Logo
>

Dow Jones Rontok 10 Persen, Alarm Bahaya Pasar Global Menyala

Lonjakan harga minyak dan perang Iran menggeser ekspektasi suku bunga The Fed, sementara Nasdaq dan S&P 500 ikut tertekan di tengah pelemahan sentimen investor global.

Ditulis oleh Yunila Wati
Dow Jones Rontok 10 Persen, Alarm Bahaya Pasar Global Menyala
Ketegangan politik AS-Iran serta laporan ketenagakerjaan dan lonjakan harga minyak membuat Indeks Dow Jones terkoreksi cukup dalam. (Foto: The Wall Street Experience)

KABARBURSA.COM – Wall Street menutup perdagangan Jumat, 28 Maret 2026, dengan tekanan yang semakin dalam setelah Dow Jones Industrial Average resmi masuk fase koreksi. Tekanan tersebut juga menandai adanya perubahan sentimen pasar, di mana mereka semakin berhati-hati mengambil sikap di tengah eskalasi perang Iran yang mulai merembet ke ekspektasi ekonomi global.

Penurunan 1,7 persen pada Dow Jones tidak berdiri sendiri, tetapi menjadi bagian dari pelemahan yang lebih luas dan sistematis. Sejak mencapai rekor penutupan pada 10 Februari 2026, indeks yang berisi 30 saham unggulan tersebut telah terkoreksi sekitar 10 persen.

Koreksi dalam ini sekaligus mengonfirmasi perubahan fase dari tren penguatan menuju koreksi pasar. Dalam beberapa hari terakhir, tekanan bahkan tercatat sebagai yang terdalam sejak April 2025, yaitu Ketika kebijakan tarif global Amerika Serikat memicu gejolak pasar secara serentak.

Gelombang pelemahan juga telah menjalar ke indeks utama lain. Nasdaq, yang didominasi saham teknologi, lebih dulu masuk fase koreksi sejak Kamis, 26 Maret 2026, setelah turun lebih dari 10 persen dari puncaknya pada 29 Oktober. 

Sementara itu, S&P 500 kini berada sekitar 9 persen di bawah rekor tertingginya pada 27 Januari. Koreksi tersebut menunjukkan bahwa tekanan tidak hanya terfokus pada sektor tertentu, tetapi menyebar secara luas di hampir ke seluruh lapisan pasar.

Konflik Iran dan Melonjaknya Harga Minyak

Pergerakan ini terbentuk di tengah perubahan ekspektasi yang cukup tajam terkait arah ekonomi global. Sejak pecahnya konflik antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran pada 28 Februari, pasar keuangan global mengalami tekanan seiring dengan lonjakan harga minyak. 

Dalam periode tersebut, Dow Jones tercatat telah kehilangan lebih dari 7 persen nilainya. Di sini tampak betul respons investor terhadap potensi gangguan pasokan energi dan dampaknya terhadap inflasi global.

Kenaikan harga minyak menjadi salah satu penggerak utama perubahan sentimen. Lonjakan tersebut memicu kekhawatiran bahwa tekanan inflasi akan kembali meningkat, yang pada akhirnya menggeser ekspektasi kebijakan moneter. 

Data dari CME FedWatch Tool menunjukkan pelaku pasar kini mulai memperhitungkan kemungkinan kenaikan suku bunga The Federal Reserve pada akhir tahun. Kondisi ini berbalik dari ekspektasi sebelumnya yang lebih condong ke arah penurunan suku bunga.

Tekanan di Dow Jones juga diperbesar oleh pergerakan saham individual, dengan Goldman Sachs menjadi kontributor penurunan terbesar setelah sahamnya melemah 2,4 persen. Pelemahan saham sektor keuangan ini memperlihatkan bahwa tekanan tidak hanya datang dari faktor makro, tetapi juga dari penyesuaian valuasi pada saham-saham besar yang selama ini menjadi penopang indeks.

Laporan Ketenagakerjaan

Di luar pergerakan harga, sentimen tambahan juga muncul dari sisi kelembagaan pasar. Laporan Government Accountability Office (GAO) menunjukkan bahwa jumlah pegawai di Securities and Exchange Commission (SEC) turun hingga 18 persen pada tahun fiskal 2025. 

Penurunan ini terjadi setelah sekitar 600 pegawai mengikuti program buyout hingga Mei 2026. Ditambah lebih dari 270 pegawai lain keluar hingga September 2026.

Kondisi tersebut mencerminkan perubahan struktur internal regulator pasar di tengah dinamika pasar yang semakin kompleks. Sejumlah staf SEC dilaporkan menghadapi peningkatan beban kerja serta potensi hilangnya pengetahuan institusional akibat gelombang pengunduran diri tersebut. 

Di sisi lain, pihak SEC menyatakan bahwa lembaga masih memiliki sumber daya yang memadai dan tengah menjalankan rencana perekrutan untuk menjaga fungsi pengawasan tetap berjalan.

Di tengah kombinasi tekanan makro dan kelembagaan ini, arah pasar kini bergerak dalam ruang ketidakpastian yang lebih luas. Investor tidak hanya merespons pergerakan harga jangka pendek, tetapi juga mulai menimbang apakah pelemahan yang terjadi menyerupai koreksi temporer seperti pada 2025 atau justru menjadi fase awal dari tekanan yang lebih panjang.

Pergerakan pada penutupan pekan ini menunjukkan bahwa pasar belum menemukan titik keseimbangan baru. Lonjakan harga energi, perubahan ekspektasi suku bunga, serta dinamika geopolitik yang masih berlangsung terus menjadi variabel utama yang membentuk arah perdagangan berikutnya, baik untuk sesi awal pekan depan maupun dalam horizon yang lebih panjang.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Yunila Wati

Telah berkarier sebagai jurnalis sejak 2002 dan telah aktif menulis tentang politik, olahraga, hiburan, serta makro ekonomi. Berkarier lebih dari satu dekade di dunia jurnalistik dengan beragam media, mulai dari media umum hingga media yang mengkhususkan pada sektor perempuan, keluarga dan anak.

Saat ini, sudah lebih dari 1000 naskah ditulis mengenai saham, emiten, dan ekonomi makro lainnya.

Tercatat pula sebagai Wartawan Utama sejak 2022, melalui Uji Kompetensi Wartawan yang diinisiasi oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), dengan nomor 914-PWI/WU/DP/XII/2022/08/06/79