KABARBURSA.COM – Lonjakan dolar Amerika Serikat (AS) dan kenaikan imbal hasil obligasi global mematahkan reli emas. Harga yang sempat terbang karena perang Iran, justru berbalik tertekan, Pasar mulai percaya suku bunga tinggi akan bertahan lebih lama.
Pada perdagangan Jumat waktu setempat, harga emas spot jatuh sekitar 2 persen ke USD4.557,61 per ons. Koreksi ini sekaligus menjadi level terendah dalam lebih dari sepekan terakhir. Dalam sepekan, harga emas sudah terkoreksi sekitar 2,5 persen, sementara kontrak berjangka emas AS ditutup melemah 2,7 persen di USD4.561,90 per ons.
Tekanan terbesar datang dari penguatan dolar AS dan lonjakan yield obligasi pemerintah Amerika Serikat tenor 10 tahun yang naik mendekati level tertinggi dalam hampir satu tahun terakhir. Kondisi ini membuat emas kehilangan daya Tarik, karena investor mulai beralih ke aset berbunga yang menawarkan imbal hasil lebih tinggi.
Di saat bersamaan, perang Iran justru menciptakan paradoks baru bagi pasar emas. Harga minyak yang melonjak lebih dari 40 persen sejak konflik pecah akhir Februari, memicu kekhawatiran inflasi global semakin panas.
Ketika inflasi naik, bank sentral cenderung mempertahankan bahkan menaikkan suku bunga, dan situasi itu biasanya menjadi kabar buruk bagi emas yang tidak memberikan imbal hasil.
Pasar kini mulai menghapus ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed tahun ini. Bahkan, peluang kenaikan suku bunga mulai kembali diperhitungkan investor. Kombinasi tersebut membuat reli emas yang sebelumnya ditopang ketegangan geopolitik perlahan kehilangan tenaga.
Pasar Emas India Loyo, Emas Terdiskon USD207 per Ons
Namun cerita menarik justru datang dari Asia. Saat emas global mulai tersandung, pasar Asia bergerak dalam dua arah berbeda.
India yang selama ini menjadi salah satu konsumen emas terbesar dunia mendadak mengalami perlambatan tajam. Permintaan ritel melemah drastis setelah pemerintah India secara tiba-tiba menaikkan bea impor emas dan perak menjadi 15 persen dari sebelumnya 6 persen.
Kenaikan tarif tersebut langsung membuat pasar fisik India nyaris membeku. Diskon harga emas di India bahkan melonjak ke level tidak biasa hingga USD207 per ons dibanding harga domestik resmi. Padahal pekan sebelumnya pasar masih bergerak normal dengan diskon sekitar USD15 per ons dan premium tipis.
Lonjakan harga membuat investor memilih menjual emas mereka, sementara pembeli ritel dan toko perhiasan mulai menahan transaksi. Harga emas domestik India sempat melonjak ke 164.497 rupee per 10 gram sebelum akhirnya turun ke area 160.500 rupee.
Pasar juga dibanjiri pasokan emas bekas atau scrap ketika masyarakat memanfaatkan kenaikan harga untuk melepas simpanan lama mereka. Situasi tersebut membuat permintaan fisik India praktis menghilang dalam waktu singkat.
Di sisi lain, China justru masih menjadi penopang utama pasar emas Asia. Premium emas di Negeri Tirai Bambu tetap stabil di kisaran USD15 hingga USD20 per ons di atas harga global, menunjukkan permintaan domestik masih cukup kuat.
Pasar China Semakin Agresif
Yang menarik, permintaan di China bukan hanya datang dari investor ritel yang mencari aset lindung nilai, tetapi juga dari sektor industri. Perusahaan panel surya dan elektronik disebut mulai agresif melakukan penimbunan emas untuk kebutuhan produksi.
Pasar China juga masih dibayangi pembatasan impor emas yang membuat pasokan domestik ketat. Meski demikian, pelaku pasar mulai berharap pemerintah China akan melonggarkan aturan impor dalam waktu dekat untuk menjaga keseimbangan pasar.
Perbedaan arah India dan China membuat peta emas Asia berubah cukup drastis. Jika sebelumnya India menjadi motor utama permintaan fisik global, kini China perlahan mengambil alih posisi tersebut di tengah gejolak geopolitik dan perubahan kebijakan perdagangan.
Sementara itu, tekanan juga menjalar ke logam mulia lain. Harga perak anjlok sekitar 7,7 persen ke USD77,07 per ons dan mencatat penurunan harian terburuk sejak awal Maret. Platinum turun 3,6 persen, sedangkan palladium melemah 1,5 persen.
Pasar kini mulai memasuki fase baru. Ketika perang mendorong inflasi dan dolar terus menguat, emas tidak lagi otomatis menjadi tempat paling aman untuk berlindung. Investor mulai lebih sensitif terhadap arah suku bunga global dibanding sekadar ketegangan geopolitik.(*)