KABARBURSA.COM — Diskusi itu berjalan panjang, kadang canggung, tapi sarat imajinasi besar. Di panggung World Economic Forum (WEF) Davos, Larry Fink dan Elon Musk berbincang tentang sesuatu yang jarang disentuh forum ekonomi secara gamblang, yakni masa depan peradaban manusia.
Mulai dari kecerdasan buatan (AI), robot humanoid, energi surya, hingga kehidupan di luar Bumi, Musk memaparkan pandangannya tentang bagaimana kemajuan teknologi hari ini bisa menentukan arah umat manusia ke depan. Di balik beragam perusahaannya—Tesla, SpaceX, hingga xAI—Musk mengatakan ada satu tujuan besar yang sama.
“Semuanya adalah tantangan teknologi yang sangat sulit. Tetapi tujuan keseluruhan perusahaan-perusahaan saya adalah memaksimalkan kemungkinan bahwa peradaban memiliki masa depan yang hebat,” kata Musk, dikutip dari laman World Economic Forum, Minggu, 24 Januari 2026.
Bagi Musk, misi SpaceX bukan sekadar soal roket atau eksplorasi antariksa. Ia berangkat dari asumsi yang lebih mendasar dan nyaris filosofis, bahwa kehidupan dan kesadaran mungkin sangat langka di semesta.
“Kita perlu melakukan segala hal yang mungkin untuk memastikan bahwa cahaya kesadaran tidak padam,” ujarnya.
Sementara Tesla, menurut Musk, berperan sebagai tulang punggung transisi energi berkelanjutan. Adapun pengembangan AI dan robotika ia sebut sebagai “jalan menuju kelimpahan”, yang berpotensi menaikkan standar hidup global, bahkan menghapus kemiskinan.
“Kita sedang hidup di masa paling menarik dalam sejarah,” kata Musk.
AI, Robot, dan Ledakan Ekonomi
Musk melihat AI dan robotika sebagai mesin pertumbuhan ekonomi global berikutnya. Jika teknologi ini menjadi murah dan tersedia secara luas, dampaknya bisa melampaui semua preseden sebelumnya.
“Jika Anda memiliki AI yang ada di mana-mana, yang pada dasarnya gratis atau hampir gratis, dan robotika yang ada di mana-mana,” katanya, “Anda akan melihat ledakan ekonomi global yang benar-benar belum pernah terjadi sebelumnya.”
Robot humanoid, menurut Musk, akan mendefinisikan ulang produktivitas. Output ekonomi bisa dihitung dari produktivitas rata-rata satu robot dikalikan jumlah robot yang beroperasi. Dalam skenario itu, robot dapat bekerja di pabrik, merawat populasi lanjut usia, hingga membantu keluarga, bahkan menjawab krisis tenaga kerja sekaligus menekan biaya.
Larry Fink sempat melontarkan pertanyaan mendasar apa peran manusia jika robot kelak lebih banyak dari manusia?
Namun Musk menolak gagasan bahwa kelimpahan hanya bisa dinikmati sebagian orang. “Anda tidak bisa memiliki pekerjaan yang hanya harus dilakukan oleh sebagian orang, sementara kelimpahan luar biasa tersedia untuk semua,” katanya.
Meski mengakui risiko—termasuk skenario distopia ala Terminator—Musk tetap optimistis. “Kita sedang berada di masa paling menarik dalam sejarah,” ujarnya lagi.
Energi Jadi Faktor Penentu
Di balik optimisme AI, Musk memberi peringatan keras: energi adalah faktor pembatas. Biaya komputasi memang turun cepat, tetapi kapasitas listrik tidak berkembang secepat itu.
“Kita akan segera memproduksi lebih banyak chip daripada yang bisa kita nyalakan,” kata Musk.
Menurutnya, kendala utama bukan kemampuan komputasi, melainkan pasokan listrik untuk pusat data, pabrik, dan sistem AI berskala besar. Di sinilah energi surya menjadi kunci.
“Sekitar 100 mil kali 100 mil panel surya sudah cukup untuk memberi daya ke seluruh Amerika Serikat,” katanya.
Musk menyoroti kontras antara ekspansi cepat surya dan nuklir di China dengan hambatan tarif di Amerika Serikat dan Eropa. Ia mengungkapkan Tesla dan SpaceX masing-masing tengah mengembangkan kapasitas manufaktur surya hingga 100 gigawatt per tahun di AS.
Pandangan Musk bahkan melampaui Bumi. “Di luar Bumi, Matahari secara pembulatan menyumbang 100 persen dari seluruh energi,” katanya.
Pusat data AI bertenaga surya di luar angkasa—dengan cahaya matahari konstan dan pendinginan yang efisien—menurut Musk, bisa menjadi layak secara ekonomi dalam beberapa tahun ke depan.
Antariksa, Otomatisasi, dan Biaya Murah
AI dan otomatisasi juga mengubah ekonomi penerbangan antariksa. Target besar SpaceX berikutnya adalah roket Starship yang sepenuhnya dapat digunakan ulang, yang berpotensi menurunkan biaya akses ke luar angkasa hingga 100 kali lipat.
“Jika Anda harus membuang pesawat setiap kali terbang, itu akan sangat mahal,” kata Musk. “Jika Anda hanya perlu mengisi bahan bakar, maka biayanya adalah biaya bahan bakar.”
Biaya murah ini bisa membuka jalan bagi konstelasi satelit raksasa, infrastruktur surya di luar angkasa, hingga misi manusia ke Mars.
Soal AI, Musk tak segan melontarkan prediksi yang mengundang debat. “Kita mungkin memiliki AI yang lebih pintar dari manusia mana pun pada akhir tahun ini,” katanya.
Dalam lima tahun, ia memperkirakan AI bisa melampaui kecerdasan kolektif seluruh umat manusia.
Di akhir diskusi, Larry Fink mengajak Musk berbicara lebih personal. Musk menyebut masa kecilnya—fiksi ilmiah, fantasi, dan komik—sebagai sumber inspirasinya, serta keinginan untuk mengubah imajinasi menjadi kenyataan.
Filosofi hidupnya sederhana, yakni rasa ingin tahu tentang bagaimana alam semesta bekerja, pertanyaan apa yang belum diajukan, dan bagaimana teknologi bisa membantu manusia menjawabnya.
Pesan penutup Musk untuk Davos pun bernada optimistis. “Saya mendorong semua orang untuk bersikap optimistis dan antusias terhadap masa depan yang baik,” katanya. “Secara umum, untuk kualitas hidup, lebih baik keliru karena terlalu optimistis daripada benar karena terlalu pesimistis.”(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.