KABARBURSA.COM – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih bertahan di kisaran level 5.700-an meski Indonesia berhasil mempertahankan status sebagai Emerging Market dalam evaluasi Morgan Stanley Capital International (MSCI). Sentimen positif tersebut belum mampu mendorong penguatan pasar saham karena investor masih mencermati berbagai risiko terhadap fundamental ekonomi nasional.
Sebelumnya, FTSE Russell pada 7 April 2026 mempertahankan Indonesia sebagai Secondary Emerging Market. Kemudian pada 24 Juni 2026, MSCI juga memutuskan tetap menempatkan Indonesia dalam kelompok Emerging Market. Kedua keputusan tersebut sempat meredakan kekhawatiran pelaku pasar terhadap potensi perubahan klasifikasi yang berisiko memicu keluarnya dana asing dari pasar modal Indonesia.
Namun, perhatian investor kini beralih pada sejumlah tantangan makroekonomi yang dinilai dapat memengaruhi prospek pasar ke depan.
Berdasarkan data perdagangan selama satu bulan terakhir hingga penutupan Kamis, 2 Juli 2026, IHSG berada di level 5.744,56 atau turun 382,82 poin setara 6,25 persen. Dalam periode tersebut, indeks sempat menyentuh level tertinggi 6.377,19 sebelum terkoreksi hingga level terendah 5.317,91. Meski mulai menunjukkan pemulihan dalam beberapa sesi terakhir, penguatan tersebut belum mampu membawa IHSG kembali ke level psikologis 6.000.
Aksi investor asing juga masih mencerminkan sikap hati-hati. Pada perdagangan 2 Juli 2026, investor asing membukukan net foreign sell sebesar Rp237,87 miliar di seluruh pasar. Di pasar reguler, nilai jual bersih asing mencapai Rp322,69 miliar, sedangkan di pasar tunai dan negosiasi masih tercatat beli bersih Rp84,82 miliar.
Nilai transaksi pada hari itu mencapai Rp11,15 triliun. Investor domestik mendominasi transaksi dengan porsi 58,93 persen, sementara investor asing menyumbang 41,07 persen. Dari sisi volume perdagangan, porsi investor asing mencapai 25,55 persen, sedangkan berdasarkan frekuensi transaksi sebesar 20,49 persen.
Di tengah masih berlanjutnya aksi jual investor asing, pelaku pasar juga mencermati sejumlah risiko yang disampaikan Fitch Ratings.
Melansir Bloomberg, Fitch memperingatkan sovereign rating Indonesia dapat berada dalam tekanan apabila cadangan devisa terus mengalami penurunan secara tajam dan berkepanjangan, terutama jika lemahnya kepercayaan investor terus memicu capital outflow.
Fitch memperkirakan cadangan devisa Indonesia pada 2026 hanya mampu membiayai kebutuhan pembayaran eksternal selama sekitar 4,9 bulan. Angka tersebut sedikit lebih rendah dibandingkan median negara-negara dengan peringkat BBB versi Fitch yang mencapai lima bulan.
Lembaga pemeringkat tersebut juga mencatat Bank Indonesia memiliki posisi net short mata uang asing hampir USD27 miliar hingga akhir Mei 2026. Posisi itu berpotensi meningkatkan kebutuhan likuiditas valuta asing saat kewajiban tersebut jatuh tempo.
Menurut Fitch, cadangan devisa Indonesia berada dalam tren menurun seiring langkah Bank Indonesia menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Di sisi lain, kenaikan harga minyak dunia turut menggerus neraca perdagangan hingga Indonesia mencatat defisit pertama sejak April 2020 pada Mei 2026.
Fitch juga menilai risiko tersebut dapat meningkat seiring rencana pemerintah memusatkan ekspor komoditas strategis.
Selain menyoroti sektor eksternal, Fitch dalam laporan Indonesia Credit Trends: June 2026 yang diterbitkan pada 29 Juni 2026 memperkirakan perusahaan-perusahaan yang bergantung pada konsumsi rumah tangga akan menghadapi peningkatan risiko akibat kondisi makroekonomi yang semakin menantang.
"Kenaikan harga BBM nonsubsidi, meningkatnya suku bunga, serta pelemahan nilai tukar rupiah menambah tekanan inflasi," tulis Fitch.
Fitch menilai kenaikan harga BBM nonsubsidi, tingginya suku bunga, serta pelemahan rupiah akan meningkatkan tekanan inflasi yang berpotensi menggerus daya beli masyarakat dan menekan belanja kebutuhan nonprimer.
Akibatnya, sektor yang bergantung pada pembiayaan kredit, seperti otomotif dan properti, diperkirakan menjadi yang paling rentan terhadap perlambatan permintaan. Sebaliknya, permintaan terhadap kebutuhan pokok, termasuk bahan pangan dan sumber protein dengan harga terjangkau, diproyeksikan tetap relatif kuat.
Masih berlanjutnya aksi jual investor asing, kekhawatiran terhadap penurunan cadangan devisa, potensi capital outflow, pelemahan rupiah, serta prospek perlambatan konsumsi domestik menjadi sejumlah faktor yang membatasi ruang penguatan IHSG.(*)