KABARBURSA.COM – Gerak emas di akhir pekan begitu lambat. Mencoba untuk bangkit, tapi kekuatannya belum sepenuhnya pulih. Harga emas spot mengintip, naik tipis sekitar 0,6 persen. Emas spot kini diperdagangkan di level USD4.721,15 per ons.
Dalam perjalanannya, harga emas spot sempat menyentuh kenaikan lebih dari 1 persen secara intraday. Namun secara mingguan, harga emas masih turun lebih dari 2 persen. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS juga naik tipis 0,4 persen ke USD4.740,90 per ons.
Tarik-menarik sentimen masih menjadi penahan laju kenaikan emas. Ketidakpastian geopolitik yang masih tinggi ditambah tekanan dari sisi makro, semakin melemahkan pergerakan logam mulia.
Sejauhini, konflik Amerika Serikat dengan Iran menjadi layer utama yang membentuk dinamika pasar. Situasinya belum reda, apalagi penutupan Selat Hormuz masih berlangsung. Tidak heran jika kemudian pelaku pasar bergerak sangat reaktif terhadap setiap perkembangan baru.
Belakangan, intensitas konflik memang agak melambat. Fokus investor pun bergeser. Pasar kini tidak hanya melihat risiko perang, tapi mulai mengkalkulasi dampaknya terhadap inflasi, suku bunga, dan arah dolar AS.
“Ini benar-benar pasar yang digerakkan oleh headline, karena ketidakpastian. Saat ini, berita cenderung mengarah ke kemungkinan kesepakatan damai dengan Iran, sehingga pasar melihat situasi yang relative positif,” kata Senior Market Strategist RJO Futures Daniel Pavilonis.
Harga Minyak hingga Imbal Hasil Obligasi
Seiring meredanya ketagangan, harga minyak memang mulai terkoreksi. Tapi secara mingguan, harganya tetap mencatatkan kenaikan. Ini yang menjadi faktor penting yang menekan emas, di mana lonjakan energi berpotensi mendorong inflasi lebih tinggi dan pada akhirnya meningkatkan ekspektasi suku bunga tetap tinggi lebih lama.
Analis UBS Giovanni Staunovo, mengatakan bahwa pelemahan emas dalam sepekan terakhir terjadi bersamaan dengan naiknya harga emas, menguatnya dolar, dan naiknya imbal hasil obligasi.
Terkait imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun, saat ini tercatat naik 1,5 persen dalam sepekan. Kenaikan ini meningkatkan opportunity cost memegang emas yang tidak memberikan imbal hasil. Dengan begitu, daya tariknya berkurang.
Di saat yang sama, dolar AS menguat. Penguatan ini membuat harga emas menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lain. Kondisi ini lagi-lagi menekan permintaan global.
Ini menjadi menarik, karena jika sebelumnya logam mulia diuntungkan oleh ketidakpastian geopolitik, saat ini faktor makro seperti suku bunga dan yield justru kembali mengambil peran dominan.
Logam Mulia Lain Naik Tinggi
Berbeda dengan emas yang hanya merangkak, logam mulia lain justru mulai berjalan kencang. Harga perak naik 1,4 persen ke USD76,49 per ons. Begitu pula dengan platinum yang menguat 0,5 persen ke USD2.015,98. Palladium mencatat kenaikan yang paling tinggi, 2,2 persen ke USD1.499,75.
Pergerakan ini menunjukkan adanya pergeseran minat ke logam industri, seiring ekspektasi aktivitas ekonomi yang tetap berjalan di tengah ketidakpastian global.(*)