Logo
>

Dua Sentimen ini Tekan Emas, Harga Terkoreksi Dua Persen

Penguatan dolar AS dan meningkatnya ekspektasi suku bunga tinggi menekan harga emas global, sementara konflik Iran dan lonjakan harga energi memperkuat kekhawatiran inflasi.

Ditulis oleh Yunila Wati
Dua Sentimen ini Tekan Emas, Harga Terkoreksi Dua Persen
Selain karena dolar AS yang menguat dan konflik Timteng yang memanas, pergeseran perdagangan emas global ikut menyeret harga emas hingga jatuh lebih dari 2 persen dalam sepekan. (Foto: Xinhua)

KABARBURSA.COM – Harga emas dunia kembali melemah pada penutupan perdagangan Jumat waktu Amerika Serikat, 13 Maret 2026. Ini menjadi penurunan mingguan kedua berturut-turut di tengah penguatan dolar AS dan meningkatnya kekhawatiran inflasi akibat konflik Iran yang mempengaruhi ekspektasi kebijakan suku bunga.

Harga emas spot tercatat turun sekitar 0,5 persen menjadi USD5.052,15 per troy ounce pada pukul 13.44 waktu New York. Secara mingguan, harga logam mulia tersebut telah terkoreksi lebih dari 2 persen sepanjang pekan perdagangan.

Sementara itu, kontrak berjangka emas Amerika Serikat untuk pengiriman April ditutup lebih rendah sekitar 1,3 persen di level USD5.061,70 per troy ounce. 

Dolar AS Semakin Hijau

Penguatan dolar menjadi salah satu faktor utama yang membebani harga emas. Mata uang dolar tercatat berada di jalur kenaikan mingguan dan mendekati level tertinggi dalam hampir empat bulan terakhir. 

Kondisi ini membuat emas yang diperdagangkan dalam denominasi dolar menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lain sehingga menekan permintaan global.

Trader logam independen Tai Wong, mengatakan bahwa meskipun sentimen jangka panjang terhadap emas masih cenderung positif, pergerakan harga dalam jangka pendek menunjukkan tekanan sejak konflik Iran mulai meningkat. 

Menurut dia, penguatan dolar telah menjadi faktor dominan yang mendorong harga emas bergerak menuju level terendah sejak konflik tersebut memanas.

Pandangan serupa juga disampaikan oleh analis Commerzbank yang menilai bahwa ekspektasi terhadap kebijakan moneter yang lebih ketat menjadi penyebab utama pelemahan harga emas dalam beberapa sesi terakhir. 

Ketika pasar memperkirakan suku bunga akan bertahan tinggi lebih lama, daya tarik emas biasanya berkurang karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil seperti instrumen berbunga.

Inflasi AS Menguat

Data ekonomi terbaru dari Amerika Serikat turut memperkuat perubahan ekspektasi tersebut. Laporan menunjukkan bahwa belanja konsumen Amerika Serikat pada Januari meningkat sedikit lebih tinggi dibandingkan perkiraan sebelumnya. 

Kondisi tersebut muncul bersamaan dengan inflasi inti yang masih menunjukkan kekuatan relatif.

Kombinasi data tersebut membuat sejumlah ekonom menilai bahwa Federal Reserve kemungkinan belum akan kembali memangkas suku bunga dalam waktu dekat. Tekanan inflasi yang berpotensi meningkat akibat kenaikan harga energi serta konflik geopolitik di Timur Tengah menjadi faktor tambahan yang mempersempit ruang pelonggaran kebijakan moneter.

Ketegangan geopolitik juga menjadi salah satu variabel utama yang mempengaruhi pergerakan pasar komoditas global dalam beberapa pekan terakhir. Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa pemerintahannya akan menekan Iran dengan sangat keras dalam sepekan ke depan.

Pernyataan tersebut disampaikan tidak lama setelah pemerintah Amerika Serikat mengeluarkan keringanan sementara selama 30 hari terhadap pembelian minyak Rusia yang sebelumnya dikenai sanksi. Kebijakan ini diambil untuk meredakan kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan energi global.

Harga minyak sempat mengalami penurunan intraday, namun secara keseluruhan masih berada di jalur kenaikan mingguan karena gangguan distribusi energi di kawasan Teluk tetap berlangsung. Perkembangan ini memperkuat kekhawatiran bahwa lonjakan harga energi dapat kembali mendorong tekanan inflasi global.

Perdagangan Emas Global Bergeser

Selain faktor makroekonomi dan geopolitik, dinamika logistik perdagangan emas global juga mengalami perubahan. Sejumlah sumber industri menyebutkan bahwa sebagian penerbangan dari Dubai mulai kembali beroperasi sehingga aliran perdagangan emas dari pusat perdagangan global tersebut dapat kembali berjalan sebagian dalam pekan ini.

Dubai selama ini dikenal sebagai salah satu hub utama perdagangan emas dunia. Gangguan transportasi dari kawasan tersebut sebelumnya sempat membatasi arus distribusi logam mulia ke sejumlah pasar internasional.

Di pasar logam lainnya, tekanan harga juga terlihat cukup luas. Harga perak spot tercatat turun sekitar 3,3 persen ke level USD81,00 per troy ounce. Penurunan lebih dalam terjadi pada logam platinum yang melemah sekitar 4 persen menjadi USD2.047,20.

Palladium juga mengalami pelemahan dengan penurunan sekitar 2,5 persen ke level USD1.569,00 per troy ounce. Kedua logam yang sering disebut sebagai sister metals tersebut berada di jalur penurunan mingguan seiring pelemahan permintaan industri dan penguatan dolar.

Pergerakan pasar menunjukkan bahwa kombinasi faktor geopolitik, dinamika harga energi, serta ekspektasi kebijakan moneter Amerika Serikat saat ini menjadi penggerak utama volatilitas di pasar logam mulia global. 

Fluktuasi nilai tukar dolar dan perubahan ekspektasi terhadap arah suku bunga Federal Reserve menjadi dua variabel yang terus diperhatikan investor dalam menentukan posisi pada aset lindung nilai seperti emas.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Yunila Wati

Telah berkarier sebagai jurnalis sejak 2002 dan telah aktif menulis tentang politik, olahraga, hiburan, serta makro ekonomi. Berkarier lebih dari satu dekade di dunia jurnalistik dengan beragam media, mulai dari media umum hingga media yang mengkhususkan pada sektor perempuan, keluarga dan anak.

Saat ini, sudah lebih dari 1000 naskah ditulis mengenai saham, emiten, dan ekonomi makro lainnya.

Tercatat pula sebagai Wartawan Utama sejak 2022, melalui Uji Kompetensi Wartawan yang diinisiasi oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), dengan nomor 914-PWI/WU/DP/XII/2022/08/06/79