KABARBURSA.COM – Perlambatan pasar tenaga kerja Amerika Serikat dinilai membuka ruang bagi Federal Reserve (The Fed) untuk tidak lagi bersikap terlalu agresif dalam kebijakan suku bunganya. Kondisi tersebut berpotensi menjadi sentimen positif bagi aset berisiko, termasuk nilai tukar rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
Pandangan itu disampaikan Stockbit menyusul rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat periode Juni 2026 yang menunjukkan pertumbuhan lapangan kerja jauh di bawah ekspektasi pasar.
Berdasarkan data resmi U.S. Bureau of Labor Statistics (BLS), jumlah non-farm payroll hanya bertambah 57.000 pekerjaan pada Juni 2026. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan proyeksi konsensus sebesar 110.000 pekerjaan. Sementara itu, data Mei juga direvisi turun menjadi 129.000 pekerjaan.
Di sisi lain, tingkat pengangguran justru turun menjadi 4,2 persen dari ekspektasi pasar sebesar 4,3 persen. Namun, perlambatan penciptaan lapangan kerja dinilai tetap menjadi sinyal bahwa pasar tenaga kerja mulai kehilangan momentum.
Investment Analyst Lead Stockbit Edi Chandren menilai kondisi tersebut membuat pelaku pasar mulai mengurangi ekspektasi terhadap peluang kenaikan suku bunga acuan The Fed.
“Perlambatan tenaga kerja AS membuat ekspektasi market terhadap kenaikan suku bunga AS menjadi berkurang (less hawkish), yang dapat memberikan dukungan bagi nilai tukar rupiah dan IHSG,” ujar Edi Chandren dalam keterangan tertulis, Jumat, 3 Juli 2026.
Stockbit mencatat, setelah data tenaga kerja dirilis, probabilitas kenaikan suku bunga Amerika Serikat hingga Desember 2026 berdasarkan CME FedWatch Tool turun menjadi 77 persen dari sebelumnya 83 persen.
Perubahan ekspektasi itu turut tercermin pada pergerakan berbagai instrumen keuangan global. Indeks dolar Amerika Serikat atau DXY melemah 0,6 persen ke level 100,8, sementara harga emas melonjak sekitar 2 persen hingga mencapai USD4.125 per ons (sekitar Rp70.125.000 per ons).
Laporan BLS juga menunjukkan revisi penurunan data ketenagakerjaan April dan Mei secara gabungan sebesar 74.000 pekerjaan. Selain itu, tingkat partisipasi angkatan kerja turun ke level terendah dalam beberapa tahun terakhir, memperkuat indikasi bahwa pasar tenaga kerja mulai mendingin meski tingkat pengangguran masih relatif stabil.
Menurut Stockbit, perhatian investor kini akan bergeser ke sejumlah agenda penting yang berpotensi memengaruhi arah kebijakan moneter Amerika Serikat maupun sentimen pasar domestik.
“Setelah data tenaga kerja Juni 2026, investor perlu memonitor data inflasi AS yang dijadwalkan akan dirilis pada 14 Juli 2026 waktu setempat. Dari dalam negeri, review sovereign credit rating Indonesia oleh S&P juga kemungkinan akan dirilis pada periode Juli 2026, sehingga turut perlu dicermati oleh investor,” kata Edi.
Pelaku pasar menilai data inflasi Amerika Serikat akan menjadi salah satu penentu arah kebijakan The Fed pada pertemuan berikutnya. Jika tekanan inflasi ikut melandai setelah perlambatan pasar tenaga kerja, ruang bank sentral AS untuk menahan kenaikan suku bunga diperkirakan semakin terbuka.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.