Logo
>

Diversifikasi Pasokan Impor Kian Terlihat di Awal 2026

Jika ditelaah berdasarkan klasifikasi penggunaan barang (BEC), seluruh komponen impor justru mencatatkan ekspansi

Ditulis oleh Pramirvan Datu
Diversifikasi Pasokan Impor Kian Terlihat di Awal 2026
Diversifikasi Pasokan Impor Kian Terlihat di Awal 2026

KABARBURSA.COM - Kontraksi paling dalam tercermin pada impor barang modal yang merosot 15,75 persen secara bulanan. Penurunan itu diikuti oleh barang konsumsi sebesar 11,64 persen, serta bahan baku dan penolong yang terkoreksi 5,21 persen. Sebuah pelemahan yang cukup signifikan.

Namun, gambaran berbeda muncul jika dilihat secara kumulatif. Sepanjang Januari hingga Maret 2026, nilai impor Indonesia mencapai 61,30 miliar dolar AS—melonjak 10,05 persen dibandingkan periode serupa tahun sebelumnya. Laju ini terutama ditopang oleh impor nonmigas yang tumbuh 12,16 persen. Sebaliknya, impor migas justru mengalami kontraksi tipis sebesar 1,72 persen.

Jika ditelaah berdasarkan klasifikasi penggunaan barang (BEC), seluruh komponen impor justru mencatatkan ekspansi. Barang modal memimpin dengan pertumbuhan 24,02 persen. Disusul bahan baku dan penolong sebesar 6,89 persen, serta barang konsumsi yang meningkat 6,12 persen secara kumulatif.

Lonjakan impor barang modal tidak terjadi tanpa sebab. Permintaan terhadap komoditas strategis—mulai dari telepon pintar, komputer, hingga pesawat terbang—menjadi katalis utama yang mendorong peningkatan tersebut.

Dari perspektif komoditas, eskalasi paling mencolok terjadi pada impor nonmigas kategori kendaraan udara dan komponennya, yang melonjak tajam hingga 546,55 persen. Angka yang mencuri perhatian.

Tak berhenti di situ, impor garam, belerang, batu, dan semen tumbuh 71,95 persen. Bijih logam, terak, serta abu meningkat 60,64 persen. Sementara itu, logam mulia, perhiasan, dan permata mencatatkan kenaikan 44,71 persen. Produk kimia pun ikut terdorong, dengan pertumbuhan mencapai 36,31 persen.

Dari sisi geografis, dominasi impor nonmigas masih dipegang oleh Tiongkok, Australia, dan Jepang. Ketiganya menyumbang kontribusi gabungan sebesar 52,97 persen—sebuah konsentrasi yang tetap kuat.

Meski demikian, dinamika baru mulai terlihat. Pertumbuhan impor tertinggi justru berasal dari negara-negara nontradisional. Meksiko melonjak 383,37 persen, Spanyol 177,70 persen, dan Oman 138,90 persen secara kumulatif. Diversifikasi sumber pasokan kian nyata.

Di tengah dinamika tersebut, Budi menegaskan komitmen pemerintah untuk menjaga momentum perdagangan. Fokus diarahkan pada penguatan ketahanan sektor domestik.

“Kami akan terus memperluas pasar, sembari menjaga stabilitas industri dalam negeri dan memastikan kebijakan tetap adaptif terhadap dinamika global,” ujarnya.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Pramirvan Datu

Pram panggilan akrabnya, jurnalis sudah terverifikasi dewan pers. Mengawali karirnya sejak tahun 2012 silam. Berkecimpung pewarta keuangan, perbankan, ekonomi makro dan mikro serta pasar modal.