Logo
>

Dolar AS Mulai Loyo, Pasar Uji Nyali Jelang Putusan The Fed

Perubahan posisi investor jelang keputusan bank sentral global dorong pelemahan dolar, di tengah lonjakan minyak dan meningkatnya risiko inflasi.

Ditulis oleh Yunila Wati
Dolar AS Mulai Loyo, Pasar Uji Nyali Jelang Putusan The Fed
Dolar AS masih menunjukkan pelemahan terhadap sejumlah mata uang lainnya. Foto: Dok KabarBursa.

KABARBURSA.COM – Pergerakan dolar Amerika Serikat mulai kehilangan tenaga setelah sempat melesat ke level tertinggi dalam hampir satu tahun. Pada perdagangan Rabu pagi WIB, 18 Maret 2026, indeks dolar kembali melemah untuk hari kedua berturut-turut.

Ada perubahan dinamika pasar yang kini tidak lagi sepenuhnya defensif meski ketegangan geopolitik masih berlangsung.

Indeks dolar terakhir tercatat turun 0,31 persen ke level 99,55, setelah sebelumnya sempat menyentuh 100,54 pada Jumat, yang juga merupakan level tertinggi sejak Mei 2025. Terhadap franc Swiss, dolar juga melemah 0,40 persen ke 0,7846. Ini memperpanjang tren koreksi jangka pendek setelah reli yang cukup panjang sejak konflik Timur Tengah memanas.

Pelemahan dolar AS terjadi di tengah perubahan pola perilaku pelaku pasar. Jika sebelumnya dolar cenderung diburu saat terjadi tekanan global, kini mulai terlihat pergeseran di mana dolar justru dilepas saat reli. 

Perubahan ini mencerminkan fase penyesuaian posisi menjelang rangkaian keputusan suku bunga bank sentral utama dunia yang akan dirilis dalam waktu berdekatan.

The Fed Diperkirakan Tahan Suku Bunga

Fokus utama pasar tertuju pada The Federal Reserve yang akan mengumumkan kebijakan moneternya. Bank sentral Amerika Serikat tersebut diperkirakan akan mempertahankan suku bunga, namun arah komunikasi menjadi variabel yang lebih menentukan. 

Kenaikan harga minyak dan eskalasi konflik di Timur Tengah telah mengubah ekspektasi inflasi, yang pada akhirnya mempengaruhi proyeksi kebijakan suku bunga.

Ekspektasi pelonggaran moneter kini mengalami penyesuaian signifikan. Pasar hanya memperkirakan pemangkasan suku bunga sekitar 25 basis poin sepanjang tahun ini. Angka tersebut jauh lebih rendah dibandingkan ekspektasi sebelumnya sebelum konflik meningkat. 

Artinya, ruang pelonggaran semakin terbatas seiring meningkatnya tekanan inflasi yang dipicu oleh lonjakan harga energi.

Di saat yang sama, pasar global juga bersiap menghadapi keputusan dari bank sentral lain seperti Bank Sentral Eropa, Bank of England, dan Bank of Japan. Seluruhnya diperkirakan menahan suku bunga, namun arah kebijakan ke depan menjadi perhatian utama. 

Perubahan ekspektasi terlihat jelas di Eropa, di mana pasar kini justru mulai memperhitungkan kemungkinan kenaikan suku bunga pada 2026, berbalik dari ekspektasi penurunan sebelum konflik terjadi.

Risiko Tingginya Inflasi

Pergerakan dolar juga tidak bisa dilepaskan dari dinamika harga minyak. Brent yang bertahan di atas USD100 per barel, dan telah naik lebih dari 40 persen sejak Februari, menjadi sumber tekanan baru bagi inflasi global. 

Kenaikan ini mengubah keseimbangan narasi pasar, dari sebelumnya fokus pada perlambatan ekonomi, menjadi kembali memperhitungkan risiko inflasi yang lebih tinggi dan bertahan lebih lama.

Dalam konteks ini, dolar menghadapi dua arus yang saling bertabrakan. Sebagai aset aman, dolar masih memiliki daya tarik ketika ketidakpastian meningkat. 

Namun, ketika pasar mulai menilai bahwa inflasi akan tetap tinggi dan suku bunga tidak segera turun, ruang penguatan dolar menjadi lebih terbatas karena ekspektasi tersebut sudah tercermin dalam harga.

Pergerakan Mata Uang Utama

Pergerakan mata uang utama lainnya memperlihatkan respons yang beragam. Euro menguat 0,31 persen ke USD1,15403 setelah sebelumnya sempat melemah ke level terendah sejak Agustus 2025. Penguatan ini mencerminkan penyesuaian posisi setelah tekanan sebelumnya, sekaligus respons terhadap perubahan ekspektasi kebijakan di kawasan Eropa.

Dolar Australia juga menguat 0,46 persen ke 0,71040 setelah bank sentral Australia kembali menaikkan suku bunga untuk bulan kedua berturut-turut. Kenaikan ini membawa suku bunga ke level tertinggi dalam 10 bulan terakhir dan menandakan bahwa tekanan inflasi di kawasan tersebut masih menjadi perhatian utama.

Sementara itu, yen Jepang bergerak di area sensitif. Nilai tukar yen berada di kisaran 159 per dolar, mendekati zona intervensi pemerintah Jepang pada 2024 di sekitar level 161. 

Pemerintah Jepang kembali menegaskan kesiapan untuk mengambil langkah tegas jika volatilitas meningkat, menunjukkan bahwa pergerakan mata uang kini juga menjadi bagian dari perhatian kebijakan domestik.

Dengan seluruh dinamika tersebut, pergerakan dolar saat ini mencerminkan fase transisi yang kompleks. Reli yang sebelumnya ditopang oleh arus safe haven mulai diuji oleh perubahan ekspektasi kebijakan moneter global. 

Pasar tidak lagi sekadar mencari perlindungan, tetapi juga mulai menghitung ulang keseimbangan antara inflasi, suku bunga, dan risiko geopolitik.

Di titik ini, dolar tidak lagi bergerak satu arah. Ia berada di tengah tarik-menarik antara kebutuhan akan keamanan dan realitas bahwa kebijakan moneter global sedang memasuki fase yang lebih ketat dari yang sebelumnya diperkirakan. 

Hasil dari pertemuan The Fed akan menjadi penentu apakah pelemahan ini hanya jeda sementara, atau awal dari pergeseran tren yang lebih dalam di pasar valuta asing global.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Yunila Wati

Telah berkarier sebagai jurnalis sejak 2002 dan telah aktif menulis tentang politik, olahraga, hiburan, serta makro ekonomi. Berkarier lebih dari satu dekade di dunia jurnalistik dengan beragam media, mulai dari media umum hingga media yang mengkhususkan pada sektor perempuan, keluarga dan anak.

Saat ini, sudah lebih dari 1000 naskah ditulis mengenai saham, emiten, dan ekonomi makro lainnya.

Tercatat pula sebagai Wartawan Utama sejak 2022, melalui Uji Kompetensi Wartawan yang diinisiasi oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), dengan nomor 914-PWI/WU/DP/XII/2022/08/06/79