KABARBURSA.COM - Pengurus Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Alexander Yahya Datuk, menilai kehadiran PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) membuka peluang besar untuk menekan praktik underinvoicing dan transfer pricing. Di saat yang sama, langkah tersebut diyakini mampu memperkokoh tata kelola ekspor komoditas strategis nasional apabila dijalankan secara optimal dan konsisten.
Alexander menjelaskan bahwa skema pengelolaan ekspor seperti yang diusung DSI sejatinya bukanlah konsep baru di panggung perdagangan internasional.
Berbagai negara telah lebih dahulu menerapkan model serupa sebagai instrumen pengawasan komoditas. Tujuannya tidak hanya meningkatkan transparansi transaksi, tetapi juga memastikan manfaat ekonomi dari aktivitas ekspor dapat kembali memberikan nilai tambah yang lebih besar bagi negara asal.
“Jika melihat berbagai preseden internasional, pola seperti ini telah diterapkan di banyak negara. Secara teoritis, pendekatan tersebut memiliki potensi signifikan untuk mengurangi bahkan menghapus praktik transfer pricing dan underinvoicing, sekaligus meningkatkan penerimaan devisa nasional,” ujar Alexander.
Menurutnya, keberhasilan menekan kedua praktik tersebut akan membuka ruang yang lebih luas bagi peningkatan cadangan devisa. Dampaknya tidak hanya terasa pada sektor perdagangan, tetapi juga berimplikasi terhadap fondasi perekonomian secara keseluruhan.
Alexander menilai tambahan devisa dapat memperkuat ketahanan ekonomi nasional, termasuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Selain itu, dana hasil ekspor berpeluang lebih banyak terserap dan tersimpan dalam sistem keuangan domestik.
“Secara logis, mekanisme ini dapat membantu menjaga stabilitas kurs rupiah sekaligus memastikan dana hasil ekspor tetap berada dalam sistem perbankan nasional,” katanya.
Lebih jauh, ia memandang pembentukan DSI sebagai titik tolak penting bagi transformasi tata kelola ekspor Indonesia. Sistem baru tersebut berpotensi mendorong terciptanya ekosistem perdagangan yang lebih modern, terdigitalisasi, dan akuntabel.
Ke depan, pengelolaan ekspor dinilai perlu ditopang oleh infrastruktur yang memungkinkan setiap transaksi tercatat secara komprehensif, terdokumentasi dengan baik, serta dapat diawasi secara lebih efektif dan berkelanjutan.
Meskipun demikian, Alexander mengingatkan bahwa fase awal operasional DSI akan menjadi periode yang sangat menentukan. Ia memperkirakan tujuh bulan pertama merupakan masa krusial untuk membangun fondasi sistem, platform, serta berbagai perangkat pendukung yang diperlukan agar mekanisme kerja dapat berjalan sesuai sasaran.
Menurutnya, keberhasilan implementasi pada tahap awal sangat bergantung pada kesiapan manajemen dalam menghadirkan platform yang andal. Sistem operasional tersebut harus mampu mengakomodasi transaksi secara efektif, efisien, dan tepat waktu agar tujuan yang telah ditetapkan dapat tercapai.
“Platform yang digunakan harus benar-benar siap, berfungsi optimal, dan mampu mendukung transaksi secara efektif,” tuturnya.(*)