Logo
>

Emas Kembali Tersungkur Lebih Dua Persen, ini Penyebabnya

Harga emas turun tajam setelah dolar menguat dan ekspektasi suku bunga bertahan tinggi, dipicu eskalasi konflik Iran yang kembali menekan sentimen pasar.

Ditulis oleh Yunila Wati
Emas Kembali Tersungkur Lebih Dua Persen, ini Penyebabnya
Harga emas dunia lagi-lagi tersungkur sangat dalam setelah beberapa hari sebelumnya menguat. (Foto: dok KabarBursa)

KABARBURSA.COM – Pergerakan harga emas pada akhir sesi perdagangan Kamis, 2 April 2026, memperlihatkan perubahan arah yang cukup tajam, seiring bergesernya preferensi investor dari logam mulia ke dolar AS di tengah eskalasi baru konflik Timur Tengah. 

Setelah sempat mencatat reli selama beberapa hari, emas justru terkoreksi dalam ketika pasar mulai menyesuaikan kembali ekspektasi terhadap risiko global dan arah kebijakan suku bunga.

Tekanan terhadap emas muncul hampir seketika setelah pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menegaskan rencana serangan lanjutan terhadap Iran dalam dua hingga tiga minggu ke depan. 

Pernyataan tersebut mengubah lanskap sentimen yang sebelumnya sempat mengarah pada deeskalasi, menjadi kembali defensif dalam waktu singkat. Harapan pasar terhadap meredanya konflik pun memudar, digantikan oleh ketidakpastian yang lebih tinggi.

Reaksi pasar terlihat berlapis. Di satu sisi, harga minyak melonjak tajam sebagai respons langsung terhadap potensi gangguan pasokan global. Namun di sisi lain, lonjakan tersebut justru mendorong penguatan dolar AS dan mengangkat ekspektasi bahwa suku bunga akan bertahan lebih tinggi dalam waktu lebih lama. 

Kombinasi ini menjadi faktor utama yang menekan harga emas.

Secara fundamental, hubungan ini berjalan cukup jelas. Ketika dolar menguat, emas menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lain, sehingga permintaan cenderung melemah. 

Pada saat yang sama, ekspektasi suku bunga tinggi meningkatkan opportunity cost memegang emas yang tidak memberikan imbal hasil. Dalam kondisi seperti ini, arus dana cenderung berpindah dari emas ke instrumen berbasis dolar.

Harga spot emas tercatat turun sekitar 2 persen ke kisaran USD4.665 per ons, sementara kontrak berjangka emas AS melemah lebih dalam hingga 2,5 persen. 

Penurunan ini sekaligus mengakhiri tren penguatan yang sempat terbentuk dalam beberapa hari sebelumnya, sekaligus menunjukkan bahwa reli emas masih sangat sensitif terhadap perubahan sentimen global.

Padahal, sebelum pernyataan Trump, emas sempat menarik kembali minat investor setelah mengalami tekanan sepanjang Maret, yang menjadi periode terburuk sejak 2008. Aliran dana yang kembali masuk ke emas saat itu mencerminkan upaya diversifikasi portofolio di tengah ketidakpastian pasar. Namun momentum tersebut tidak bertahan lama.

Komentar analis Interactive Brokers José Torres menegaskan bahwa pasar sebenarnya menunggu kejelasan arah konflik, bukan sekadar eskalasi baru. Ketika pidato Trump tidak memberikan gambaran solusi atau jalur penyelesaian, investor justru meningkatkan kewaspadaan dan memilih aset yang lebih likuid, terutama dolar.

UBS Prediksi Pergerakan Harga Emas

Di tengah tekanan jangka pendek ini, pandangan jangka menengah terhadap emas belum sepenuhnya berubah. UBS melihat bahwa pergerakan harga emas dalam beberapa pekan ke depan masih akan cenderung fluktuatif, seiring pasar terus menyesuaikan risiko geopolitik yang bergerak cepat. 

Bank tersebut memangkas proyeksi rata-rata harga emas tahun ini menjadi USD5.000 per ons dari sebelumnya USD5.200. Namun, tetap mempertahankan target akhir tahun di USD5.600.

Proyeksi tersebut menunjukkan bahwa emas masih dipandang sebagai instrumen lindung nilai dalam jangka lebih panjang. Kekhawatiran terhadap kombinasi pertumbuhan ekonomi dan inflasi, serta ketegangan geopolitik yang belum terselesaikan, tetap menjadi faktor yang menopang permintaan terhadap logam mulia ini.

Perak Turun, Platinum Naik Tipis

Pergerakan logam mulia lainnya juga mencerminkan tekanan yang serupa. Harga perak turun lebih dalam dibanding emas, sementara platinum justru mencatat kenaikan tipis. 

Divergensi ini menunjukkan bahwa masing-masing logam merespons kombinasi faktor industri dan investasi secara berbeda di tengah kondisi pasar yang tidak stabil.

Sementara itu, perhatian pasar juga mulai melebar ke logam dasar setelah pemerintah AS memperketat aturan tarif terhadap impor baja, aluminium, dan tembaga. Kebijakan ini memicu kenaikan harga aluminium hingga mendekati level tertinggi dalam empat tahun terakhir, sementara harga tembaga di London masih mencatat penguatan.

Dalam keseluruhan pergerakan ini, emas berada di persimpangan antara dua kekuatan besar. Di satu sisi, ketidakpastian geopolitik dan risiko inflasi masih menjadi faktor pendukung. Namun di sisi lain, penguatan dolar dan ekspektasi suku bunga tinggi menciptakan tekanan yang tidak bisa diabaikan. 

Selama kedua faktor ini terus bergerak berlawanan, pergerakan emas cenderung akan tetap volatil, mengikuti arah sentimen global yang berubah cepat dari satu sesi ke sesi berikutnya.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Yunila Wati

Telah berkarier sebagai jurnalis sejak 2002 dan telah aktif menulis tentang politik, olahraga, hiburan, serta makro ekonomi. Berkarier lebih dari satu dekade di dunia jurnalistik dengan beragam media, mulai dari media umum hingga media yang mengkhususkan pada sektor perempuan, keluarga dan anak.

Saat ini, sudah lebih dari 1000 naskah ditulis mengenai saham, emiten, dan ekonomi makro lainnya.

Tercatat pula sebagai Wartawan Utama sejak 2022, melalui Uji Kompetensi Wartawan yang diinisiasi oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), dengan nomor 914-PWI/WU/DP/XII/2022/08/06/79