Logo
>

Drone Iran Bisa Ganggu Selat Hormuz Berbulan-bulan

Serangan drone Iran berpotensi melumpuhkan jalur minyak dunia di Selat Hormuz, memicu lonjakan harga energi dan risiko gangguan pelayaran global.

Ditulis oleh Moh. Alpin Pulungan
Drone Iran Bisa Ganggu Selat Hormuz Berbulan-bulan
Serangan drone Iran mengancam pelayaran di Selat Hormuz selama berbulan-bulan, jalur vital bagi sekitar 20 persen pasokan minyak dunia. Foto: Getty Images

KABARBURSA.COM — Serangan drone Iran bukan sekadar balasan militer. Di balik rentetan serangan itu, ada ancaman yang jauh lebih besar bagi ekonomi global. Jika gangguan di Selat Hormuz berlanjut, jalur energi paling penting di dunia bisa lumpuh berbulan-bulan dan memicu lonjakan harga minyak internasional.

Sejak Amerika Serikat dan Israel menyerang Iran pada Sabtu pekan lalu, Teheran merespons dengan gelombang serangan besar-besaran. Ratusan rudal dan lebih dari 1.000 drone diluncurkan ke sejumlah negara Teluk yang menjadi sekutu Washington.

Sebagian besar proyektil berhasil dihancurkan sistem pertahanan udara. Namun tidak semuanya dapat dicegat. Beberapa bangunan perumahan, fasilitas komersial, infrastruktur strategis hingga pangkalan militer Amerika Serikat dilaporkan mengalami kerusakan.

Serangan itu bukan hanya soal kekuatan militer. Para analis menilai tujuan strategis Iran adalah mengguncang jalur energi global melalui Selat Hormuz.

Selat Hormuz merupakan jalur laut sempit yang memisahkan Iran dan Oman. Meski sempit, perannya sangat besar dalam perdagangan energi dunia. Sekitar seperlima pasokan minyak mentah dan gas alam cair global melewati jalur ini setiap hari. Gangguan di wilayah tersebut sudah mulai terasa. Setelah sejumlah kapal tanker diserang Iran, lalu lintas pelayaran energi di selat itu hampir berhenti.

Dampaknya langsung tercermin di pasar energi. Harga minyak mentah Brent melonjak sekitar 12 persen dalam sepekan. Sementara harga gas alam di Eropa melonjak hingga 50 persen.

Presiden Rapidan Energy Group, Bob McNally, mengatakan Iran memiliki kemampuan membuat jalur pelayaran di kawasan itu tidak aman bagi kapal komersial. “Iran tidak akan menyerah dengan mudah atau cepat. Mereka punya cara untuk membuat jalur perdagangan di Hormuz tidak aman,” ujarnya, dikutip dari Reuters, Kamis, 5 Maret 2026.

Ia menilai strategi Iran tidak harus menutup selat secara permanen. Cukup dengan menunjukkan kemampuan menyerang beberapa tanker. “Amerika Serikat memang memprioritaskan serangan ke gudang amunisi dan pangkalan Iran yang mengancam Hormuz. Tapi Iran hanya perlu menunjukkan mereka bisa mengenai beberapa kapal tanker dan kekhawatiran akan bekerja sendiri. Orang-orang tidak akan berani lewat,” kata McNally.

Iran Produsen Drone Besar

Di balik strategi tersebut, Iran memiliki satu keunggulan penting. Negara itu merupakan salah satu produsen drone terbesar di kawasan. Pusat riset Centre for Information Resilience menyebut Iran memiliki kapasitas industri untuk memproduksi sekitar 10.000 drone setiap bulan. Angka tersebut memberi Iran kemampuan mempertahankan serangan dalam waktu lama.

Drone generasi terbaru Iran, Shahed-136, memiliki jangkauan antara 700 hingga 1.000 kilometer. Jarak itu cukup untuk menjangkau hampir seluruh pesisir Teluk dari daratan Iran atau dari kapal yang beroperasi di laut. Farzin Nadimi dari Washington Institute menjelaskan bahwa jangkauan tersebut memungkinkan Iran menyerang target strategis di negara-negara Teluk.

Dalam konflik terbaru, sejumlah drone berhasil menembus sistem pertahanan udara kawasan. Setidaknya 65 drone tercatat masuk wilayah Uni Emirat Arab sejak konflik dimulai. Beberapa di antaranya menghantam pusat data Amazon, Bandara Internasional Dubai, hingga sebuah hotel Fairmont. Infrastruktur di Bahrain juga mengalami kerusakan, termasuk pangkalan angkatan laut Amerika Serikat dan sebuah menara apartemen yang juga menampung hotel.

Stok Rudal Iran Jadi Titik Lemah

Meski kemampuan drone besar, analis intelijen menilai Iran memiliki kelemahan pada stok rudal. Jumlah persediaan rudal Iran tidak diketahui secara pasti. Militer Israel memperkirakan sekitar 2.500 unit, sementara beberapa analis lain menyebut bisa mencapai 6.000 unit.

Namun sebagian stok tersebut diyakini telah berkurang. Iran selama beberapa tahun terakhir memasok persenjataan kepada Hizbullah di Lebanon dan kelompok Houthi di Yaman. Seorang sumber intelijen Barat mengatakan pasokan tersebut membuat cadangan rudal Iran menyusut. Selain itu, konflik singkat dengan Israel pada Juni lalu juga menguras sebagian stok.

Masalah lain muncul pada peluncur rudal. Riset lembaga Inggris CIR menunjukkan jumlah peluncur rudal Iran telah berkurang setidaknya setengah dalam setahun terakhir akibat serangan Israel dan Amerika Serikat.

Jika persediaan rudal mulai menipis, Iran masih memiliki opsi lain yang jauh lebih berbahaya bagi pelayaran global. Iran memiliki sekitar 5.000 hingga 6.000 ranjau laut menurut perusahaan intelijen maritim Dryad Global. Ranjau tersebut dapat dipasang di dasar laut, didorong roket, atau dibiarkan mengapung hingga meledak saat bersentuhan dengan kapal.

Sejauh ini belum ada indikasi ranjau telah dipasang di Selat Hormuz. Namun para analis menilai skenario itu dapat mengubah konflik secara drastis. Cormac McCarry dari Control Risks mengatakan dampaknya bisa berlangsung lama. “Jika ranjau laut dipasang, akan membutuhkan waktu lama untuk menanganinya. Di titik itu kita bisa melihat kerusakan yang berlangsung berbulan-bulan,” ujarnya.

Risiko Perang Energi Global

Para pedagang minyak kini menunggu perkembangan konflik dalam beberapa hari ke depan. Durasi gangguan di Selat Hormuz akan menentukan seberapa besar guncangan di pasar energi dunia. Seorang eksekutif senior perusahaan perdagangan komoditas Vitol menyebut risiko saat ini justru belum sepenuhnya tercermin di harga minyak.

“Saya sangat khawatir. Risiko ini saat ini masih terlalu diremehkan oleh pasar minyak,” katanya.

Ia juga menyebut teori yang beredar di kalangan analis energi. “Teori yang banyak dipercaya adalah Iran menggunakan rudal dan drone lama terlebih dahulu untuk menguras pertahanan udara lawan. Jika benar begitu, respons utama mereka sebenarnya belum dimulai,” ujarnya.

Jika skenario itu terjadi, konflik di Teluk bukan hanya soal perang regional. Jalur energi dunia bisa menjadi medan pertempuran berikutnya. Dan jika Selat Hormuz benar-benar lumpuh, dampaknya tidak hanya terasa di Timur Tengah, tetapi juga di pompa bensin dan tagihan energi di seluruh dunia.(*)

Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Moh. Alpin Pulungan

Asisten Redaktur KabarBursa.com. Jurnalis yang telah berkecimpung di dunia media sejak 2020. Pengalamannya mencakup peliputan isu-isu politik di DPR RI, dinamika hukum dan kriminal di Polda Metro Jaya, hingga kebijakan ekonomi di berbagai instansi pemerintah. Pernah bekerja di sejumlah media nasional dan turut terlibat dalam liputan khusus Ada TNI di Program Makan Bergizi Gratis Prabowo Subianto di Desk Ekonomi Majalah Tempo.

Lulusan Sarjana Hukum Universitas Pamulang. Memiliki minat mendalam pada isu Energi Baru Terbarukan dan aktif dalam diskusi komunitas saham Mikirduit. Selain itu, ia juga merupakan alumni Jurnalisme Sastrawi Yayasan Pantau (2022).