KABARBURSA.COM – Pergerakan dolar Amerika Serikat mulai kehilangan tenaga di akhir pekan. Kombinasi sentimen kebijakan moneter dan dinamika geopolitik yang belum menemukan titik terang menjadi penyebab tekanan.
Dolar yang sebelumnya sempat menguat di beberapa sesi terakhir, bergerak turun. Indeks dolar yang mengukur kekuatan greenback terhadap sekeranjang mata uang utama tercatat turun 0,28 persen ke level 98,55.
Sementara, euro menguat sebanyak 0,27 persen ke USD1,1714. Begitu pula dengan yen Jepang yang naik 0,19 persen ke level 159,4 per dolar AS, dan poundsterling yang terkerek 0,42 persen ke USD1,3523.
Selesainya Penyelidikan Terhadap Powell
Salah satu pemicu tekanan terhadap dolar adalah keputusan Departemen Kehakiman AS yang menutup penyelidikan terhadap Ketua Federal Reserve Jerome Powell. Langkah ini digadang-gadang membuka jalan bagi proses konfirmasi Kevin Warsh sebagai kandidat pengganti.
Warsh dipandang memiliki pendekatan berbeda terhadap inflasi dan suku bunga.
Pasar pun langsung merespons. Mereka menganggap perubahan ini sebagai sinyal kebijakan yang lebih longgar. Director FICC Strategy CIBC Capital Markets Noah Buffam, bahkan menyebut interpretasi pasar cenderung mengarah ke arah dovish.
Ia menilai, pendekatan Warsh terhadap inflasi berpotensi mendorong ruang pemangkasan suku bunga yang lebih besar dibandingkan era Powell.
Perubahan ekspektasi ini tercermin dari pergerakan di pasar derivatif. Pelaku pasar kini memperkirakan peluang pemangkasan suku bunga hingga akhir tahun naik menjadi 38 persen, dari sebelumnya 23 persen dalam hari yang sama.
Negosiasi AS-Iran Masih Nihil
Selain penghentian penyelidikan terhadap Powell, tekanan lain datang dari dinamika konflik AS dan Iran. Harapan akan dimulainya kembali pembicaraan damai justru memberi tekanan tambahan terhadap dolar. Padahal, itu pun belum memiliki kepastian konkret, terutama mengenai hasil negosiasi.
Namun, pasar terlanjur bergerak lebih hati-hati. Strategist DRW Trading Lou Brien, menggambarkan kondisi pasar saat ini sebagai fase wait and see, tetapi tanpa kepastian. Ketidakpastian arah konflik membuat pelaku pasar enggan mengambil risiko yang terlalu agresif.
Selama beberapa pekan terakhir, dolar telah bergerak volatil. Sempat menguat saat ketegangan geopolitik meningkat dan investor mencari aset aman. Namun akhirnya melemah ketika muncul harapan bahwa konflik dapat mereda dan risiko terhadap ekonomi global menurun.
Kedua hal ini membuat pasar cenderung bergerak terbatas. Tidak adanya katalis yang kuat membuat arah dolar sangat bergantung pada perkembangan konkret, terutama terkait pasokan energi dan dampaknya terhadap ekonomi global.
Agenda Bank Sentral
Di luar faktor geopolitik, perhatian pasar kini mulai bergeser ke agenda bank sentral global. Pekan depan ada keputusan kebijakan dari Federal Reserve, Bank of Japan, Bank Sentral Eropa, dan Bank of England.
The Fed diperkirakan akan menahan suku bunga. Namun, pasar melihat ada pergeseran arah kebijakan ke depan, terutama jika tekanan inflasi dapat dikendalikan.
Sementara itu, Bank Sentral Eropa diperkirakan juga akan menahan suku bunga pada akhir April, Tetapi, ekonom melihat adanya potensi kenaikan pada Juni. Bank of England juga berada dalam jalur serupa, dengan pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga ada di akhir tahun.
Di Jepang, Bank of Japan diproyeksikan tetap mempertahankan suku bunga dalam waktu dekat, meskipun tekanan inflasi mulai muncul. Otoritas Jepang mengingatkan kesiapan untuk melakukan intervensi jika pergerakan yen dinilai terlalu spekulatif.
Kripto Melemah, Bitcoin Jeblok
Di tengah dinamika tersebut, aset kripto juga bergerak melemah. Bitcoin tercatat turun 0,47 persen ke level USD77.558. Investor mulai mengencangkan kehati-hatian terhadap aset berisiko.
Pergerakan dolar saat ini berada di titik persimpangan antara arah kebijakan The Fed dan ketidakpastian geopolitik. Tanpa kepastian dari kedua faktor tersebut, pasar cenderung menahan diri, menunggu sinyal yang lebih jelas sebelum menentukan arah berikutnya.(*)