas bawah mencakup simpanan hingga Rp100 juta, kelas menengah Rp100 juta hingga Rp1 miliar, dan kelas atas di atas Rp1 miliar.

Dalam periode enam tahun sejak 31 Januari 2020 hingga 31 Januari 2026, simpanan kelas atas tumbuh paling tinggi, yakni 91,93 persen. Sementara kelas menengah hanya tumbuh 34,22 persen dan kelas bawah 29,83 persen.

Dari sisi rata-rata saldo per rekening, kelas bawah justru mengalami penurunan, sementara kelas menengah relatif stagnan. Pada tier menengah, pergerakan nyaris tidak berubah, seperti tier dua dari Rp140,28 juta menjadi Rp140,52 juta, tier tiga dari Rp320,50 juta menjadi Rp318,33 juta, dan tier empat dari Rp722,20 juta menjadi Rp718,86 juta.

Sebaliknya, peningkatan signifikan terjadi pada kelas atas, terutama pada tier tertinggi. Rata-rata simpanan tier tujuh melonjak dari Rp27,31 miliar menjadi Rp37,76 miliar.

Sementara itu, tier enam naik dari Rp3,12 miliar menjadi Rp3,18 miliar, dan tier lima relatif stabil dari Rp1,42 miliar menjadi Rp1,41 miliar.

Kelompok atas juga memiliki porsi simpanan dalam valuta asing yang lebih besar, yakni mencapai 21,68 persen pada tier tertinggi. Hal ini menunjukkan kemampuan diversifikasi aset yang lebih tinggi dibanding kelompok lainnya.

Awalil juga mengingatkan bahwa pemilik rekening tidak hanya individu, tetapi juga korporasi dan lembaga. Meski demikian, sekitar 60 persen rekening masih dimiliki oleh perseorangan. Bahkan dalam banyak kasus, kepemilikan korporasi juga berkaitan dengan individu yang berada di kelompok atas.

Ia menegaskan bahwa fenomena ini perlu menjadi perhatian serius bagi otoritas ekonomi karena mencerminkan ketimpangan yang semakin tajam. “Fenomena simpanan Bank Umum ini perlu dipertimbangkan oleh otoritas ekonomi sebagai salah satu indikator ketimpangan ekonomi,” ujarnya.

Menurutnya, jika kepemilikan aset keuangan lain seperti surat berharga turut diperhitungkan, maka ketimpangan ekonomi di Indonesia akan terlihat semakin mencolok.

Kondisi ketimpangan simpanan yang disampaikan Awalil tersebut juga tercermin dalam dinamika pasar saham perbankan, khususnya pada indeks Infobank15 yang menunjukkan tren pelemahan dalam beberapa tahun terakhir.

Menilik data terbaru pada 26 Maret 2025, indeks ini kini berada di level 953,84, turun signifikan dari puncaknya di sekitar 1.420,86 dalam periode tiga tahun terakhir, mencerminkan tekanan terhadap sektor perbankan seiring terkonsentrasinya dana pada kelompok tertentu.

Fenomena ini mengindikasikan bahwa meskipun likuiditas secara agregat masih besar, distribusinya tidak merata sehingga berpotensi membatasi ekspansi kredit dan pertumbuhan kinerja bank secara luas.

Tekanan tersebut terlihat pada pergerakan sejumlah saham bank besar. PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) berada di level Rp3.520 turun sekitar 0,56 persen, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) di Rp4.930 terkoreksi 0,80 persen, dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) di Rp4.030 melemah 0,25 persen.

Sementara itu, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) justru naik ke Rp6.950 atau menguat 0,72 persen, serta PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) di Rp2.150 naik 0,47 persen. Pada bank menengah dan digital, PT Bank Jago Tbk (ARTO) tercatat di Rp1.415 menguat 1,07 persen, sedangkan PT Bank Raya Indonesia Tbk (AGRO) di Rp181 masih turun 0,55 persen.

Jika ditarik lebih jauh, kondisi ini dominasi dana oleh segelintir rekening besar membuat fungsi intermediasi perbankan tidak optimal secara merata.

Hal tersebut tercermin dari valuasi saham yang saat ini cenderung lebih rendah dibandingkan puncaknya—misalnya BBCA yang sebelumnya sempat berada di atas Rp9.000 dan BBRI yang pernah menyentuh kisaran Rp5.000—sehingga banyak saham bank kini masuk kategori relatif murah.

Namun, murahnya valuasi ini bukan hanya faktor siklus pasar, melainkan juga mencerminkan kekhawatiran investor terhadap struktur likuiditas yang timpang, yang pada akhirnya berpengaruh terhadap prospek pertumbuhan kredit, profitabilitas, dan kinerja jangka panjang sektor perbankan secara keseluruhan.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Desty Luthfiani

Desty Luthfiani seorang jurnalis muda yang bergabung dengan KabarBursa.com sejak Desember 2024 lalu. Perempuan yang akrab dengan sapaan Desty ini sudah berkecimpung di dunia jurnalistik cukup lama. Dimulai sejak mengenyam pendidikan di salah satu Universitas negeri di Surakarta dengan fokus komunikasi jurnalistik. Perempuan asal Jawa Tengah dulu juga aktif dalam kegiatan organisasi teater kampus, radio kampus dan pers mahasiswa jurusan. Selain itu dia juga sempat mendirikan komunitas peduli budaya dengan konten-konten kebudayaan bernama "Mata Budaya". 

Karir jurnalisnya dimulai saat Desty menjalani magang pendidikan di Times Indonesia biro Yogyakarta pada 2019-2020. Kemudian dilanjutkan magang pendidikan lagi di media lokal Solopos pada 2020. Dilanjutkan bekerja di beberapa media maenstream yang terverifikasi dewan pers.

Ia pernah ditempatkan di desk hukum kriminal, ekonomi dan nasional politik. Sekarang fokus penulisan di KabarBursa.com mengulas informasi seputar ekonomi dan pasar modal.

Motivasi yang diilhami Desty yakni "do anything what i want artinya melakukan segala sesuatu yang disuka. Melakukan segala sesuatu semaksimal mungkin, berpegang teguh pada kebenaran dan menjadi bermanfaat untuk Republik".