Logo
>

Edisi Khusus: Kisah Srikandi Bisnis Kartini Muljadi, Menatap Prospek Emiten Farmasi Legendaris TSPC

Perjalanan Tempo Scan Pacific dari perusahaan distribusi menjadi raksasa farmasi Indonesia, kiprah Kartini Muljadi, fundamental kuat, dividen 6,15 persen, serta analisis saham TSPC.

Ditulis oleh Yunila Wati
Edisi Khusus: Kisah Srikandi Bisnis Kartini Muljadi, Menatap Prospek Emiten Farmasi Legendaris TSPC
NV Tempo Trading dan sosok srikandi Kartini Muljadi. (Foto: dok TSPC)

KABARBURSA.COM - Perjalanan PT Tempo Scan Pacific Tbk adalah bukti bahwa sebuah perusahaan besar tidak dibangun dalam semalam. Di balik merek-merek yang sudah akrab di telinga masyarakat Indonesia, seperti Bodrex, Hemaviton, Marina, hingga My Baby, ada sejarah panjang yang dimulai lebih dari tujuh dekade lalu.

Kisah ini berawal pada 3 November 1953, ketika sebuah perusahaan bernama NV Tempo Trading didirikan. Pada masa itu, bisnis utamanya masih berfokus pada perdagangan dan distribusi berbagai produk kesehatan. Tanggal tersebut kemudian menjadi tonggak sejarah yang selalu diperingati sebagai hari lahir Grup Tempo.

Seiring berkembangnya kebutuhan masyarakat dan industri kesehatan nasional, perusahaan melihat peluang yang lebih besar. Tidak cukup hanya menjadi distributor, Tempo mulai membangun fondasi sebagai produsen.

Berdirinya PT Scanchemie

Langkah besar itu diwujudkan pada 1970 melalui pendirian PT Scanchemie, yang menjadi pintu masuk perusahaan ke industri manufaktur farmasi skala besar. Keputusan ini menjadi titik balik penting karena Tempo tidak lagi hanya menjual produk, tetapi mulai memproduksi sendiri berbagai kebutuhan kesehatan masyarakat Indonesia.

Perjalanan ekspansi terus berlanjut. Pada 1977, perusahaan mulai memperluas lini bisnisnya dengan mendirikan anak usaha yang memproduksi kosmetik serta berbagai produk konsumen. Strategi diversifikasi ini terbukti menjadi keputusan yang tepat karena mampu memperluas pangsa pasar dan memperkuat posisi perusahaan di industri barang konsumsi.

Memasuki dekade 1990-an, Tempo kembali melakukan langkah strategis melalui restrukturisasi besar-besaran. Setahun kemudian, PT Scanchemie bersama sejumlah perusahaan dalam grup digabungkan dan direstrukturisasi menjadi satu entitas yang lebih kuat dengan nama PT Tempo Scan Pacific.

Restrukturisasi tersebut menjadi fondasi baru bagi perusahaan untuk berkembang menjadi grup farmasi dan consumer goods yang terintegrasi, mulai dari penelitian, produksi, distribusi, hingga pemasaran.

Tempo Scan Pacific dan IPO BEI

Babak baru kembali dimulai pada 24 Mei 1994. Tempo Scan Pacific resmi mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Jakarta, yang kini dikenal sebagai Bursa Efek Indonesia (BEI). Melalui penawaran umum perdana saham atau Initial Public Offering (IPO), perusahaan memperoleh akses pendanaan yang lebih luas untuk mempercepat ekspansi bisnis sekaligus meningkatkan tata kelola perusahaan sebagai emiten publik.

Status sebagai perusahaan terbuka membawa Tempo Scan memasuki fase pertumbuhan yang lebih agresif. Berbagai merek unggulan lahir dan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia.

Bodrex menjadi salah satu obat sakit kepala paling dikenal di Indonesia. Hemaviton hadir sebagai suplemen kesehatan yang dipercaya berbagai kalangan, sementara Marina berkembang menjadi salah satu merek perawatan tubuh dengan basis konsumen yang luas. 

Berbagai inovasi produk tersebut menjadikan Tempo Scan tidak hanya dikenal sebagai perusahaan farmasi, tetapi juga sebagai pemain utama di industri kesehatan, kosmetik, dan produk konsumen.

Gurita Usaha di Asia Tenggara

Kesuksesan di pasar domestik kemudian mendorong perusahaan untuk melangkah lebih jauh. Sejak 2007 hingga sekarang, Tempo Scan terus memperluas jaringan bisnisnya ke berbagai negara di Asia Tenggara, termasuk Thailand, Filipina, dan Malaysia.

Ekspansi tersebut menunjukkan bahwa perusahaan tidak hanya ingin menjadi pemimpin di pasar Indonesia, tetapi juga mampu bersaing di tingkat regional dengan mengandalkan kualitas produk, jaringan distribusi yang kuat, serta inovasi yang berkelanjutan.

Sosok Kartini Muljadi, Srikandi Raksasa Farmasi Indonesia

Di balik kesuksesan PT Tempo Scan Pacific Tbk, ada sosok perempuan yang memiliki visi jauh melampaui zamannya. Namanya Kartini Muljadi, seorang hakim, notaris, sekaligus pengusaha yang berhasil membangun salah satu perusahaan farmasi dan barang konsumsi terbesar di Indonesia.

Kisah Tempo Scan sebenarnya tidak dimulai dari sebuah pabrik obat. Akar perusahaan ini berawal pada 3 November 1953, ketika Fadil dan Harijo Hadisantoso mendirikan NV Tempo Trading Company Limited. 

Saat itu, bisnis yang dijalankan masih berfokus pada perdagangan dan distribusi obat-obatan impor. Perusahaan tersebut menjadi salah satu distributor produk kesehatan yang berkembang pesat di Indonesia dan menjadi fondasi awal lahirnya Grup Tempo.

Perjalanan besar baru dimulai ketika Kartini Muljadi melihat peluang yang jauh lebih besar.

Alih-alih hanya mengandalkan bisnis distribusi, ia memiliki keyakinan bahwa Indonesia harus mampu memproduksi obat-obatan sendiri. Berbekal pengalaman di bidang hukum dan keberanian mengambil keputusan, Kartini mendirikan PT Scanchemie pada tahun 1970.

Langkah tersebut menjadi titik balik yang mengubah arah bisnis Grup Tempo.

Dari Bodrex hingga Hemaviton

Melalui PT Scanchemie, perusahaan mulai memproduksi berbagai produk kesehatan secara mandiri. Dari sinilah lahir merek-merek yang kemudian menjadi bagian dari kehidupan jutaan masyarakat Indonesia, seperti Bodrex yang identik sebagai obat sakit kepala, serta Hemaviton yang dikenal sebagai suplemen penambah stamina.

Kesuksesan Scanchemie membuat Kartini Muljadi kembali mengambil langkah strategis. Pada 1991, ia melakukan restrukturisasi besar dengan menggabungkan sejumlah perusahaan dalam grup menjadi satu entitas yang lebih terintegrasi bernama PT Tempo Scan Pacific.

Restrukturisasi tersebut bukan sekadar pergantian nama, melainkan transformasi bisnis yang menggabungkan kekuatan manufaktur, distribusi, pemasaran, hingga riset dan pengembangan dalam satu perusahaan yang lebih efisien dan kompetitif.

Tiga tahun kemudian, tepatnya pada 24 Mei 1994, Tempo Scan Pacific resmi melantai di Bursa Efek Jakarta dan menyandang status sebagai perusahaan terbuka. Momentum ini menjadi tonggak penting yang memperkuat posisi perusahaan sebagai salah satu pemain utama di industri farmasi dan barang konsumsi nasional.

Krisis Moneter 1998

Ketangguhan Kartini Muljadi benar-benar diuji saat Indonesia dilanda Krisis Moneter 1998.

Saat banyak perusahaan besar mengalami kesulitan keuangan, Tempo Scan justru mampu bertahan dan secara bertahap melunasi kewajiban utang luar negeri dalam jumlah besar hingga tuntas. Keberhasilan tersebut semakin mengukuhkan reputasi Kartini sebagai salah satu pemimpin bisnis paling tangguh di Indonesia.

Di bawah kepemimpinannya, Tempo Scan tidak hanya tumbuh sebagai perusahaan farmasi, tetapi juga berkembang menjadi produsen kosmetik, suplemen kesehatan, serta berbagai produk konsumen yang dikenal luas oleh masyarakat.

Warisan tersebut kini diteruskan oleh putra bungsunya, Handojo Selamet Muljadi, yang melalui PT Bogamulia Nagadi sebagai pemegang saham pengendali terus memperluas ekspansi perusahaan ke tingkat regional.

Di bawah kepemimpinan generasi kedua ini, Tempo Scan tidak lagi hanya berfokus pada pasar domestik. Produk-produknya telah hadir di berbagai negara Asia Tenggara seperti Thailand, Filipina, dan Malaysia, memperkuat posisi perusahaan sebagai salah satu perusahaan kesehatan dan consumer goods terbesar yang lahir dari Indonesia.

Kartini Muljadi sendiri berpulang pada 20 Oktober 2025 di usia 95 tahun. Meski demikian, visi yang ia bangun lebih dari lima dekade lalu masih terus hidup melalui perusahaan yang didirikannya.

Dari sebuah pabrik farmasi sederhana yang berdiri pada 1970, Tempo Scan Pacific kini telah menjelma menjadi konglomerasi kesehatan dan barang konsumsi dengan puluhan merek ternama serta jaringan distribusi yang menjangkau jutaan konsumen.

Kisah Kartini Muljadi membuktikan bahwa keberhasilan sebuah perusahaan tidak hanya lahir dari modal yang besar, tetapi juga dari keberanian untuk berinovasi, mengambil risiko, dan memiliki keyakinan bahwa produk buatan Indonesia mampu bersaing di pasar nasional maupun internasional.

Dari Ruang Sidang ke Ruang Direksi

Jika banyak pengusaha besar memulai karier dari dunia bisnis, kisah Kartini Muljadi justru berjalan di jalur yang berbeda. Sebelum dikenal sebagai pendiri sekaligus penggerak utama Tempo Scan Pacific, ia lebih dulu mengabdikan diri sebagai seorang penegak hukum.

Lulus dari Fakultas Hukum Universitas Indonesia, Kartini Muljadi memulai kariernya sebagai hakim di Pengadilan Negeri Istimewa Jakarta pada 1958. Di balik meja hijau, ia dikenal sebagai sosok yang menjunjung tinggi integritas dan profesionalisme. Baginya, hukum bukan sekadar aturan, melainkan fondasi keadilan yang harus dijaga.

Perjalanan hidup membawanya ke arah yang tidak pernah diduga sebelumnya. Setelah wafatnya sang suami, Djojo Muljadi, Kartini mengambil keputusan besar untuk beralih profesi menjadi notaris. Keputusan tersebut menjadi titik balik yang mengubah jalan hidupnya.

Berkat ketelitian, keberanian, dan pemahamannya yang mendalam terhadap hukum korporasi, namanya dengan cepat menjadi salah satu notaris paling disegani di Indonesia. Berbagai perusahaan multinasional hingga kelompok usaha besar mempercayakan urusan legal mereka kepada Kartini Muljadi.

Pengalaman tersebut memberinya satu pelajaran penting, bahwa perusahaan yang kuat tidak hanya dibangun oleh produk yang bagus, tetapi juga oleh tata kelola yang sehat.

Prinsip itulah yang kemudian ia terapkan saat mengembangkan Tempo Scan.

Ketika mendirikan PT Scanchemie pada 1970 dan kemudian membesarkannya menjadi PT Tempo Scan Pacific, Kartini tidak hanya fokus mengejar pertumbuhan bisnis. Ia membangun budaya perusahaan yang mengutamakan kepatuhan hukum, transparansi, dan pengelolaan risiko yang disiplin.

Strategi tersebut terbukti menjadi salah satu keunggulan kompetitif perusahaan.

Kartini Muljadi & Partners

Pada 1990, Kartini kembali memperluas kiprahnya dengan mendirikan Kartini Muljadi & Partners (KMP). Firma hukum tersebut berkembang menjadi salah satu konsultan hukum korporasi dan komersial paling bergengsi di Indonesia, menangani berbagai transaksi besar serta memberikan pendampingan hukum bagi banyak perusahaan nasional maupun internasional.

Kemampuannya di bidang hukum bahkan mendapat pengakuan negara.

Saat Indonesia menghadapi Krisis Moneter 1998, ketika banyak bank dan perusahaan besar mengalami kesulitan keuangan, Kartini dipercaya menjadi bagian dari tim penasihat hukum Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN).

Di tengah kondisi ekonomi yang penuh ketidakpastian, keahliannya membantu menyusun berbagai solusi hukum dalam proses restrukturisasi perbankan nasional.

Pada saat yang sama, Tempo Scan juga menghadapi tantangan yang tidak ringan.

Namun berbeda dengan banyak konglomerasi yang tumbang akibat beban utang dalam mata uang asing, Tempo Scan mampu bertahan.

Filosofi Bisnis Kartini

Rahasianya adalah filosofi bisnis yang selalu dipegang Kartini Muljadi, yaitu jangan tumbuh dengan utang yang tidak mampu dikendalikan.

Ia menerapkan manajemen utang yang sangat konservatif dan memastikan setiap kewajiban perusahaan dapat diselesaikan tepat waktu. Bahkan setelah krisis mereda, Tempo Scan berhasil melunasi seluruh komitmen utang luar negerinya, sebuah langkah yang semakin memperkuat reputasi perusahaan di mata investor dan mitra bisnis.

Selain disiplin dalam keuangan, Kartini juga memiliki naluri bisnis yang tajam.

Di saat banyak perusahaan berlomba menghadirkan produk premium, ia justru memilih membangun merek lokal yang dekat dengan masyarakat. Strategi tersebut melahirkan produk-produk seperti Bodrex dan Hemaviton, yang menawarkan kualitas baik dengan harga yang terjangkau.

Pendekatan sederhana itu berhasil menjadikan Tempo Scan sebagai salah satu pemimpin pasar di industri farmasi dan barang konsumsi Indonesia selama puluhan tahun.

Warisan terbesar Kartini Muljadi bukan hanya perusahaan yang bernilai triliunan rupiah, melainkan kemampuannya menyiapkan regenerasi kepemimpinan.

Ia tidak membangun bisnis yang bergantung pada satu orang. Secara bertahap, operasional perusahaan dipercayakan kepada generasi berikutnya, terutama putra bungsunya, Handojo Selamet Muljadi, sementara dirinya tetap berperan sebagai penjaga arah dan nilai-nilai perusahaan.

Strategi suksesi yang terencana membuat Tempo Scan mampu terus berkembang tanpa kehilangan identitasnya sebagai perusahaan keluarga yang dikelola secara profesional.

Melantai di Bursa: Emiten Farmasi yang Konsisten Tumbuh

Setelah berhasil membangun fondasi bisnis yang kuat selama puluhan tahun, Kartini Muljadi mengambil satu keputusan besar yang mengubah arah perjalanan perusahaan. Ia membawa Tempo Scan Pacific masuk ke pasar modal agar memiliki akses pendanaan yang lebih luas sekaligus menerapkan tata kelola perusahaan yang semakin profesional.

Momentum bersejarah itu terjadi pada 17 Juni 1994, ketika PT Tempo Scan Pacific Tbk (TSPC) resmi tercatat di Bursa Efek Jakarta, yang kini dikenal sebagai Bursa Efek Indonesia (BEI). 

Perseroan melepas 17,5 juta saham kepada publik dengan harga penawaran Rp8.250 per saham, sehingga berhasil menghimpun dana sekitar Rp144 miliar. Penjamin emisi pada saat itu adalah PT Gajah Tunggal DBS Securities. Sementara biro administrasi efek dipercayakan kepada PT Raya Saham Registra.

Langkah go public tersebut bukan sekadar mencari tambahan modal. Bagi Tempo Scan, menjadi perusahaan terbuka merupakan bentuk komitmen untuk menjalankan bisnis dengan transparansi, akuntabilitas, dan tata kelola yang baik—nilai-nilai yang sejak awal menjadi prinsip Kartini Muljadi dalam membangun perusahaan.

Lebih dari tiga dekade kemudian, TSPC masih menjadi salah satu emiten farmasi dan consumer goods yang memiliki struktur kepemilikan sangat kuat.

Komposisi Pemegang Saham

Data komposisi pemegang saham pada Mei 2026 menunjukkan bahwa sekitar 91,20 persen saham dikuasai oleh kelompok korporasi, sementara kepemilikan investor individu berada di kisaran 6,44 persen. 

Sisanya, dimiliki oleh reksa dana, dana pensiun, dan institusi investasi lainnya. Struktur tersebut mencerminkan dominasi pemegang saham pengendali sekaligus tingginya kepercayaan investor institusi terhadap prospek jangka panjang perseroan.

Keberlanjutan bisnis keluarga juga terlihat jelas dalam susunan komisaris dan direksi.

Posisi Presiden Komisaris saat ini dijabat oleh Handojo Selamet Muljadi, putra bungsu Kartini Muljadi yang melanjutkan estafet kepemimpinan keluarga. Bersama jajaran komisaris lainnya seperti Winston Kamal Muljadi, Andi Alifian Mallarangeng, Agus Sutomo, dan Kustantinah sebagai komisaris independen, mereka bertugas memastikan perusahaan tetap berjalan sesuai prinsip tata kelola yang baik.

Sementara itu, operasional perusahaan dipimpin oleh I Made Dharma Wijaya sebagai Presiden Direktur. Ia didampingi Wakil Presiden Direktur Diana Wirawan dan Liza Prasodjo, serta jajaran direksi yang menangani berbagai bidang strategis mulai dari keuangan, pemasaran, manufaktur hingga pengembangan bisnis.

Fundamental Kuat dan Dividen Royal

Di tengah persaingan industri farmasi dan consumer goods yang semakin ketat, Tempo Scan Pacific Tbk mampu menjaga profitabilitas, membagikan dividen secara konsisten, sekaligus mempertahankan kondisi keuangan yang sangat solid.

Kinerja tersebut terlihat dari laporan keuangan terbaru.

Pada kuartal pertama 2026, Tempo Scan Pacific membukukan pendapatan sebesar Rp3,41 triliun, meningkat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesar Rp3,28 triliun. Kenaikan tersebut menunjukkan bahwa permintaan terhadap produk-produk unggulan perseroan masih terjaga meskipun daya beli masyarakat belum sepenuhnya pulih.

Di sisi laba, perusahaan mencatatkan laba bersih sebesar Rp352 miliar pada kuartal I-2026. Angka ini memang sedikit lebih rendah dibandingkan Rp409 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya, namun tetap mencerminkan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan keuntungan yang stabil.

Jika dihitung secara tahunan (annualised), laba bersih Tempo Scan berada di kisaran Rp1,4 triliun, hampir tidak berubah dibandingkan realisasi tahun 2025 sebesar Rp1,407 triliun. Konsistensi tersebut menjadi salah satu alasan mengapa TSPC selama bertahun-tahun dikenal sebagai salah satu saham defensif di Bursa Efek Indonesia.

Stabilitas tersebut juga tercermin pada laba per saham atau Earnings Per Share (EPS).

EPS kuartal pertama 2026 mencapai Rp78,01 per saham, sementara EPS tahunan berada di kisaran Rp312 per saham. Artinya, meskipun kondisi ekonomi mengalami berbagai tantangan, Tempo Scan masih mampu menjaga kemampuan menghasilkan laba bagi setiap pemegang sahamnya.

Namun kekuatan terbesar TSPC tidak hanya terletak pada laba, melainkan juga pada kualitas neracanya. Rasio Current Ratio mencapai 3,33 kali, sedangkan Quick Ratio berada di level 2,53 kali. 

Angka tersebut menunjukkan bahwa aset lancar perusahaan lebih dari cukup untuk memenuhi seluruh kewajiban jangka pendeknya.

Yang lebih menarik lagi adalah struktur utangnya. Debt to Equity Ratio (DER) hanya 0,14 kali, sementara Long Term Debt to Equity bahkan hanya 0,01 kali. Dengan kata lain, Tempo Scan menjalankan bisnisnya dengan tingkat utang yang sangat rendah.

Kemampuan membayar bunga utang juga sangat kuat. Interest Coverage Ratio mencapai 25 kali, menunjukkan laba operasional perusahaan mampu menutup biaya bunga lebih dari dua puluh lima kali lipat. 

Sementara itu, Altman Z-Score berada di level 9,16, jauh di atas batas aman, yang mengindikasikan risiko kesulitan keuangan berada pada level yang sangat rendah.

Tempo Scan dikenal sebagai salah satu emiten yang sangat konsisten membagikan dividen. Sepanjang beberapa tahun terakhir, perusahaan hampir selalu membagikan dividen dua kali dalam setahun, yaitu dividen interim dan dividen final.

Untuk tahun buku 2025, total dividen yang dibagikan mencapai Rp150 per saham, terdiri dari dividen interim Rp100 per saham yang telah dibayarkan pada November 2025 dan dividen final Rp50 per saham dengan tanggal ex-dividend 17 Juni 2026 serta pembayaran pada 9 Juli 2026.

Dengan total dividen Rp150 per saham, dividend yield TSPC mencapai sekitar 6,15 persen, lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya yang berada di kisaran 5 persen.

Yang menarik, perusahaan tetap menjaga payout ratio sekitar 48 persen, artinya hanya separuh laba yang dibagikan kepada pemegang saham, sementara sisanya tetap disimpan untuk mendukung ekspansi bisnis dan menjaga kesehatan neraca.

Jika melihat sejarah pembagian dividen, konsistensi Tempo Scan juga sangat terlihat.

Sejak 2020 hingga 2025, perseroan hampir tidak pernah absen membagikan dividen kepada pemegang saham. Bahkan nominalnya cenderung meningkat secara bertahap, mulai dari Rp60 per saham pada 2020 hingga mencapai Rp150 per saham pada tahun buku 2025.

Saham TSPC Menarik Perhatian Pasar

Jika melihat dari data perdagangan beberapa hari terakhir, saham TSPC cukup menarik. Pada perdagangan 12 Juni 2026, TSPC ditutup menguat 1,67 persen ke level 2.440. 

Kenaikan tersebut memang terlihat sederhana, tetapi terjadi di tengah dominasi volume pembelian yang cukup konsisten dan aliran dana asing yang kembali berbalik positif.

Nilai transaksi mencapai Rp2,93 miliar dengan volume sekitar 12 ribu lot dan frekuensi transaksi sebanyak 204 kali. Untuk saham yang memiliki karakter defensif dan pergerakan relatif tenang seperti TSPC, aktivitas tersebut menunjukkan mulai adanya akumulasi dari pelaku pasar.

Orderbook Masih Seimbang

Jika melihat orderbook, pertarungan antara pembeli dan penjual berlangsung cukup menarik.

Di sisi bid, antrean terbesar berada pada level 2.440 dengan total sekitar 501 lot, disusul level 2.430 sebanyak 1.521 lot dan 2.420 sebanyak 1.939 lot.

Sementara itu, di sisi offer, tekanan jual juga relatif tipis. Level 2.450 menjadi antrean jual terbesar dengan sekitar 1.986 lot, kemudian diikuti level 2.460 sebanyak 520 lot dan 2.470 sekitar 1.029 lot.

Total antrean pembelian mencapai 14.921 lot, sementara antrean penjualan berada di kisaran 15.389 lot.

Menariknya lagi, area 2.440 terlihat menjadi titik pertahanan pembeli. Selama level tersebut mampu dipertahankan, peluang TSPC untuk melanjutkan penguatan secara bertahap masih cukup besar.

Broker Besar Mulai Melakukan Akumulasi

Cerita yang lebih menarik justru terlihat dari broker summary. Pada perdagangan terakhir, OCBC Sekuritas Indonesia (TP) menjadi pembeli terbesar dengan nilai transaksi sekitar Rp1,8 miliar dan rata-rata harga akumulasi di level 2.441.

Di posisi berikutnya terdapat Phiilip Sekuritas Indonesia (KK) dengan nilai pembelian sekitar Rp656 juta pada harga rata-rata 2.439. Sementara JP Morgan Sekuritas Indonesia (BK) juga melakukan akumulasi dengan nilai sekitar Rp47,9 juta pada harga rata-rata 2.441.

Sebaliknya, di sisi penjualan, broker Sinarmas Sekuritas (DH) menjadi penjual terbesar dengan nilai sekitar Rp1,1 miliar di harga rata-rata 2.431, disusul Tuntun Sekuritas Indonesia (QA) sekitar Rp490 juta dan Stockbit Sekuritas Digital (XL) sekitar Rp422 juta.

Yang menarik, rata-rata harga beli broker besar justru berada di atas rata-rata harga jual broker penjual utama. Artinya, pelaku pasar institusi masih bersedia melakukan pembelian di harga yang lebih tinggi, sebuah sinyal yang sering kali mencerminkan optimisme terhadap prospek jangka menengah.

Historical Data Menunjukkan Perubahan Sentimen

Jika melihat pergerakan dalam dua pekan terakhir, perubahan sentimen terhadap TSPC mulai terlihat semakin jelas. Pada 5 hingga 8 Juni, investor asing masih melakukan distribusi cukup besar dengan net sell mencapai Rp874,73 juta dan Rp824,67 juta.

Namun kondisi mulai berubah pada pekan berikutnya. Pada 9 Juni, asing mencatatkan net buy Rp125,53 juta, kemudian sempat kembali melakukan net sell kecil pada 10 Juni sebesar Rp178,99 juta.

Momentum positif kembali muncul pada 11 Juni ketika asing membukukan net buy Rp94,83 juta, lalu berlanjut pada 12 Juni dengan tambahan net buy Rp46,22 juta. Artinya, dalam dua hari terakhir terdapat akumulasi dana asing sekitar Rp141 juta.

Walaupun nominal tersebut belum terlalu besar, perubahan arah aliran dana ini layak diperhatikan karena sering kali menjadi sinyal awal perubahan tren pada saham-saham dengan fundamental kuat.

Harga saham juga menunjukkan pola yang menarik. Dari level 2.330 pada 8 Juni, TSPC berhasil naik bertahap menjadi 2.370, 2.380, 2.400, 2.420, hingga akhirnya ditutup di 2.440.

Kenaikan tersebut berlangsung secara perlahan tanpa lonjakan yang berlebihan, mencerminkan pola akumulasi yang lebih sehat dibandingkan reli spekulatif.(*)

Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Yunila Wati

Telah berkarier sebagai jurnalis sejak 2002 dan telah aktif menulis tentang politik, olahraga, hiburan, serta makro ekonomi. Berkarier lebih dari satu dekade di dunia jurnalistik dengan beragam media, mulai dari media umum hingga media yang mengkhususkan pada sektor perempuan, keluarga dan anak.

Saat ini, sudah lebih dari 1000 naskah ditulis mengenai saham, emiten, dan ekonomi makro lainnya.

Tercatat pula sebagai Wartawan Utama sejak 2022, melalui Uji Kompetensi Wartawan yang diinisiasi oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), dengan nomor 914-PWI/WU/DP/XII/2022/08/06/79