Logo
>

Ekonomi RI Tetap Bertahan Meski Konflik Iran-AS-Israel Belum Reda

Gejolak konflik Timur Tengah tekan rupiah dan arus asing, namun fundamental ekonomi Indonesia masih relatif solid.

Ditulis oleh Moh. Alpin Pulungan
Ekonomi RI Tetap Bertahan Meski Konflik Iran-AS-Israel Belum Reda
Konflik global tekan rupiah dan arus asing, namun ekonomi Indonesia tetap stabil dengan pertumbuhan kuat dan inflasi terkendali. Foto: Dok. KabarBursa

KABARBURSA.COM — Pasar global belum benar-benar tenang sejak konflik Iran, Amerika Serikat, dan Israel meletus pada akhir Februari lalu. Harga minyak masih terjaga tinggi, pergerakan aset keuangan lebih fluktuatif, dan tekanan eksternal mulai merambat ke berbagai negara, tak terkecuali Indonesia.

Kondisi ini membawa konsekuensi berantai bagi banyak negara. Kenaikan harga energi berpotensi mendorong inflasi global. Sementara itu, jalur perdagangan ikut tertekan karena biaya impor energi meningkat, sementara distribusi barang berisiko terganggu. Di sisi lain, pasar keuangan ikut terombang-ambing, mulai dari saham, obligasi, hingga nilai tukar.

Dari sisi fiskal, tekanan juga tak terhindarkan. Kenaikan harga energi bisa memperbesar kebutuhan subsidi sekaligus memengaruhi keseimbangan anggaran negara.

Di tengah tekanan global tersebut, pemerintah menilai ekonomi domestik Indonesia masih berada dalam kondisi yang relatif kuat. Sejumlah indikator makro menunjukkan aktivitas ekonomi tetap berjalan stabil.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa sebelumnya menjelaskan bahwa dampak konflik Iran, Amerika Serikat, dan Israel dapat masuk ke dalam negeri melalui beberapa jalur utama.

Dari sisi perdagangan, kenaikan harga minyak akan meningkatkan beban impor migas dan berpotensi menekan surplus neraca perdagangan serta neraca pembayaran. Sementara dari sisi pasar keuangan, ketidakpastian global dapat memicu keluarnya aliran modal, menekan pasar saham, obligasi, dan nilai tukar rupiah, sekaligus meningkatkan biaya pendanaan.

“APBN berperan sebagai shock absorber, meski menghadapi potensi kenaikan subsidi energi dan beban bunga utang di tengah peluang windfall profit dari komoditas seperti batu bara, crude palm oil (CPO), dan nikel. Pemerintah juga terus memantau perkembangan ini secara ketat, memastikan instrumen APBN bekerja secara responsif, dan menjaga fiskal tetap pruden agar respons kebijakan tetap terukur, guna menjaga stabilitas ekonomi dan daya beli masyarakat,” kata Purbaya, dikutip dari laman Kementerian Keuangan, Ahad, 22 Maret 2026.

Pertumbuhan Ekonomi Tetap Terjaga

Kinerja ekonomi nasional menunjukkan daya tahan yang dinilai Purbaya cukup solid. Pada triwulan IV 2025, ekonomi tumbuh 5,39 persen, sementara sepanjang 2025 pertumbuhan mencapai 5,11 persen secara tahunan. Angka tersebut mencerminkan konsumsi masyarakat yang tetap kuat, investasi yang berjalan, serta sektor produksi yang stabil.

Direktur Jenderal Strategi Ekonomi Fiskal Febrio Kacaribu mengatakan momentum tersebut diperkirakan berlanjut pada awal tahun ini. “Pertumbuhan ekonomi kita harapkan akan cukup kuat di kuartal I melanjutkan momentum dari kuartal IV 2025 kemarin yang 5,39 persen. Jadi dengan 5,39 persen nanti kita harapkan ini bisa berada di 5,5 persen atau lebih di kuartal I 2026. Momentum pertumbuhan ekonomi itu juga kita harapkan terus berlanjut,” paparnya.

Ia menambahkan, pemerintah terus mempercepat realisasi belanja negara agar pertumbuhan tetap terjaga. Target pertumbuhan sebesar 5,4 persen dalam APBN dinilai masih realistis untuk dicapai.

Dari sektor industri, aktivitas manufaktur menunjukkan tren ekspansi. Indeks PMI manufaktur pada Februari 2026 berada di level 53,8, tertinggi dalam dua tahun terakhir. Angka di atas 50 menandakan sektor industri masih tumbuh dan menjadi salah satu penopang utama ekonomi.

Di sektor eksternal, kinerja perdagangan juga tetap positif. Pada Januari 2026, Indonesia mencatat surplus sebesar USD0,95 miliar atau sekitar Rp16,05 triliun. Capaian ini memperpanjang tren surplus yang telah berlangsung selama 69 bulan berturut-turut.

Kinerja tersebut menunjukkan daya saing ekspor Indonesia masih terjaga sekaligus memperkuat posisi eksternal di tengah ketidakpastian global.

Cadangan devisa juga berada pada level yang memadai. Per Februari 2026, cadangan devisa tercatat USD152 miliar atau sekitar Rp2.568 triliun. Angka ini dinilai cukup untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah serta memenuhi kebutuhan impor dan pembayaran utang luar negeri.

Di tengah tekanan global, inflasi domestik masih berada dalam batas yang terkendali. Pada Februari 2026, inflasi tercatat 4,76 persen secara tahunan.

Jika tidak memperhitungkan efek kebijakan diskon tarif listrik pada awal 2025, inflasi diperkirakan berada di kisaran 2,59 persen. Sementara inflasi inti di luar energi dan pangan tercatat sekitar 1,4 persen, menunjukkan tekanan harga dari sisi domestik relatif stabil.

Perbaikan ekonomi juga tercermin pada sektor ketenagakerjaan. Jumlah orang yang bekerja meningkat 3,3 juta pada November 2025 dibandingkan Agustus 2024.

Tingkat pengangguran menurun menjadi 4,74 persen, lebih rendah dari 4,91 persen pada Agustus 2024. Penurunan ini menunjukkan pertumbuhan ekonomi mulai memberikan dampak pada penyerapan tenaga kerja.

Di sisi lain, tingkat kemiskinan juga mengalami penurunan. Pada September 2025, angka kemiskinan tercatat 8,25 persen, turun dari 8,57 persen pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Berbagai indikator tersebut menunjukkan bahwa meski tekanan global meningkat akibat konflik geopolitik dan ketidakpastian pasar, ekonomi Indonesia masih berada dalam kondisi yang relatif stabil. Pertumbuhan yang terjaga, inflasi yang terkendali, sektor eksternal yang solid, serta perbaikan di pasar tenaga kerja menjadi fondasi penting dalam menjaga ketahanan ekonomi nasional.

Pemerintah menegaskan akan terus memantau perkembangan global secara hati-hati. Kebijakan fiskal melalui APBN diarahkan untuk menjaga stabilitas, melindungi daya beli masyarakat, dan mendukung pertumbuhan ekonomi.

“Secara keseluruhan kombinasi pendapatan negara yang tumbuh positif, belanja yang terakselerasi untuk mendorong ekonomi, serta defisit yang tetap terkendali, menunjukkan bahwa APBN terus berperan optimal sebagai instrumen stabilisasi sekaligus penggerak pertumbuhan ekonomi nasional,” kata Purbaya.

Bayang-bayang Konflik Timur Tengah Menguat

Tekanan global yang meningkat sejak konflik di Timur Tengah mulai meninggalkan jejak nyata di pasar keuangan domestik. Nilai tukar rupiah bergerak melemah secara bertahap dalam dua pekan terakhir, seiring meningkatnya ketidakpastian global dan sikap hati-hati investor terhadap aset berisiko.

Pada 27 Februari 2026, sebelum eskalasi konflik, rupiah masih berada di level Rp16.779 per dolar Amerika Serikat. Namun hanya dalam hitungan hari, tepatnya pada 2 Maret, nilainya melemah menjadi Rp16.848 per dolar Amerika. Pergerakan ini berlanjut pada pekan berikutnya, dengan rupiah sempat menyentuh Rp16.974 pada 9 Maret dan mendekati level psikologis Rp17.000 per dolar Amerika.

Meski sempat menguat tipis ke Rp16.867 pada 11 Maret, tekanan belum benar-benar mereda. Hingga pertengahan bulan, rupiah masih bergerak di kisaran Rp16.900 hingga Rp16.965 per dolar Amerika. Pelaku pasar bahkan memproyeksikan rentang pergerakan berada di antara Rp16.900 hingga Rp17.020 dalam jangka pendek.

Pergerakan ini mencerminkan kombinasi tekanan eksternal yang tidak ringan. Konflik geopolitik menjadi pemicu utama, namun bukan satu-satunya faktor. Ketidakpastian arah kebijakan global serta arus modal yang belum stabil turut memperbesar tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia.

Di balik pelemahan rupiah, terdapat dinamika arus modal asing yang belum sepenuhnya pulih. Bank Indonesia mencatat tekanan terhadap nilai tukar juga dipicu oleh keluarnya dana investor global serta kecenderungan pelaku pasar untuk menahan posisi di tengah situasi yang belum pasti.

Fenomena ini bukan sepenuhnya baru. Sepanjang 2025, investor asing tercatat menarik dana dari pasar obligasi Indonesia hingga sekitar USD6,4 miliar atau setara Rp108,16 triliun. Tren tersebut berlanjut memasuki awal 2026 dengan pola yang belum sepenuhnya pulih.

Pada Januari 2026, tekanan terlihat paling kuat. Investor asing mencatatkan jual bersih di pasar saham sekitar Rp9,88 triliun hingga Rp9,9 triliun. Pergerakan ini menandai fase distribusi besar, yang tidak hanya dipengaruhi faktor global, tetapi juga penyesuaian portofolio terkait indeks global. Tekanan tersebut terjadi setelah indeks harga saham gabungan sempat berada di level tinggi sehingga memicu aksi ambil untung sekaligus pergeseran ke aset yang dianggap lebih aman.

Memasuki Februari, arus dana mulai menunjukkan tanda stabilisasi. Investor asing sempat mencatatkan beli bersih tipis di kisaran Rp0,36 triliun hingga Rp0,4 triliun di pasar saham. Namun di sisi lain, tekanan masih terjadi di pasar obligasi, dengan jual bersih surat berharga negara mencapai Rp3,35 triliun.

Secara kumulatif, investor asing mencatatkan jual bersih di pasar saham Indonesia dengan estimasi mencapai Rp7,29 triliun selama 2026 hingga pertama Maret. Meski pada periode tertentu terlihat pergerakan yang lebih moderat, pola besar yang terbentuk menunjukkan bahwa arus modal asing masih cenderung berhati-hati.

Tren tersebut menunjukkan bahwa sikap risk off sebenarnya sudah terbentuk sebelum konflik terbaru, dan kini mendapat dorongan tambahan dari eskalasi geopolitik.(*)

Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Moh. Alpin Pulungan

Asisten Redaktur KabarBursa.com. Jurnalis yang telah berkecimpung di dunia media sejak 2020. Pengalamannya mencakup peliputan isu-isu politik di DPR RI, dinamika hukum dan kriminal di Polda Metro Jaya, hingga kebijakan ekonomi di berbagai instansi pemerintah. Pernah bekerja di sejumlah media nasional dan turut terlibat dalam liputan khusus Ada TNI di Program Makan Bergizi Gratis Prabowo Subianto di Desk Ekonomi Majalah Tempo.

Lulusan Sarjana Hukum Universitas Pamulang. Memiliki minat mendalam pada isu Energi Baru Terbarukan dan aktif dalam diskusi komunitas saham Mikirduit. Selain itu, ia juga merupakan alumni Jurnalisme Sastrawi Yayasan Pantau (2022).