KABARBURSA.COM — Perekonomian Amerika Serikat (AS) yang selama ini dikenal cukup tangguh mulai menunjukkan tanda-tanda tekanan bahkan sebelum perang Iran pecah. Data terbaru yang dirilis Jumat kemarin memperlihatkan sejumlah indikator ekonomi melemah dan menambah kekhawatiran bahwa lonjakan harga energi dapat semakin membebani ekonomi terbesar dunia tersebut.
Dilansir dari AP, Sabtu, 14 Maret 2026, Departemen Perdagangan Amerika Serikat melaporkan pertumbuhan ekonomi pada tiga bulan terakhir tahun lalu hanya meningkat tipis. Lembaga tersebut bahkan memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi kuartal keempat hingga setengah dari perkiraan awal.

Kinerja konsumsi rumah tangga juga melemah. Belanja konsumen pada Januari hanya naik terbatas setelah disesuaikan dengan inflasi yang masih tinggi. Di saat yang sama, aktivitas perekrutan tenaga kerja hampir berhenti.
Survei sentimen konsumen yang dirilis pada hari yang sama juga menunjukkan kepercayaan masyarakat terhadap kondisi ekonomi menurun setelah Amerika Serikat bersama Israel melancarkan serangan terhadap Iran.
Lonjakan harga energi menjadi salah satu faktor yang memperberat tekanan terhadap rumah tangga. Harga bensin di Amerika Serikat kini mendekati USD4 per galon atau sekitar Rp67.600 per galon sejak konflik pecah.
Kenaikan harga bahan bakar tersebut menekan anggaran rumah tangga yang sebelumnya sudah tertekan oleh inflasi. Padahal sebagian warga Amerika diperkirakan akan menerima pengembalian pajak lebih besar pada Maret dan April setelah diberlakukannya pemotongan pajak oleh Presiden Donald Trump tahun lalu. Namun kenaikan harga energi berpotensi menggerus keuntungan tersebut.
Di pasar keuangan, indeks Dow Jones juga terus melemah selama tiga pekan berturut-turut. Penurunan ini berpotensi mempengaruhi rumah tangga berpendapatan tinggi yang selama ini menopang konsumsi domestik ketika kelompok berpendapatan rendah mulai menahan belanja.
Kepala ekonom KPMG Diane Swonk mengatakan tekanan inflasi sebenarnya sudah meningkat bahkan sebelum konflik Timur Tengah pecah. “Tekanan inflasi yang mendasari sebenarnya sudah meningkat sebelum perang di Timur Tengah dan kemungkinan akan semakin kuat,” ujarnya.
Ia menambahkan, sebagian pejabat Federal Reserve bahkan dapat mendorong kenaikan suku bunga pada pertemuan pekan depan meskipun bank sentral kemungkinan memilih untuk menahan kebijakan. Sementara itu suku bunga kredit perumahan di Amerika Serikat juga terus meningkat sejak konflik terjadi. Kenaikan ini dipicu kekhawatiran investor bahwa inflasi akan tetap tinggi.
Kondisi tersebut berpotensi memperburuk pasar perumahan Amerika Serikat yang sudah melemah sejak 2022 ketika suku bunga kredit mulai naik dari level rendah pada masa pandemi..Selain tekanan eksternal, perekonomian Amerika Serikat juga terdampak penutupan pemerintah selama 43 hari pada akhir tahun lalu. Departemen Perdagangan melaporkan produk domestik bruto hanya tumbuh sekitar 0,7 persen secara tahunan pada periode Oktober hingga Desember.
Angka tersebut jauh lebih rendah dibandingkan estimasi awal sebesar 1,4 persen. Pertumbuhan ekonomi juga menurun tajam dibandingkan kuartal sebelumnya yang mencapai 4,4 persen pada kuartal ketiga dan 3,8 persen pada kuartal kedua..Belanja pemerintah federal dan investasi juga anjlok hingga 16,7 persen akibat penutupan pemerintahan tersebut sehingga memangkas sekitar 1,16 poin persentase dari pertumbuhan ekonomi kuartal keempat.
Chief Investment Officer Plante Moran Financial Advisors Jim Baird mengatakan perlambatan ekonomi sebenarnya sudah diperkirakan menjelang akhir tahun. “Setelah dua kuartal yang sangat kuat pada pertengahan tahun, ekonomi memang diperkirakan melambat menjelang akhir tahun. Namun kini semakin jelas bahwa ekonomi bukan hanya melambat tetapi juga tersendat menjelang penutupan tahun,” ujarnya.
Ia menilai penutupan pemerintah menjadi faktor utama yang menggerus momentum ekonomi. Selain itu pertumbuhan konsumsi masyarakat yang menurun juga ikut memperparah kondisi tersebut. Data terpisah menunjukkan belanja konsumen pada Januari meningkat sekitar 0,4 persen. Namun setelah disesuaikan dengan inflasi kenaikannya hanya sekitar 0,1 persen.
Pendapatan rumah tangga memang naik sekitar 0,9 persen karena penurunan pemotongan pajak setelah perubahan kebijakan pajak pada 2025. Meski begitu pertumbuhan upah kini melambat dibandingkan tahun sebelumnya. Data terbaru juga menunjukkan masyarakat Amerika mulai mengurangi tabungan dan kelompok berpendapatan rendah justru menambah utang. Kondisi pasar tenaga kerja yang melemah turut menekan kepercayaan konsumen.
Laporan dari University of Michigan menunjukkan sentimen konsumen hanya turun sedikit pada Maret. Namun survei tersebut baru selesai sebagian ketika serangan terhadap Iran dimulai sehingga perubahan sikap masyarakat belum sepenuhnya tercermin. Direktur survei sentimen Joanne Hsu mengatakan hasil wawancara sebelum perang menunjukkan perbaikan sentimen konsumen dibandingkan bulan sebelumnya.
“Wawancara yang dilakukan sebelum aksi militer di Iran menunjukkan peningkatan sentimen dibanding bulan sebelumnya, tetapi hasil yang muncul selama sembilan hari setelah perang sepenuhnya menghapus perbaikan tersebut,” ujarnya.
Indikator inflasi yang dipantau ketat oleh Federal Reserve juga meningkat. Indeks tersebut naik sekitar 2,8 persen pada Januari dibandingkan tahun sebelumnya.
Para ekonom memperkirakan inflasi dapat melampaui 3,5 persen dalam beberapa bulan ke depan seiring lonjakan harga energi. Rata-rata harga bensin nasional kini mencapai sekitar USD3,63 per galon atau sekitar Rp61.300 per galon, naik dari USD2,94 per galon atau sekitar Rp49.700 per galon sebulan sebelumnya.
Secara keseluruhan perekonomian Amerika Serikat tumbuh sekitar 2,1 persen sepanjang tahun lalu. Angka tersebut masih cukup solid tetapi lebih rendah dibandingkan pertumbuhan 2,8 persen pada 2024 dan 2,9 persen pada tahun sebelumnya..Pada kuartal keempat, konsumsi rumah tangga hanya tumbuh sekitar 2 persen. Angka ini turun dari 3,5 persen pada kuartal ketiga.
Investasi bisnis di luar sektor perumahan meningkat sekitar 2,2 persen yang sebagian dipicu investasi pada teknologi kecerdasan buatan. Namun angka tersebut juga lebih rendah dibandingkan 3,2 persen pada kuartal sebelumnya. Indikator lain yang mencerminkan kekuatan dasar ekonomi Amerika Serikat hanya tumbuh sekitar 1,9 persen. Angka ini menurun dibandingkan 2,9 persen pada kuartal ketiga.
Sementara itu pasar tenaga kerja Amerika Serikat juga menunjukkan pelemahan. Pada bulan lalu perusahaan, organisasi nirlaba dan lembaga pemerintah memangkas sekitar 92 ribu pekerjaan. Sepanjang 2025, penambahan pekerjaan rata-rata bahkan kurang dari 10 ribu per bulan. Angka ini menjadi laju perekrutan terlemah di luar masa resesi sejak 2002.
Data terbaru menunjukkan jumlah lowongan kerja sempat meningkat menjadi hampir 7 juta pada Januari dari sebelumnya sekitar 6,6 juta pada Desember. Namun aktivitas perekrutan tidak banyak berubah yang menunjukkan perusahaan masih berhati-hati dalam merekrut pekerja baru.
Sebagian analis menilai kehati-hatian tersebut dipicu ketidakpastian ekonomi serta dampak perkembangan teknologi kecerdasan buatan terhadap pasar tenaga kerja. Kondisi ini berpotensi semakin memburuk jika perang terus berlanjut dan semakin menekan kepercayaan konsumen serta belanja masyarakat.
Laporan pertumbuhan ekonomi yang dirilis Jumat tersebut merupakan estimasi kedua dari tiga laporan resmi mengenai kinerja ekonomi kuartal keempat. Laporan final dijadwalkan akan dirilis pada 9 April mendatang.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.